by pamongbudaya|| 30 Juli 2025 || || 73 kali
Sebagai lanjutan dari tulisan mengenai pesanggrahan milik Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman, maka pada tulisan kali ini akan disampaikan mengenai pesanggrahan yang dibangun di masa Hamengku Buwono I yaitu Pesanggrahan Ambarketawang. Pesanggrahan ini terletak di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman dengan koordinat -7.805482, 110.319402. Jika sobat budaya mengunjungi ke tempat tersebut, maka lokasinya tidak terletak di tepi jalan tetapi masuk gang buntu. Jaraknya sekitar 500 m ke arah barat dari Pasar Gamping kemudian belok ke selatan sekitar 500 m dan masuk gang ke arah timur. Tidak banyak peninggalan yang dapat dilihat di tempat ini. Saat ini hanya tersisa sedikit bagian bangunan dan pagar di tempat tersebut, yaitu sebagian dinding/tembok keliling sisi utara, sisi barat dan sisi selatan, serta beberapa bagian fondasi dan sejumlah reruntuhan batu bata. Luas keliling dari sisa dinding pagar yang ada berukuran 60 x 80 meter. Namun ada sumber lain yang menyebutkan 80 x 150 m. Di sekeliling tempat ini sudah banyak hunian dan di utara tempat ini terdapat Gunung Gamping yang saat ini juga tinggal tersisa sedikit saja karena gamping/kapur yang ada di gunung tersebut sudah ditambang. Dulunya keberadaan Gunung Gamping juga berfungsi sebagai pertahanan bagi keberadaan pesanggrahan tersebut.
Nama Ambarketawang berasal dari kata “ambar” yang berarti harum dan “ka-tawang” yang berarti atas atau tinggi, sehingga bermakna suatu tempat tinggi yang harum. Meskipun pesanggrahan ini dibangun pada masa Hamengku Buwono I, namun berdasarakan catatan dan cerita lisan yang ada, pesanggrahan ini sudah ada sejak masa sebelumnya. Pesanggrahan ini dulunya dikenal dengan nama Purapara yang artinya adalah istana yang digunakan sebagai tempat untuk persinggahan saat bepergian atau saat berburu di hutan sekitarnya. Setelah Perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono I menetap di Ambarketawang selama Keraton Yogyakarta masih dalam tahap pembangunan. Beliau menetap di sini selama sekitar satu tahun mulai hari Kamis Pon tanggal 3 Sura – Wawu 1681 atau 9 Oktober 1755 hingga pindah ke Keraton Yogyakarta pada hari Kamis Pahing tanggal 13 Sura – Djimakir 1682 atau 7 Oktober 1756.
Foto di awal tulisan adalah penanda Kraton Ambarketawang, foto di tengah tulisan adalah foto tembok keliling sisi selatan dan foto di bawah ini adalah foto tembok keliling sisi barat. (DD)
by admin || 07 Maret 2014
Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender. Adangiyah. Nama dari jenis ...
by admin || 05 Maret 2014
Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah lingkaran. ...
by admin || 04 Maret 2014
Deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun, dan disusun dengan menyebut lebih dahulu angka satuan, puluhan, ratusan, kemudian ribuan. Kata-kata yang ...
by admin || 23 September 2019
Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...
by admin || 23 September 2019
Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...
by admin || 23 September 2019
Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...