by ifid|| 23 September 2026 || 83 kali
Di tengah pusaran gaya hidup modern, upaya merawat kesejahteraan jiwa (wellness) sering kali mengadopsi tren dari luar dan melepaskan diri dari akar tradisi. Namun, sebuah pendekatan yang menyegarkan dan sarat makna kembali dihadirkan di Museum Pawukon, Lendah, Kulon Progo. Pada Minggu, 20 September 2026, WELLFEST #2 sukses digelar, menyajikan paduan elegan antara wisata kebugaran dan kedalaman kearifan budaya lokal Jawa.
Digagas oleh Ahmad Husain Ali dan Charissa Silviani, WELLFEST #2 merupakan evolusi dari edisi perdananya. Jika penyelenggaraan pertama menjadi tahap perkenalan konsep wisata budaya berbasis wellness, edisi kedua ini melangkah lebih jauh. Agenda ini dirancang sebagai pengalaman partisipatif yang mengajak peserta berinteraksi langsung, menjadikannya sebuah perjalanan yang personal dan reflektif.

Sebanyak 15 peserta, yang didominasi oleh barisan generasi muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi, diajak untuk menyelami kembali identitas budaya yang mungkin belum sepenuhnya mereka kenal.
Wuku dan Jamu: Cermin Karakter Diri Perjalanan kontemplatif ini diawali dengan perkenalan sejarah Museum Pawukon serta pendalaman mengenai wuku sistem kalender tradisional Jawa. Di sini, wuku tidak dipelajari sebatas sistem penanggalan kuno, melainkan dibaca dan dihidupkan sebagai cermin. Para peserta diajak mengenali nilai dan karakter bawaan mereka berdasarkan wuku masing-masing, menjadikannya sarana untuk berkaca dan merefleksikan diri.
Pemahaman karakter tersebut kemudian diejawantahkan dalam aktivitas fisik yang sangat membumi: meracik jamu. Bukan sembarang jamu, melainkan racikan yang dipersonalisasi dan disesuaikan dengan wuku tiap-tiap peserta. Mereka diajak memegang alu dan lesung, menumbuk sendiri bahan-bahan alami tersebut, lalu menyesap khasiat dari hasil keringat dan refleksi mereka.

Pengalaman ini nyatanya mampu membekas di benak para peserta muda. Difa, salah satu peserta yang juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mengungkapkan kekagumannya terhadap rangkaian kegiatan ini.
“Saya jadi lebih mengenal budaya yang sebelumnya belum pernah saya ketahui. Menumbuk bahan jamu berdasarkan wuku juga menjadi pengalaman pertama yang sangat seru dan menyenangkan bagi saya. Selain itu, kegiatan mengukir di daun lontar juga sangat memorable,” ungkap Difa.
Menggurat Lontar, Merawat Masa Depan Sesi menggurat atau mengukir daun lontar menjadi epilog yang sempurna untuk menutup rangkaian WELLFEST #2. Melalui aktivitas tradisional ini, peserta diberi keheningan dan ruang batin untuk menuangkan segala refleksi yang mereka dapatkan sepanjang hari. Menggurat lontar bukan sekadar latihan seni kuno, tetapi juga medium katarsis dan ekspresi diri.
Secara keseluruhan, keberlanjutan WELLFEST menjadi bukti nyata bahwa museum dan cagar budaya tidak melulu soal menatap benda mati di etalase kaca. Dengan perpaduan antara sejarah wuku, tradisi jamu, dan laku menggurat lontar, Museum Pawukon berhasil disulap menjadi ruang wisata budaya yang inklusif, relevan, dan diminati oleh generasi muda.

WELLFEST #2 mengukuhkan harapan bahwa pelestarian kearifan lokal tak harus terasa usang. Melalui kemasan yang partisipatif dan pendekatan wellness yang menyentuh ranah personal, nilai-nilai luhur budaya Jawa akan terus hidup, merawat sukma, dan membentuk identitas generasi di masa depan.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...