by ifid|| 04 Agustus 2026 || 100 kali
Yogyakarta – Museum kerap dibayangkan sebagai ruang sunyi yang dipenuhi benda-benda peninggalan masa lalu. Namun kesan itu perlahan memudar ketika puluhan pelajar peserta terbaik Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) Tingkat SMP/MTs se-DIY Tahun 2026 mengikuti Tour Museum yang difasilitasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). Selama sehari penuh, mereka diajak menyusuri dua museum dengan pengalaman yang berbeda, mulai dari Museum Sonobudoyo ...
by ifid|| 04 Agustus 2026 || 78 kali
Dalam khazanah bahasa Jawa, kata murakabi membawa bobot filosofis yang melampaui batas kebahasaan biasa. Ia bukan sekadar bermakna "bermanfaat", melainkan mencakup gagasan tentang keberlimpahan keberkahan yang meluas, melingkupi, dan menghidupi seluruh ekosistem tanpa terkecuali. Ketika Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta memilih kata ini sebagai tema besar integrasi Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026 dan Mobil Keliling Terapi (Moekti), sebuah pergeseran paradigma ...
by admin|| 03 Agustus 2026 || 0 kali
Dalam khazanah bahasa Jawa, kata murakabi membawa bobot filosofis yang melampaui batas kebahasaan biasa. Ia bukan sekadar bermakna "bermanfaat", melainkan mencakup gagasan tentang keberlimpahan keberkahan yang meluas, melingkupi, dan menghidupi seluruh ekosistem tanpa terkecuali. Ketika Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta memilih kata ini sebagai tema besar integrasi Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026 dan Mobil Keliling Terapi (Moekti), sebuah pergeseran paradigma ...
by ifid|| 02 Agustus 2026 || 42 kali
Senin sore, 27 Juli 2026, OKID Cafe menjelma menjadi ruang rembug yang tidak biasa. Bukan gamelan yang dibunyikan sore itu, melainkan pertanyaan-pertanyaan lama yang selama ini jarang diucapkan secara terbuka tentang siapa sesungguhnya pemilik sebuah gending? Ke mana harus mengadu ketika karya seorang empu digunakan tanpa permisi? Dan apakah kekayaan intelektual, sebuah istilah yang terdengar asing bagi telinga karawitan, benar-benar relevan bagi dunia gamelan? Dalam rangkaian menuju ...
by ifid|| 02 Agustus 2026 || 77 kali
Yogyakarta - Ketika malam mulai turun di Plaza Pasar Ngasem, bunyi gamelan terdengar memenuhi atmosfer. Bilah-bilah logam dipukul bergantian, ritmenya rapat, mengisi ruang yang dipadati penonton Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Di balik seperangkat gamelan yang dimainkan, berdiri belasan musisi asal Prancis. Mereka tidak datang sebagai tamu yang sekadar memainkan musik Indonesia. Mereka datang membawa rumah kedua yang telah mereka bangun selama ...