Perjalanan Sejarah Masjid Perak Kotagede Yogyakarta

by admin|| 25 Januari 2016 || 19.706 kali

...

KOTAGEDE, SALAMGOWES.COM – Berada di dua wilayah administrasi Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, kawasan Kotagede memiliki ciri khas yaitu sebagai kawasan pengrajin perak dan kawasan heritage kerajaan Islam Mataram yang memiliki sejarah panjang pergerakannya. Tidaklah mengherankan apabila Kawasan Kotagede mayoritas berpenduduk Islam dan memiliki banyak peninggalan kental dengan budaya Islam salah satunya Masjid Perak Kotagede.


Masjid Perak Kotagede beralamat di Jalan Mondorakan Kotagede, berada persis dibelakang SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Masjid Perak Kotagede dibangun pada masa perang kemerdekaan tepat tanggal 1 Syuro tahun 1940. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh tiga ulama Kotagede, yaitu KH Mudakir, KH Amir dan KH Muhsin. Pada era revolusi fisik, Masjid Perak Kotagede memberikan sumbangsih perjuangan yang besar bagi eksistensi Republik Indonesia. Dipimpin oleh Drs. H. Zubaidi Bajuri, beliau mengumandankan takbir memimpin memimpin Laskar Hizbullah/Sabilillah ke garis terdepan medan pertempuran melawan serdadu Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menjajah Indonesia. Halaman Masjid Perak Kotagede menjadi saksi bisu pembekalan dan pelepasan Laskar Hizbullah/Sabilillah menuju medan perang.

Memasuki era 1950-an hingga akhir 1960-an, gelora semangat juang Masjid Perak Kotagede masih dibutuhkan andilnya oleh NKRI. Di penghujung Orde Lama, aktifis masjid ini turut serta menjaga persatuan bangsa ini akibat terjadinya konflik politik PKI dengan kekuatan militer. Di era tersebut, Masjid Perak Kotagede menjadi pusat kegiatan pergerakan pemuda Islam, mereka dibekali wawasan tentang Islam dan ilmu bela diri.

Pemberian nama Perak pada bangunan ini banyak menimbulkan salah tafsir bagi masyarakat luas. Nama Perak sendiri bukanlah karena para donatur pembangunan Masjid Perak Kotagede ini adalah para pengusaha perak yang menjadi salah satu keunggulan Kotagede. Nama Perak ini diambil dari bahasa Arab dari kata “Firoq” yang memiliki arti pembeda. Pembangunan masjid menjadi bentuk perlambang dari kebebasan umat dari pemikiran kotor, kebekuan berpikir pada masa lalu, dan pemisahan tegas kaum reformsi dari bentuk ikatan keuasaan agama dari kerajaan Islam dan adat.

Pembangunan Masjid Perak Kotagede sebagai antisipasi dari berkembangnya Islam di kawasan Kotagede dan sekitarnya. Masjid Agung Kota Gede sudah tidak mampu lagi menampung jamaah, disamping itu penggunaan Masjid Agung Kota Gede harus mengkantongi izin dari pihak Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dengan alasan mempermudah jalur birokrasi terebut, munculah gagasan untuk membangun masjid baru yang berdiri sendiri dan tidak terikat aturan yang sangat birokratis.


Perubahan jaman pun tidak mengkikis keberadaan Masjid Perak Kotagede dalam melanjutkan semangat perjuangannya. Sebidang tanah yang berada disampingnya pun diwakafkan untuk membangun sebuah sekolah sebagai sarana dan fasilitas membina generasi muda Islam menghadapi tantangan jaman yang selalu berubah.

Secara fisik bangunan ini mengalami perubahan dari material yang digunakan akibat terkena bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Masjid Perak Kotagede termasuk bangunan cagar budaya yang terkena dampak serius dari dari bencan ini. Kerusakan parah menyelimuti bangunan yang membahayakan bagi lingkungan sekitar sehingga perlu direnovasi total.

Tepat tanggal 15 Februari 2009, bangunan Masjid Perak Kotagede dirobohkan sebagai penanda dimulainya pembangunan . Pembangunan masjid resmi berhenti ketika diresmikan ulang oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, pada 31/01/2013. Pembangunan ulang masjid ini tetap tidak merubah bentuk desain bangunan lama. (aanardian/salamgowes.com)

Berita Terpopuler


...
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil

by admin || 24 November 2016

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Perajin batik Kulonprogo mulai merasakan tanda-tanda kelesuan pasar batik yang biasa terjadi di akhir tahun. Untuk menjaga stabilitas produksinya, perajin batik ...


...
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret

by admin || 09 Oktober 2016

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rombongan Funbike Gebyar Museum Pleret tiba di Museum Purbakala Pleret. Tari Sigrak Sesolak, Tari Nawung Sekar ...


...
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa

by admin || 07 Oktober 2016

YOGYA (KRjogja.com) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogya (Disbud DIY) bersama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) mengadakan 'Karnaval Selendang Sutra' 2016 guna mengurangi gesesekan ...


...
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan

by admin || 07 September 2016

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY bersama Masyarakat Tradisi (Matra) Yogyakarta, akan menyelenggarakan Festival Gejog Lesung Keistimewaan, pada 9 dan 10 September 2016 ...


...
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah

by admin || 16 Oktober 2016

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo menggelar Festival Budaya Menoreh 2016. Rangkaian acara yang diselenggarakkan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kulonprogo ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta