Sinema di Jantung Budaya: Merajut Asa di Kampus ISI Yogyakarta

by ifid|| 23 September 2026 || 70 kali

...

Sabtu siang, 12 September 2026, Kampus Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (FSMR ISI) Yogyakarta mendadak berdenyut lebih kencang. Ratusan pelajar, guru, seniman, dan pegiat film tumpah ruah memadati area kampus. Mereka datang dari berbagai penjuru tanah air untuk menghadiri pembukaan Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XVII 2026. Perhelatan akbar apresiasi dan literasi film pelajar ini resmi dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Irwandi, bersama Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dian Laksmi Pratiwi.

Suasana pembukaan diwarnai gelak tawa dan kehangatan ketika Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Irwandi, melontarkan kalimat berseloroh saat mengetahui begitu banyak alumni ISI yang terlibat sebagai panitia bersama para mahasiswa lintas kampus di Yogyakarta. Di balik canda tersebut terselip sebuah pernyataan terbuka yang sarat makna. “Sering-seringlah FFPJ bikin festivalnya di ISI Yogyakarta. Kampus ini sangat terbuka untuk bersinergi dengan berbagai kalangan yang memiliki perhatian tinggi terhadap pendidikan dan kebudayaan. Hal ini juga sangat relate dengan kota Yogyakarta yang istimewa dan terbuka menerima berbagai kalangan dalam kehidupan sehari-harinya,” tegas Prof. Irwandi.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kampus seni tertua di Yogyakarta ini adalah ruang publik yang inklusif. FFPJ XVII 2026 yang berlangsung pada 12–13 September 2026 bukan sekadar ajang pemutaran film, melainkan simpul perjumpaan bagi generasi muda untuk merayakan kecintaan pada medium audiovisual. Kehadiran partisipan dari lebih 40 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia membuktikan bahwa festival ini telah mengakar kuat di hati para pembelajar seni film tingkat pelajar. Sebanyak 127 karya film yang terdaftar menjadi sebuah amanah besar yang harus dirawat sebaik-baiknya agar kepercayaan publik terus terjaga.

Pesan Kebudayaan dan Estafet Talenta Nasional

Perjalanan panjang FFPJ selama 17 tahun bukanlah linimasa yang instan. Ia dibangun atas dasar ketekunan dan komitmen merawat talenta muda di tengah gelombang zaman. Apresiasi tertinggi atas dedikasi ini pernah diberikan secara khusus oleh Pemerintah Provinsi DIY pada penghujung tahun 2025 lewat Anugerah Kebudayaan. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi, dalam sambutannya mengenang momen bersejarah tersebut.

“Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY di akhir tahun 2025 memberikan Anugerah Kebudayaan ‘Upakarya Budaya’ kepada FFPJ atas dedikasinya dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di DIY,” tutur Dian. Ia melanjutkan bahwa FFPJ konsisten menemani talenta pelajar, yang berjalan lurus dengan program Manajemen Talenta Nasional dan Daerah untuk menjaring serta mengembangkan potensi pelaku seni budaya secara berkesinambungan hingga ke kancah global.

Direktur Eksekutif FFPJ XVII 2026, Ghalif Putra Sadewa, menyampaikan bahwa puncak festival ini merupakan titik temu dalam perjalanan yang lebih panjang, di mana persahabatan dan kolaborasi terus bertumbuh. Sementara itu, pendiri FFPJ Tomy Widiyatno Taslim menegaskan bahwa tema tahun ini, ‘Mulat Sarira’, bertindak sebagai ruang refleksi diri sekaligus momentum pembuka menuju FFPJ XVIII 2027. Selama dua hari, acara di FSMR ISI Yogyakarta diisi dengan apresiasi seni, bedah karya, sarasehan paradigma berfilm, dialog bahasa visual, temu komunitas, hingga penganugerahan karya dengan dukungan FSMR ISI Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY, FIP UNU Yogyakarta, UNSTRAT UNY, dan mitra lainnya.

Sinema Silaturahmi Menembus Batas Wilayah

Jauh sebelum kemeriahan acara puncak di Kampus FSMR ISI Yogyakarta pecah, roda FFPJ XVII 2026 telah berputar lebih awal melalui program pre-event bertajuk Sinema Silaturahmi. Program apresiasi dan literasi seni film ini dirancang untuk menyambangi empat kabupaten dan satu kota di wilayah DIY, melibatkan lima sekolah dan satu komunitas independen.

Perjalanan Sinema Silaturahmi dimulai pada Selasa, 1 September 2026, di SMAN 1 Temon, Kulon Progo. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, Sinema Silaturahmi FFPJ berupaya menyambangi teman-teman pelajar, baik di sekolah maupun komunitas. Kami belajar bersama melalui kegiatan menonton film dan mendiskusikannya,” tutur Ghalif Putra Sadewa. Rangkaian tur ini bergerak dinamis menyapa SMKN 7 Yogyakarta, SMA Bumi Cendekia Sleman, SMAN 1 Seyegan Sleman, SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul, hingga berakhir di Komunitas Kedai Kopi 69 di Wonosari, Gunungkidul.

Di setiap titik, tim FFPJ membuka ruang dialog interaktif yang egaliter. Para pelajar diajak mengurai dan membongkar lapis-lapis makna di dalam karya audiovisual. Film-film yang diputar merupakan karya terpilih yang lolos seleksi kompetisi nasional FFPJ XVII 2026 dalam kategori fiksi, dokumenter, eksperimental, dan animasi, serta karya siswa yang selaras dengan tema Mulat Sarira.

Menghidupkan Kategori Animasi dan Semangat "Mulat Sarira"

Penyelenggaraan FFPJ XVII 2026 juga ditandai dengan dibukanya Program Kompetisi Nasional Film Pendek Pelajar mulai 1 Januari 2026 hingga 30 Juni 2026. Ada hal baru yang patut dicatat pada tahun ini: pemisahan kategori animasi. Berdasarkan masukan dari berbagai diskusi publik, karya animasi yang sebelumnya digabung dalam kategori fiksi kini berdiri sendiri, memberikan ruang apresiasi yang lebih luas bagi kreator stop motion, 2D, maupun 3D.

Tema besar yang diusung tahun ini, ‘Mulat Sarira’, memegang peranan kunci. Berasal dari bahasa Sanskerta dan mengakar kuat dalam tradisi Jawa serta Bali, mulat sarira sepadan dengan konsep introspeksi, wawas diri, refleksi, kontemplasi, meditasi, muhasabah, bercermin, dan koreksi diri. Ini adalah laku batin untuk merenungkan kembali emosi, pikiran, kelemahan, serta pengalaman hidup.

FFPJ mengajak para pelajar untuk ber-mulat sarira dari unit sosial terkecil diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga lingkungan negara lalu mempertanyakan kontribusi nyata apa yang telah mereka berikan untuk kebaikan sesama, yang kemudian diolah menjadi ide, gagasan, dan karya seni film pendek yang memukau.

Gema Resmi: Pandangan dan Harapan Dinas Kebudayaan DIY

Dukungan penuh pemerintah daerah terhadap perhelatan ini terangkum secara utuh dalam naskah sambutan resmi Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY yang dibacakan dalam rangkaian festival:

"Yang kedua, atas nama Dinas dan pribadi kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Panitia penyelenggara, dan semua pendukungnya, sehingga Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) dapat hadir kembali untuk komunitas film pelajar Indonesia di tahun 2026. FFPJ hadir sebagai ruang silaturahmi, belajar bersama, dan berbagi untuk komunitas film pelajar Indonesia yang peduli terhadap nilai-nilai kemandirian, gotong royong, toleransi, persahabatan, dan perdamaian." ungkap Dian

Lebih lanjut, Dinas Kebudayaan DIY menegaskan bahwa konsistensi memfasilitasi FFPJ setiap tahunnya di tahun 2026 ini juga menjadi bagian dari pre-event Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 yang diselenggarakan di Kabupaten Sleman. Melalui tema Mulat Sarira, pemerintah berharap festival ini tidak hanya menjadi sarana mengaktualisasikan bakat dan keterampilan perfilman, tetapi juga memberi pengayaan pengetahuan agar pelajar memiliki tambahan apresiasi, perspektif, serta wawasan sebagai bekal dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.

Menyalakan Obor Sinema dari Yogyakarta untuk Indonesia

Gemerlap festival boleh saja usai ketika tirai penutupan diturunkan di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. Namun, denyut nadi yang dihidupkannya akan terus beresonansi panjang. FFPJ telah membuktikan diri bukan sekadar perhelatan musiman, melainkan sebuah ekosistem pendidikan alternatif yang konsisten melahirkan nalar kritis, kepekaan sosial, dan keberanian estetik di kalangan pelajar.

Melalui rangkaian Apresiasi, Literasi, Pengembangan Komunitas, Kompetisi Nasional, hingga Pengembangan Social Enterprise untuk mendukung keberlanjutan sumber daya festival, FFPJ merajut simpul masa depan yang kuat. Sebagaimana pesan penutup dari Dinas Kebudayaan DIY kepada seluruh peserta:

"Selalu semangat dalam berkarya, jangan pernah berhenti mencoba dan jangan pernah lelah berusaha sebab masa depan adalah milik kalian." pungkas Dian

Dari ruang-ruang kelas di Kulon Progo hingga panggung megah di FSMR ISI Yogyakarta, Festival Film Pelajar Jogja terus merawat optimisme. Dengan semangat Mulat Sarira, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai rumah sejati bagi para pembelajar seni menyala terang, merangkul ragam suara, dan menyiapkan generasi penerus sinema Indonesia menuju panggung dunia. (fit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta