by admin|| 23 Februari 2017 || 11.725 kali
YOGYA (Radar Jogja) - Kata “babon” dalam istilah bahasa Jawa identik dengan ayam betina, yang setiap hari sibuk mencari makan untuk anak-anaknya. Begitu pula 13 perupa perempuan dalam pameran “Bumbon #2 Babon”. Di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga mereka tetap masih bisa berkarya.
VITA WAHYU HARYANTI, Bantul.
BERAWAL dari kesamaan peran sebagai perempuan yang menggeluti seni rupa, Agustina Tri Wahyuningsih, Caroline Rika Winata, Trien Afriza, Theresia Agustina Sitompul, dan Wahyu Wiedyardini menggelar pameran seni rupa bertajuk “Bumbon” pada 2016. Mereka sengaja menamakan “Bumbon” yang artinya bumbu dapur. Menggambarkan jati diri mereka sebagai ibu rumah tangga yang setiap hari harus melayani anak dan suami. Setidaknya untuk memasak makanan sehari-hari.
Kendati demikian, tak sedikit perempuan yang turut sibuk membantu suami dalam mencari nafkah keluarga. Mereka harus pandai mengatur waktu, untuk kepentingan bisnis maupun karier, dan tentu saja keluarga.
Sukses pameran pertama, kelima perempuan itu kemudian mengajak delapan perupa lain. Mereka adalah Ayu Arista Murti, Dona Prawita Arissuta, G. Prima Puspita Sari, Maria Indriasari, Nadiyah Tunnikmah, Roeayyah Diana, Sari Handayani, dan Utin Rini. Lahirnya “Bumbon #2”.
Kelima perupa tersebut mempunyai kecenderungan visual karya yang berbeda baik pada bentuk, material, teknik, dan gaya. Meliputi karya seni lukis, serat, grafis, dan keramik. Kelimanya saling melengkapi sebagaimana halnya bumbon pelengkap aneka menu hidangan makan.
Sebagaimana karya mereka, pameran tersebut menghadirkan kehidupan “babon-babon” dalam keseharian.
“Masakan yang lezat selalu ada aneka macam bumbu di dalamnya. Begitu juga kami dengan latar belakang jenis seni yang berbeda. Kami bisa bersatu menghasilkan karya yang mengesankan penikmatnya,” jelas ketua pameran Theresia Agustina Sitompul di sela pembukaan pameran, Sabtu (18/2).
Tak kurang 40 karya seni dihadirkan dalam pameran yang berlangsung di Bale Banjar Sangkring 18 Februari-11 Maret 2017. Selain media kanvas untuk karya lukis, ada pula dimensi variable berbahan keramik, alumunium, dakron, blacu, dan katun.
Kolaborasi karya pada kain blacu berjudul “Symphony Dances” menjadi salah satu yang cukup menarik perhatian pengunjung. Potongan kain bergambar dipotong kotak-kotak, lalu digabungkan dengan jahitan, sehingga menjadi berukuran besar. Hasil karya ke-13 perupa tersebut dipamerkan dengan digantungkan secara melingkar.
“Pameran ini menunjukkan para ibu yang sibuk di dapur dan mengurus anak dapat menghasilkan karya yang patut diapresasi, baik secara visual maupun imajinatif,” ungkap Retno Wulandari, seniman sekaligus penikmat karya seni.
Raut muka Retno menunjukkan adanya kekaguman atas hasil karya para babon tersebut.
Melihat tren positif atas perhelatan itu, ke-13 seniman perempuan yang terlibat bertekad untuk menggelar acara serupa setiap tahun. Bahkan, mereka ingin mengajak seniman perempuan lain untuk saling melengkapi. Sekaligus menyamakan spirit dalam dunia seni.(yog/mg2)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...