by ifid|| 26 September 2026 || 25 kali
Siapa sangka, pasar menjadi penghubung antara jejak kejayaan Mataram di masa lalu dengan kehidupan hari ini. Di tempat yang dahulu menjadi ruang bertemunya orang untuk berdagang, berbincang, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ingatan tentang Mataram kembali menemukan bentuknya melalui Pasar Lawas Mataram.
Di halaman Masjid Besar Mataram, masa lalu tidak benar-benar tinggal sebagai cerita. Ia hadir melalui jajanan yang dibungkus daun, pakaian bernuansa lawas, transaksi tanpa plastik, hingga percakapan yang membuat orang saling berhenti dan menyapa. Selama tiga hari, 25–27 September 2026, Pasar Lawas Mataram kembali menghidupkan suasana tersebut melalui tema “Momong, Momot, Momor”.
Sejak Jumat sore 25/9/2026, halaman masjid perlahan dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk membeli makanan. Sebagian mencari jajanan yang mungkin sudah lama tidak mereka temui, sebagian lainnya datang untuk menikmati pertunjukan dan suasana pasar yang sengaja dibuat berbeda dari pasar pada umumnya. Di tengah hiruk-pikuk itu, pasar lawas dan makanan tradisional menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan kembali kebiasaan dan cita rasa yang pernah dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dari sisi masyarakat, gagasan pasar sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum dukungan pemerintah hadir. Gono Santoso, salah satu perwakilan founder, menuturkan bahwa cerita tentang halaman masjid yang dahulu pernah digunakan sebagai pasar menjadi titik awal munculnya gagasan untuk membuat sebuah pasar dengan nuansa lawas.
“Banyak diceritakan oleh warga bahwa di halaman masjid dulu waktu jaman penjajahan pernah dijadikan pasar sehingga saya melakukan diskusi tentang bagaimana kita mengkonsep sebuah pasar yang lawas,” ceritanya.
Gagasan itu kemudian berkembang. Pada awal berdiri, Pasar Lawas Mataram hanya diikuti 15 tenant. Jumlah tersebut bertambah menjadi 30 dan kemudian berkembang hingga 55 tenant. Dari berbagai lapak yang hadir, ratusan jenis makanan dapat ditemukan oleh pengunjung.
Ketika berbicara mengenai eksistensi makanan tradisional, clorot menjadi salah satu jajanan populer yang disajikan dengan bungkus janur. Bagi Erna, salah satu pelaku usaha yang berjualan di Pasar Lawas Mataram, keikutsertaannya bukan semata untuk menjual produk. Ia ingin makanan yang mulai jarang ditemui tersebut kembali dikenal, terutama oleh generasi yang mungkin tidak tumbuh bersamanya.
“Untuk mengenalkan makanan, jajanan lawas kepada masyarakat dan melestarikan makanan jadul,” ujarnya.
Sebelum membawa dagangannya ke pasar, persiapan juga dilakukan dengan menyesuaikan konsep acara. Tempat berjualan disiapkan sesuai produk, sementara pakaian yang dikenakan turut mengikuti tema pasar lawas. Sistem pembayaran pun dipersiapkan, baik secara tunai maupun digital melalui QRIS.
Namun, ada satu persiapan lain yang tidak kalah penting. Erna juga menyiapkan pengetahuan mengenai cara pengolahan makanan yang dijual. Sebab, di tengah rasa penasaran pengunjung, pertanyaan tentang bagaimana makanan tersebut dibuat menjadi bagian dari interaksi yang muncul di lapak.
Hal itu kemudian terasa ketika clorot yang dibawanya mendapat respons antusias dari pengunjung. Bentuknya yang unik, dibungkus menggunakan daun kelapa muda atau janur, membuat makanan tersebut tidak hanya menarik untuk dicicipi, tetapi juga menjadi pengalaman tersendiri bagi pembeli.
Antusiasme terhadap makanan lawas menunjukkan bahwa nostalgia tidak selalu berhenti pada ingatan. Ia dapat menjadi pengalaman yang kembali dirasakan, bahkan oleh mereka yang tidak pernah mengalami masa ketika makanan tersebut menjadi bagian dari keseharian.
Dari satu lapak ke lapak lainnya, gagasan itulah yang kemudian bertemu dengan tujuan yang lebih besar dari penyelenggaraan Pasar Lawas Mataram. Bagi Dian Laksmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, pasar ini telah memasuki tahun ketujuh. Meski demikian, pihaknya baru mendampingi pelaksanaan selama lima tahun terakhir setelah melihat potensi dan dampak yang muncul dari penyelenggaraan sebelumnya.
“Kami sudah masuk tahun ke-7 pasar lawas. Kami baru mendampingi selama 5 tahun karena kami melihat potensi dan dampak yang muncul dari pasar lawas pertama,” tuturnya.
Bagi Dian Lakshmi Pratiwi, keberadaan pasar tidak cukup jika hanya menghadirkan kembali suasana masa lalu. Pasar perlu meninggalkan dampak yang dapat dirasakan setelah kegiatan selesai. Karena itu, setiap penutupan Pasar Lawas, pihaknya turut memperbarui data mengenai jumlah pengunjung maupun objek yang terdampak.
