Tahlil Hadiningrat, Pentas Seni hingga Pagelaran Wayang Kulit, Wujud Masyarakat menjaga Keharmonisan Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo

by ifid|| 29 Januari 2025 || || 51 kali

...

Di ujung bulan Januari 2025, Tradisi Labuhan Keraton Ngayogyakarta kembali digelar dengan penuh khidmat dan kemeriahan. Kegiatan tahunan ini bukan sekadar ritual keagamaan dan adat, tetapi juga menjadi bagi rasa syukur serta nguri-nguri kabudayaan dengan  menampilkan berbagai kesenian Jawa Mataram. Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar  Doa Bersama dan Tahlil Hadiningrat Pentas Seni dan Pagelaran Wayang Kulit, untuk memohon kelancaran dan keselamatan dalam melaksanakan Rangkaian Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu malam (29/1), di Pendopo Cepuri Parangkusumo.

Kepala Bidang  Pembinaan dan Pengembangan Adat Tradisi dan Seni Padmono Anggara,S.Sn, yang hadir menyampaikan sambutan kepala Dinas Kebudayaan DIY,  Labuhan di Cepuri Parangkusumo merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan secara terus menerus untuk mewujudkan Manunggaling Kawula lan Gusti dan menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta melestarikan adat budaya tradisi yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, warga Padukuhan Mancingan Parangtritis merasa “handarbeni’ atau memiliki acara Hajad Dalem Labuhan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dapat diwujudkan dengan partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda. 

 

“Labuhan di Cepuri Parangkusumo merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan secara terus menerus untuk mewujudkan Manunggaling Kawula lan Gusti dan menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta melestarikan adat budaya tradisi yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, warga Padukuhan Mancingan Parangtritis merasa “handarbeni’ atau memiliki acara Hajad Dalem Labuhan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dapat diwujudkan dengan partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda” ucapnya

Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul bermakna bagaimana menjaga keserasian, keselarasan, serta keseimbangan alam. Selain itu, labuhan yang selalu diselenggarakan setiap tanggal 30 Rajab tahun jawa ini juga merupakan rangkaian dari Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan penobatan Sultan. 

Tradisi labuhan alit di Pantai Parangkusumo diawali dengan penyerahan ubarampe di pendopo Kapanewon Kretek. Ubarampe yang dibawa terdiri dari pangajeng, pendherek, serta lorodan ageman dalem. Diantara ubarampe tersebut, terdapat rikma dan kenaka atau potongan rambut serta kuku Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Kundha Kabudayan DIY mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan Labuhan Parangkusumo  ini. Semoga kerjasama kita semua dapat berkelanjutan untuk  mewujudkan kegiatan Tradisi Upacara Adat Labuhan Parangkusumo ini,  pungkas Anggoro. 

 

Doa Bersama dan Tahlil Hadiningrat Pentas Seni dan Pagelaran Wayang Kulit ini dimulai dengan prosesi kirab budaya, yang menjadi simbol penghormatan dan rasa syukur kepada alam serta leluhur. Kanca Abdi Dalem turut serta dalam proses ini, memperkuat nuansa sakral dan penuh makna dalam tradisi Labuhan Keraton. Setelah kirab, acara dilanjutkan dengan kesenian, dimana berbagai kelompok seni dari kalangan anak-anak dan pemuda turut berpartisipasi. Beberapa pertunjukan yang ditampilkan antara lain : Tari Ampar-Ampar Pisang dari KB Kuncup Melati, Tari Midat Midut dari TK Negeri 1 Kretek, Tari Rampak Gedruk dari SD Negeri 2 Parangtritis, Kesenian Gembyak dari Pemuda Kalurahan Parangtritis, dan Wayang Kulit semalam suntuk  oleh dalang Parang Pertomo. 

Pagelaran wayang kulit lakon "Semar Bangun Kayangan" oleh Dalang Parang Pertomo dengan Lakon "Semar Bangun Kayangan" menceritakan perjalanan Semar dalam membangun kayangan, bukan dalam arti fisik, melainkan sebagai simbol tempat suci yang dihuni oleh orang- orang berbudi luhur dan penuh kebijaksanaan. Namun, niat baik Semar justru disalahpahami oleh Batara Kresna dan Arjuna, yang menganggap kayangan sebagai istana fisik.

Menurut Dalang Suraji atau Parang Pertomo, kisah ini memiliki pesan mendalam tentang kepemimpinan dan kesejahteraan rakyat. “Kayangan” yang ingin dibangun Semar adalah sebuah tatanan kehidupan yang baik, di mana pemimpin dan rakyat hidup selaras dalam konsep Manunggaling Kawula Gusti. Kesalahpahaman yang terjadi dalam cerita ini mencerminkan pentingnya komunikasi dan pemahaman dalam pemerintahan, agar kebijakan yang diambil tidak merugikan rakyat.

"Kita bisa melihat relevansi lakon ini dalam kehidupan saat ini. Pemimpin harus memahami kebutuhan rakyat dan tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Jika pemimpin salah dalam menafsirkan kebutuhan rakyat, maka akan terjadi ketimpangan dan perpecahan," ujar Parang Pertomo.

Sebelumnya ada yang sebuah pertunjukan musik tradisional dari kelompok gamelan Moji. Kelompok gamelan Moji(Limo dadi Siji) yang terdiri pemuda Kalurahan Parangtritis. Mereka membawakan komposisi "Gembyak", sebuah bentuk kendangan gebyakan atau tayuban yang dikemas dalam konsep musikalisasi drama. Farel Idam Zolid, salah satu anggota kelompok Moji, menjelaskan bahwa penampilan mereka bertujuan untuk memberikan nuansa kegembiraan. "Tayuban biasanya digunakan untuk mengiringi tarian, tetapi kali ini kami menginterpretasikannya dalam bentuk musik yang lebih ekspresif, sehingga penonton bisa merasakan energi positif yang kami bawakan," ujarnya.

Bagas, yang memainkan gender sekaligus menjadi vokalis, menambahkan bahwa acara ini memberikan kesempatan besar bagi mereka untuk tampil di panggung yang bergengsi. "Kami merasa bangga bisa tampil di acara sebesar ini. Selain melatih mental, ini juga menjadi momen bagi kami untuk lebih mencintai budaya sendiri," katanya.

Sementara itu, Aji, yang memegang kendang dan mengatur aba-aba, menyoroti pentingnya generasi muda untuk terus melestarikan musik tradisional. "Kita tidak boleh malu dengan budaya sendiri. Justru kita harus bangga dan terus mengembangkan seni tradisional agar tetap hidup di tengah modernisasi," ucapnya.

Evan Dimas, pemain slenthem dan vokal, berharap agar generasi muda tidak lagi menganggap gamelan sebagai sesuatu yang kuno. "Gamelan itu bisa diolah menjadi musik yang lebih modern tanpa kehilangan esensinya. Kami ingin membuktikan bahwa musik tradisional tetap bisa bersaing dan relevan di era sekarang," katanya.

Labuhan Keraton Ngayogyakarta bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga merupakan wujud nyata dari upaya pelestarian budaya adiluhung yang telah diwariskan turun-temurun. Acara ini menjadi simbol bagaimana budaya tradisional tetap hidup dan berkembang di tengah zaman yang terus berubah.

Dalang Parang Pertomo menegaskan bahwa kesenian seperti wayang kulit harus terus dipertahankan karena mengandung nilai-nilai moral yang sangat relevan bagi kehidupan saat ini. "Wayang kulit bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan yang mengajarkan banyak hal, mulai dari kepemimpinan, etika, hingga spiritualitas," katanya.

 

Kelompok gamelan Moji juga berharap agar semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk mendalami seni tradisional. "Kami ingin membuktikan bahwa gamelan tidak ketinggalan zaman. Dengan sedikit inovasi, gamelan bisa tetap relevan dan menarik bagi anak muda," ujar Aji.

Secara keseluruhan, Labuhan Keraton Ngayogyakarta 2025 menjadi bukti bahwa budaya Jawa masih tetap hidup dan berkembang. Dari pagelaran wayang kulit yang penuh makna hingga pertunjukan musik gamelan yang inovatif, acara ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, untuk terus melestarikan warisan budaya yang menjadi jati diri bangsa.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2025

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta