by ifid|| 04 November 2024 || || 301 kali
Dunia adalah tempat deretan peristiwa terjadi, dengan narasi waktu yang menjadi suatu penanda atau identitas dan dibentuk oleh sebuah paradoks sejarah yang direproduksi terus-menerus. Kita terdampar pada pertanyaan tentang berbagai hal: masa depan, makna hidup, perjuangan, keterpurukan yang masih berlanjut, hingga tentang sejarah yang tidak sedang baik-baik saja. Berbagai teori dan praktik berusaha membangun jembatan bagi jutaan potongan ingatan, fakta, dan spekulasi yang tercecer dalam sejarah dari berbagai rentang waktu. Kemunculan berbagai pergerakan juga tidak mungkin tanpa kritik, seperti halnya sinema ketiga yang muncul sebagai kritik itu sendiri terhadap sinema pertama dan kedua pada zamannya. Sementara pada perkembangannya, ia juga memberi kemungkinan munculnya istilah sinema keempat dan seterusnya dengan berbagai konstruksi ilusinya dalam merespon narasi waktu.
Sederhananya, bagaimana manusia menjalani waktu dan menghidupi kehidupan mereka, selain menjadi kritik dalam narasi waktu, juga menjadi frasa kuat dalam film-film yang telah menghidupi berbagai program di FFD 2024 tentang kemewaktuan. Berbagai film mencoba keluar dari celah ketegangan atas bentuk serta pembacaan yang kerap menyoal “kesetiaan” dalam kekaryaan, kesetiaan yang sering membuat kita terkurung. Nyatanya, film telah melampaui narasinya sebagai bahasa sinema yang ada hari ini, lewat berbagai perkembangan teknologi sebagai mediumnya dan estetika sebagai alat yang bekerja pada medium itu sendiri. Meski begitu, film juga telah menghadirkan berbagai mekanisme interaksi simbiosis dalam ruang liminalnya.
Setiap karya membuka jendela baru dalam spektrum dan tema yang beragam. Tanpa aksesori kata dalam pendekatan gambar bergerak, membawa film melampaui medium, wilayah, bentuk, dan ruang-ruang yang mengujinya. Ia berjalan di antara hiruk pikuk definisi gambar bergerak yang mempertanyakan motif dan makna, fiksi dan nonfiksi, realitas dan surreal. Kekaburan tersebut memberi celah terhadap eksplorasi medium, dan kesempatan untuk mengamati benturan teks-teks sejarah dengan masa kini.
Celah ini membawa kita pada perenungan panjang atas bagaimana tugas seniman dan sinema berpadu, saling menawarkan kesegaran telusur tutur dan cara pandang pada penonton. Hal ini juga membuka ruang imajinasi untuk mengisi kekosongan pergerakan berbagai spektrum dalam definisi sinema, di pikiran kita sendiri. Sebagai upaya menghadirkan kesadaran resiprokal tentang kehadiran penonton dan gambar bergerak, dengan benturan di antara yang tampak dan tidak, di antara teks dan gambar, pengalaman ini membawa kita berada di ruang liminal yang memberi kita ketaksaan dalam memaknai ekshibisi mini di FFD 2024.
Sebagai bagian dari rangkaian acara pembukaan, Festival Film Dokumenter 2024 menyediakan program pameran dengan judul Ketaksaan yang digelar di Ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta. Pameran tersebut mempersembahkan tiga karya film dan sebuah karya instalasi yang menghadirkan sebuah pengalaman untuk pengunjung dalam merespon film-film dan instalasi yang multi-interpretasi.
Saat masuk ke Ruang Pamer, pengunjung akan langsung menemui karya sineas Thailand Komtouch Napattaloong dan Dano Napattalong dengan tajuk No Exorcism Film (2024), sebuah film yang menawarkan sajian audio visual yang sensorik dan membahas eksplorasi sejarah dan rekaman-rekaman yang mengarsipkan iklim kehidupan sosial-politik Thailand. Kemudian, di tengah ruangan pengunjung disuguhi Ghost Light (2021) karya Timoteus Anggawan Kusno yang menawarkan eksplorasi imersif efek-efek suara organik yang digabungkan dengan artikulasi koreografi dalam merespon audio. Film ketiga, Surrounding Silences (2024) oleh Sabine Groenewegen menciptakan pemaknaan kontra-naratif dalam memanfaatkan arsip-arsip film propaganda milik pemerintah kolonial Belanda. Karya terakhir yang menjadi wajah Festival Film Dokumenter kali ini adalah koleksi jepretan artistik dari karnaval sekaten yang diabadikan oleh Kurniadi Widodo melalui rangkaian koleksi instalasi fotografi berjudul A Leap in Time, Stillness Whispers.
Melalui tahapan mise-en-scene performatif, upaya memfiksikan suasana auditif melalui produksi suara yang dikoreografikan, kita dibawa pada eksplorasi dua aktor yang menampilkan repertoar, membangun dan membongkar gagasan tentang monumen, hantu dan ketiadaan, dalam interaksi dibawah pancaran cahaya temaram Ghost Light. Kehadiran dua kamera mampu menangkap gestur dan ekspresi secara detail, juga berbagai hal “simbolik” pada pedestal sebagai upaya menghadirkan yang tidak hadir. Menyelami hiruk pikuk hitam putih A Leap in Time, Stillness Whispers sebagai salah satu dari realisme fotografis pada semesta sinema, kita diajak untuk bisa menembus batas material kamera sebagai alat yang mampu menggerakkan ingatan atas ruang dan waktu.
Sinema terdiri dari fragmen-fragmen dan kumpulan elemen yang pada kenyataannya berbeda. Pemaknaan gambar dalam film maupun kombinasi bahan baku dari film propaganda kolonial pada Surrounding Silences, merupakan elemen prefabrikasi yang dapat dibongkar dan dipasang kembali oleh seniman ke dalam penjajaran baru. Sementara itu, pengalaman auditif bergerak melalui inkarnasi yang berbeda, seperti entitas dari kosmologi Buddha dalam No Exorcism Film, membawa kita pada korespondensi suara-suara yang menyatu dengan gambar pembangunan perkotaan Thailand yang agresif, ketakutan pribadi (dan historis), dan juga harapan-harapan antargenerasi.
Fragmen-fragmen dalam empat karya ini memberi implikasi bahwa penonton membawa reaksi emosional mereka sendiri–terhadap rangkaian gambar yang menjadi dasar sinema sebagai bentuk seni yang bertumbuh dan menginterpretasikan secara harfiah dari frasa “membuat film”.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...