Wayang "Palguna" dan Kebaya "Funky": Napak Tilas Budaya dalam HKN DIY ke-2

by ifid|| 14 Juli 2025 || || 65 kali

...

Sleman, 12 Juli 2025 - Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang tak terhindarkan, suara gamelan mengalun syahdu, memanggil rindu pada tradisi yang kian langka. Suara itu bukan sekadar iringan musik, melainkan sebuah seruan untuk kembali merenungi warisan leluhur. Di Dusun Gawar, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, perhelatan akbar menyambut Hari Kebaya Nasional (HKN) ke-2 dimulai dengan sebuah pertunjukan seni yang istimewa: pentas wayang kulit dengan lakon "Palguna - Palgunadi".

Malam itu, panggung wayang menjadi pusat perhatian. Bukan sekadar pertunjukan, ini adalah sebuah pernyataan kuat tentang komitmen melestarikan kebudayaan Jawa. Uniknya, dalang yang memegang kendali bukan seorang sesepuh, melainkan seorang dalang muda berbakat, Putri Bebyan Refatacandra Santika Keisanjora, yang baru berusia remaja.

Bebyan, dengan kemahirannya, berhasil membawakan lakon klasik "Palguna - Palgunadi" dengan sentuhan jenaka yang membuat cerita terasa lebih hidup dan relevan bagi penonton dari berbagai usia. Cerita tentang persaingan dua ksatria pemanah ulung, Arjuna (Palguna) dan Ekalaya (Palgunadi), disampaikan dengan narasi yang segar, memadukan tradisi dan kekinian. Kehadiran dalang perempuan di usia belia ini menjadi simbol regenerasi yang penuh harapan, membuktikan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Pentas wayang kulit ini merupakan "road show" dari rangkaian acara HKN ke-2 yang puncaknya akan diselenggarakan di Sleman City Hall pada 27 Juli 2025. Kolaborasi apik antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI), Lion Club Distrik 307 B2, Pecinta Budaya dan Berkain Nusantara (PBBN), Kebaya Foundation (KF), serta Persikindo, menunjukkan sinergi kuat dalam melestarikan budaya.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Dwi Agung Hermanto, SS MM, menegaskan bahwa acara ini bukan hanya sekadar hiburan. "Kami berharap acara ini menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman dan kecintaan terhadap warisan budaya Indonesia," ujarnya. Melalui pertunjukan ini, Dinas Kebudayaan DIY kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kebudayaan Jawa, serta memperkenalkan kekayaan seni wayang kulit kepada publik yang lebih luas.

Palguna-Palgunadi: Kisah Klasik yang Hidup Kembali di Tangan Dalang Milenial

Lakon "Palguna - Palgunadi" adalah salah satu cerita wayang yang paling sarat makna. Cerita ini mengisahkan tentang persaingan antara Arjuna (Palguna), seorang ksatria Pandawa yang mendapatkan pendidikan formal dari Begawan Durna, dan Bambang Ekalaya (Palgunadi), seorang ksatria dari kerajaan Paranggelung yang belajar memanah secara mandiri.

Konflik bermula ketika Begawan Durna menolak Ekalaya sebagai muridnya. Namun, penolakan ini tidak mematahkan semangat Ekalaya. Ia kemudian membuat patung Durna dan berlatih memanah dengan penuh ketekunan, hingga akhirnya menguasai ilmu memanah yang bahkan melebihi Arjuna. Keteguhan hati Ekalaya menjadi cerminan bahwa kemauan dan kerja keras dapat mengantarkan seseorang pada puncak keberhasilan.

Dalam pertunjukan malam itu, Bebyan berhasil membawakan lakon ini dengan interpretasi yang segar. Ia tidak hanya piawai menggerakkan wayang, tetapi juga memiliki kemampuan olah vokal yang dinamis, membedakan karakter setiap tokoh dengan suara yang berbeda, bahkan menyisipkan humor yang renyah. Sentuhan jenaka ini membuat cerita yang berat terasa ringan dan mudah dicerna, terutama bagi generasi muda yang mungkin belum familiar dengan lakon wayang klasik.

Kehadiran Bebyan sebagai dalang perempuan mendapat apresiasi tinggi dari para tokoh yang hadir. Sekretaris Daerah Sleman, Drs. Susmiaryo, MM, mengungkapkan, “Malam ini menampilkan dalang anak-anak perempuan, ini mencerminkan bahwa perempuan itu berdaya dan ternyata mampu tampil di bidang kesenian maupun kebudayaan.” Pernyataan ini disambut hangat, menunjukkan bahwa acara ini juga mengusung semangat kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dalam budaya.

Dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY juga menjadi faktor penting. Menurut Sulistyana Nurmawati, sebelum acara pentas wayang, telah diselenggarakan talkshow di Dinas Kebudayaan DIY dengan pembicara istri Bupati Sleman dan istri Bupati Kulonprogo. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian budaya tidak hanya berhenti di panggung, melainkan juga merambah ke ranah diskusi dan edukasi.

Jembatan Budaya Antar Generasi dan Semangat Kebaya "Funky"

Pentas wayang kulit di Dusun Gawar tidak hanya sekadar tontonan, melainkan sebuah upaya serius untuk menjembatani kesenjangan budaya antara generasi tua dan muda. Para penonton muda yang hadir mengaku sangat terkesan. Sakina, seorang mahasiswi yang datang bersama rekannya, Wilis, mengungkapkan ketertarikannya. “Menurut saya menarik, terutama sekarang ini kurangnya minat terhadap kebudayaan, terutama anak-anak muda zaman sekarang kayak sering melupakan tradisi yang ada dan kurang melestarikan,”ungkapnya.

Mereka berharap, dengan adanya pertunjukan seperti ini, anak muda akan semakin tercerahkan dan mencintai budayanya sendiri. Sakina juga menyoroti peran perempuan dalam melestarikan budaya. “Kalau menurut saya, dari pertunjukan ini apalagi banyak perempuan-perempuan yang menjalankan wayang, nah itu berarti melestarikan budaya-budaya yang zaman dahulu, apalagi sekarang sudah pada masuk globalisasi dan banyak seperti budaya-budaya luar yang masuk ke dalam sini, itu memengaruhi sekali buat generasi muda,” tambahnya.

Semangat pelestarian budaya ini juga diwujudkan melalui acara puncak HKN ke-2 yang akan digelar di Sleman City Hall. Dwi Kartika Setyaningrum menjelaskan bahwa HKN bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kebaya, yang telah menjadi ikon perempuan Indonesia. Hal yang menarik adalah kebebasan bagi para peserta untuk mengenakan kebaya model apa saja, termasuk kebaya modern atau "funky". Aturan ini menunjukkan semangat inklusivitas dan adaptasi budaya agar tetap relevan dan menarik bagi semua kalangan.

“Boleh mengenakan kebaya model apa saja. Termasuk kebaya funky. Mari kita nguri-uri budaya,” ajak Dwi Kartika. Ia juga memaparkan bahwa acara puncak nanti akan dimeriahkan dengan pentas angklung, pameran lukisan karya 50 perempuan, serta pameran dari 70 UMKM. Keberagaman acara ini menunjukkan bahwa HKN bukan hanya tentang kebaya, tetapi juga tentang merayakan kekayaan seni dan kreativitas perempuan Indonesia secara keseluruhan.

Dari DIY untuk Indonesia: Ajang Peningkatan Kreativitas dan Persatuan Budaya

Antusiasme terhadap acara HKN ke-2 tidak hanya datang dari masyarakat Yogyakarta. Dwi Kartika mengungkapkan bahwa banyak peserta dari luar DIY, seperti NTT, Jawa Barat, dan Jawa Timur, telah menyatakan kesediaannya untuk datang. "Malah banyak yang dari luar Yogya," terang Dwi Kartika. Hal ini menunjukkan bahwa semangat melestarikan kebaya dan budaya lokal telah menyebar ke seluruh penjuru nusantara.

Dengan target 2.025 peserta, acara puncak HKN ke-2 diharapkan tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi momen untuk saling menginspirasi dan menguatkan persatuan melalui budaya. Kehadiran para ibu, anak, dan remaja putri diharapkan dapat menjadikan acara ini sebagai jembatan yang kokoh untuk meneruskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi berikutnya.

Acara yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan DIY ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukanlah pekerjaan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, Yogyakarta sekali lagi membuktikan posisinya sebagai kota istimewa yang menjadi garda terdepan dalam menjaga dan merawat warisan budaya bangsa.

Lakon "Palguna - Palgunadi" yang dibawakan oleh dalang muda, Putri Bebyan, menjadi metafora sempurna untuk perjalanan budaya ini. Ekalaya yang gigih mewakili semangat masyarakat untuk belajar dan melestarikan budaya secara mandiri. Sementara itu, kehadiran dalang perempuan dan kebaya "funky" menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas aslinya.

Sebagai penutup, acara HKN ke-2 ini adalah sebuah perayaan identitas budaya yang mempersatukan. Dari panggung wayang yang menghidupkan kisah klasik, hingga kebaya modern yang menghiasi hari-hari, semua adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia untuk terus mencintai dan merawat warisan leluhur. Yogyakarta telah memulai langkahnya, dan kini, saatnya seluruh Indonesia menyambutnya dengan bangga.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2025

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta