by ifid|| 05 Februari 2025 || || 66 kali
Pembekalan Pendamping dan Pengelola Kalurahan/Kelurahan Budaya Tahun 2025 merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran Kalurahan Budaya sebagai ujung tombak pelestarian warisan budaya bangsa. Di tengah maraknya pengaruh budaya asing, kita membutuhkan komitmen dan sinergi dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar potensi budaya lokal tetap lestari dan berkembang. Sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam pengelolaan Kalurahan Budaya, diperlukan tenaga pendamping budaya yang kompeten. Dinas Kebudayaan ( Kundha Kabudayan) DIY, melaksakan kegiatan Pembekalan Pendamping dan Pengelola Kalurahan/Kelurahan Budaya Tahun 2025, pada hari Selasa (4/2), Di Hotel The Rich. “Kehadiran pendamping ini diharapkan mampu menjaga serta mengembangkan potensi budaya di setiap Kalurahan, sehingga tidak hanya berkontribusi dalam pelestarian budaya, tetapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, hal ini disampaikan Agus Suwarto, S.Sos., selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Budaya.
"Kegiatan ini bukan hanya sekadar pembekalan, tetapi juga sebagai momentum penting untuk memastikan bahwa para pendamping budaya siap menjalankan tugasnya dengan optimal. Dengan adanya pendamping yang kompeten, kita berharap potensi budaya yang ada di setiap Kalurahan/Kelurahan dapat terpelihara, berkembang, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain itu, pembekalan ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman bersama tentang strategi pengelolaan budaya agar lebih efektif dan berkelanjutan," ungkap Agus Suwarto.
Agus menekankan bahwa pembekalan ini merupakan langkah awal sebelum para pendamping mendapatkan Surat Keputusan (SK) penempatan di masing-masing wilayah. Sebanyak 152 pendamping budaya akan ditempatkan di berbagai Kalurahan Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, kesiapan dan pemahaman yang matang sangat diperlukan agar program pendampingan dapat berjalan sesuai harapan.
Pembekalan Pendamping dan Pengelola Kalurahan/Kelurahan Budaya Tahun 2025 bertujuan, Memberikan penguatan bagi pendamping budaya dan pengelola Kalurahan Budaya agar mampu menjalankan tugasnya dengan optima, menyediakan ruang diskusi dan koordinasi bagi pendamping dan pengelola untuk menyusun strategi pengelolaan budaya yang lebih efektif, serta menyusun program kerja yang sistematis guna mendukung pengelolaan Kalurahan Budaya secara berkelanjutan.
Pembekalan Pendamping dan Pengelola Kalurahan/Kelurahan Budaya Tahun 2025 Dinas Kebudayaan DIY menghadirkan enam narasumber yaitu Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., Ir. Suyata, Anton Prihartono, Drs. Gandung Djatmiko, M. Pd. Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum. dan Dra. Daruni, M.Hum., keenam Narasumber ini berasal dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, praktisi, tim asesor, dan Dewan Kebudayaan dan membagikan wawasan terkait strategi pemberdayaan, pengelolaan budaya, serta identifikasi potensi lokal.
Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., dengan tema “Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan dalam Pengembangan Budaya” Rustamadji menyampaikan berbagai konsep pemberdayaan yang dapat dilakukan di desa yaitu enabling, empowering dan kemandirian, selain itu Rustamadji juga menekankan tahapan dalam pemberdayaan meliputi penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri, transformasi kemampuan wawasan pengetahuan, kecakapan-keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran dalam pembangunan, dan peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan-keterampilan sehingga terbentuknya inisiatif inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian
sementara itu Ir. Suyata yang menyampaikan Strategi Penyusunan dan Pengelolaan Program Kalurahan Budaya meliputi Aktualisasi Potensi Budaya melalui Pemeliharaan objek kebudayaan belum dikelola sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan (inventarisasi, dokumentasi, literasi, legalitas), Potensi sumber daya manusia pelaku objek kebudayaan belum ditingkatkan kualitas dan kompetensi (Lembaga budaya, pranata kebudayaan dan masyarakat pelaku), Potensi sumberdaya masyarakat belum dimanfaatkan untuk pengembangan potensi kebudayaan, Objek kebudayaan masih banyak yang belum diintegrasikan dengan sektor lainnya. selain itu Pengembangan /ekspresi meliputi Output Ekspresi masih bersifat event local belum sampai outcome yang memberikan nilai ekonomi Budaya berkelanjutan, Kalurahan/Kelurahan Budaya Belum menunjukkan tujuan ditetapkan sebagai Kel/Kal Budaya (pendamping dan pengelola/pengurus kal/kel Budaya harus melakukan perubahan dengan paradigma baru pelestarian ), Terjadi penurunan klasifikasi cukup tajam dan stagnan, dan pengembangan belum fokus pada ciri khas Budaya desa pada masing masing Kalurahan sehingga menjadi icon Kalurahan (tentukan iconic/branding) kalurahan sedangkan untuk Pemanfaatan/Konservasi meliputi Potensi objek kebudayaan masih berkutat pada tempatnya, belum banyak inovasi yang muda yang berkreasi. Objek kebudayaan belum menjadi potensi wisata (quality tourism and sustainable tourism), preneur /industri kreatif dan prima/ pemberdayaan Budaya gender. Belum adanya Kerjasama antar sector yang harmonis dan berkelanjutan justru terjadi pengalihan dari Budaya pada sector lain yang memberikan pendanaan.Pembangunan jejaring dan diplomasi Budaya masih belum menjadi sasaran.
Anton W Prihartono, seorang Jurnalis Media, membagikan pengalamannya dibidang Jurnalistik, dengan tema “Membangun Komunikasi dan Kolaborasi” dalam membangan komunikasi efektif akan terjadi bilamana sebuah pesan disampaikan bisa diterima dengan baik oleh penerima pesan (Pembawa pesan dan penerima pesan memiliki pengertian yang sama atas pesan itu). Komunikasi kolaboratif dilakukan dengan memanfaatkan chanel-chanel yang ada baik media sosial official maupun berkolaborasi media massa/pers.
Anton juga menekankan peran pendamping budaya dalam membangun komunikasi yaitu dengan media internal IG, Facebook, tiktok, website. Pendamping Budaya bisa bersinergi dengan media massa untuk mengenalkan potensi budaya yang ada di kelurahan/kalurahan, dengan berbagai keunikan budaya baik berupa adat istiadat (ritual, upacara adat), kesenian, tradisi leluhur.
Dosen sekaligus pelaku seni Tari, Dra. Daruni, M.Hum., meyampaikan “Membumikan Budaya di Kalurahan Budaya”dengan beberapa sudut pandang yaitu Memahami budaya desa sebagai sistem sosial yang berbasis pada nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi di masyarakat desa, Strategi konservasi adat istiadat, bahasa, sastra, dan arsitektur tradisional, dan Membangun identitas budaya yang kuat dan berkelanjutan.
Sedangakan Dokter Jathilan Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., yang berbicara tentang Identifikasi Potensi Lokal dalam Pengembangan Kalurahan Budaya menekankan bahwa potensi lokal berbasis sejarah dan legenda masyarakat itu sangat penting, Pemanfaatan budaya sebagai daya tarik wisata dan ekonomi kreatif, dan Penyusunan strategi integrasi budaya dengan sektor lain seperti UMKM dan pariwisata.
Dari kegiatan ini, diharapkan tersusun program kerja yang dapat dijadikan acuan dalam pendampingan dan pengelolaan Kalurahan Budaya. Dengan adanya kesamaan visi dan pemahaman di antara pendamping, pengelola, serta tim monitoring, pengelolaan budaya di tingkat kalurahan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...