Dampak tersebut pun tidak hanya diukur dari aktivitas jual beli. Seni dan tradisi yang berkembang di Jagalan dan Kotagede menjadi bagian dari ekosistem yang ingin terus dihidupkan. Salah satu kegiatan yang turut menjadi perhatian adalah “Kumpul Kimpul” pada 26 September, ketika kimpul diangkat menjadi bagian dari pengalaman bersama di tengah pasar.
“Tidak hanya pasar, tetapi juga seni dan tradisi yang berkembang di Jagalan dan Kotagede,” kata Dian.
Bagi Dian Lakshmi Pratiwi, perputaran ekonomi yang muncul dari pasar juga memiliki arti yang lebih luas. Angka transaksi dan jumlah pengunjung memang penting, tetapi ada nilai lain yang tidak mudah dihitung: kesempatan untuk bertemu, berbincang, dan membangun kembali hubungan sosial yang dahulu lebih akrab dalam kehidupan sehari-hari.
“Di akhir kita juga memaknai ekonomi berputar tidak hanya sekadar angka statis tetapi juga ada nilai kebersamaan dan srawung bagi masa lalu dan masa kini,” ujarnya.
Nilai tersebut, menurut Dian Lakshmi Pratiwi, diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan pasar tahun ini. Ia ingin pengalaman dan cerita yang hadir di dalamnya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Sebab yang hendak diwariskan bukan hanya bentuk fisik dari benda, makanan, atau tradisi, melainkan cerita yang menyertainya.
Harapan serupa datang dari Abdul Halim Muslih, Bupati Bantul. Baginya, kebudayaan menjadi salah satu penanda keberadaan sebuah bangsa maupun komunitas. Ketika perubahan zaman membuat budaya asing semakin mudah diterima, ruang untuk mengenali kembali asal-usul menjadi semakin penting.
“Kita kehilangan sangkaan paran kita itu dari mana ke mana ketika budaya asing itu dibawa dan diserap oleh generasi muda,” ujarnya.
Karena itu, Pasar Lawas Mataram dipandang sebagai salah satu upaya untuk menjaga ingatan tersebut tetap hidup. Apalagi, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan makanan dan suasana masa lampau, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk terlibat di dalamnya.
Adanya perkembangan jumlah tenant dari 15 menjadi 55 tenant bagi Gono bukan sekadar pertumbuhan sebuah acara. Sejak awal, pasar dirancang dengan gagasan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, keberlanjutan menjadi hal penting agar pasar tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
“Pasar kami anggap sebagai legacy yang berhasil memberdayakan masyarakat,” katanya.
Legacy tersebut kini menemukan tantangan baru: bagaimana memastikan makanan, cerita, tradisi, dan semangat pemberdayaan dapat terus diterima oleh generasi yang berbeda. Bagi Erna, salah satunya adalah membuat makanan lawas tetap memiliki tempat di tengah selera generasi sekarang.
Ia berharap jajanan lawas tidak hanya dikenang oleh generasi yang pernah menikmatinya, tetapi juga tetap disukai oleh generasi Z. Harapan itu sederhana, tetapi sekaligus menjadi pekerjaan panjang: mempertemukan sesuatu yang berasal dari masa lalu dengan cara baru agar tetap relevan di masa kini.
Sementara itu, keberlangsungan pasar juga membutuhkan konsistensi dari semua pihak yang terlibat. Erna berharap penyelenggara tetap menjaga aturan dan konsep yang sejak awal menjadi identitas Pasar Lawas Mataram.
“Agar panitia pelaksanaan Pasar Lawas tetap konsekuen dengan peraturan adanya pasar lawas sesuai tema,” ujarnya.
Tiga hari di halaman Masjid Besar Mataram akhirnya tidak hanya menjadi perayaan tentang apa yang pernah ada. Pertunjukan Ki Sena Prakasa, Karisma Keroncong, Sanggar Kembang Mataram, hingga Pantomim SD Muhammadiyah Purbayan pada hari pertama; Miraswara, Gedhe Sumeh, Birama Keroncong Muda, Kethoprak Suminten Edan, geguritan Vinno, dan Simpul Hidup pada hari kedua; serta Tyok Satrio, Orkes Sariwangi, dan Joharini pada hari ketiga, membuat pasar menjadi ruang pertemuan antara berbagai bentuk kebudayaan.
Pada akhirnya, Pasar Lawas Mataram tidak hanya mengajak orang untuk membeli sesuatu yang sudah lama. Ia mengajak pengunjung untuk mengingat bahwa di balik makanan, pakaian, pertunjukan, dan kebiasaan yang tampak sederhana, terdapat cerita tentang masyarakat yang pernah hidup dengannya.
Mungkin itu sebabnya pasar tidak ingin berhenti sebagai nostalgia semata. Sebab, ketika diberi ruang untuk diceritakan kembali, pasar masih dapat menjadi bagian dari kehidupan hari ini. Dari sebuah jajanan yang dibungkus janur, percakapan di antara lapak, hingga srawung yang tercipta di halaman masjid, ingatan itu perlahan menemukan jalannya sendiri untuk diteruskan. (keisha/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...