Apresiasi Seni & Budaya Anak DIY 2025: Obor Budaya di Tangan Generasi Muda

by ifid|| 30 Juli 2025 || 691 kali

...

Yogyakarta, 28 Juli 2025 — Di tengah hiruk pikuk modernisasi, obor kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menyala terang, diestafetkan oleh tangan-tangan mungil namun penuh semangat generasi muda. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan warisan adiluhung dengan menggelar Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2025. Acara ini bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan sebuah penegasan bahwa masa depan kebudayaan ada di pundak anak-anak berprestasi ini.

Semangat Regenerasi dan Penghargaan Berbasis Regulasi

Kegiatan apresiasi ini bukanlah tanpa dasar. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menjelaskan bahwa acara ini merupakan implementasi nyata dari Peraturan Gubernur DIY Nomor 32 Tahun 2023 tentang Penghargaan Kebudayaan, khususnya untuk kategori anak dan regenerasi. Proses seleksi yang ketat telah dimulai sejak April 2025, berhasil menjaring 42 berkas dari peserta individu dan 7 dari sanggar seni, menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari para pegiat seni dan budaya cilik di DIY.

"Apresiasi ini bukan semata hasil akhir, melainkan juga tentang proses pembelajaran yang penuh tantangan dan penemuan diri. Harapan kami, para penerima dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda yang lebih kreatif dan berbudaya," tutur Dian Lakshmi Pratiwi, menekankan bahwa penghargaan ini adalah titik awal, bukan akhir dari perjalanan berkesenian mereka.

Proses penilaian dilakukan secara cermat melalui tiga tahapan: administrasi, wawancara, dan unjuk bakat langsung. Tim penilai yang terdiri dari para ahli di bidangnya – Istu Noor Hayati, S.Sn. (seniman tari); Puput Pramuditya, S.Sn., M.Sn. (komponis dan dosen ISI Yogyakarta); serta Agustin Dwi Widowati, M.Psi. (psikolog klinis anak) – menjamin objektivitas dan kualitas seleksi. Dari ratusan pendaftar, akhirnya terpilih 10 individu dan 3 sanggar yang dianggap paling layak menerima penghargaan bergengsi ini.

Wajah Muda Penjaga Warisan: Kisah Para Penerima Apresiasi Kategori Anak

Berikut adalah sepuluh nama yang menjadi representasi semangat kebudayaan DIY, para penjaga warisan yang siap mengukir masa depan:

Theresia Citra Arty Amavista Pandu (SMPN 1 Wonosari): Penari muda berbakat yang tak hanya piawai di panggung, tetapi juga aktif di dunia film dan bahkan menjadi pengajar tari bagi teman-temannya. Segudang prestasinya, mulai dari Penyaji Terbaik IV Festival Langen Carita tingkat Provinsi DIY hingga Juara I Festival Senam Kreasi Tingkat Nasional, membuktikan dedikasinya.

Narasmitha Adiratna Rahayu (SMP Islam Al Azhar 38): Penyanyi solo vokal berprestasi yang juga mahir menggambar. Prestasinya di FLSSN Solo Vokal tingkat DIY dan Anugerah Kebudayaan Bupati Gunungkidul menjadi bukti kemampuannya.

Cindy Revitasari (Cindy): Pesinden cilik dengan suara khas yang telah malang melintang di berbagai pertunjukan wayang kulit. Kanal YouTube-nya menjadi wadah bagi banyak orang untuk menikmati kemampuannya, dan ia telah dipercaya mengiringi dalang-dalang kenamaan.

Albertus Kalis (SMPN 2 Bambanglipuro): Dalang cilik multitalenta yang menguasai berbagai seni tradisi sejak SD. Juara Festival Dalang Anak DIY dua tahun berturut-turut dan berbagai gelar di lomba macapat serta karawitan menunjukkan kedalaman bakatnya.

Aksara Adisti (Adis): Anak multitalenta dari Sleman ini menguasai puisi, pantomim, mendongeng, hingga melukis. Prestasinya di FLS2N Pantomim, Lomba Pidato Agama, dan Lomba Baca Puisi membuktikan konsistensi dan kemampuannya yang luar biasa.

Atika Zahra Ratifa (SDN Pujokusuman I YK): Seniman cilik dari Kota Yogyakarta yang aktif dalam seni musik dan tari. Peraih Gold Medal Asian Storytelling Competition 2025 dan Juara I Lomba Story Telling se-Jateng dan DIY menegaskan kemahirannya dalam bertutur.

Moissani Abyan Ardita Putra (SDN I Bantul): Dalang dan penari cilik asal Bantul yang telah tampil sejak usia lima tahun. Semangatnya dalam mencintai budaya Jawa menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya.

Lucia Rahajeng Anastiti (Ajeng): Pelajar asal Sleman ini unggul dalam seni tradisi lisan seperti geguritan dan maca cerkak. Kejuaraan di tingkat Kabupaten Sleman membuktikan kemampuannya dalam melestarikan sastra Jawa.

Binar Chanda Kuinnara (Chanda): Seniman cilik serba bisa dari Yogyakarta yang telah menorehkan banyak penghargaan di berbagai bidang seni, mulai dari menyanyi, nasyid, tari tunggal, hingga reportase anak.

Hatiful Latifah (SMAN I Wates Kulon Progo): Sastrawan muda dari Kulon Progo yang telah menjuarai berbagai lomba puisi dan menulis cerkak. Konsistensi dan bakat tingginya terlihat dari berbagai kejuaraan di FLS2N Musik Tradisi, Cipta Puisi, hingga Cipta Cerkak.

Pilar Komunitas dan Penjaga Identitas Budaya: Tiga Sanggar Berprestasi

Selain individu, tiga sanggar budaya turut memperoleh apresiasi atas kontribusi kolektif mereka dalam membentuk karakter dan melestarikan budaya di tengah masyarakat:

Sanggar Seni Cikal Budaya (Gunungkidul): Berlokasi di Semanu Tengah, sanggar ini lahir dari kepedulian terhadap kenakalan remaja. Dengan slogan "TANSAH ELING MRING GUSTI KANG MAHA SUCI, BUDAYA TRADISI TETEP LESTARI," sanggar ini berhasil mengubah energi anak muda menjadi kekuatan positif melalui seni Reog, Sendratari, dan Langen Carita. Berbagai prestasi di tingkat kabupaten hingga provinsi menjadi bukti nyata dedikasi mereka.

Krincing Manis Dance Studio (Sleman): Sanggar tari ini telah mengharumkan nama DIY hingga kancah internasional, tampil di Jepang, Singapura, Korea, dan Thailand. Karya mereka, "The Mezmerizing Beauty of Herons Bird," bahkan menyabet Grand Prize di Korea Selatan tahun 2024. Krincing Manis tidak hanya mengajarkan tari, tetapi juga membekali anggotanya dengan karawitan, teater, ekspresi, hingga bahasa asing, sebuah pendekatan holistik yang patut dicontoh.

Rumah Sastra Evi Idawati (Sleman): Sanggar literasi dan pantomim ini memiliki kekhasan yang luar biasa: inklusivitas. Mereka merangkul anak-anak berkebutuhan khusus, melatih mereka membaca, menulis, menampilkan karya sastra, dan berlatih pantomim. Penerbitan buku-buku karya anak-anak setiap tahun menjadi bukti komitmen mereka dalam mengembangkan potensi literasi dan seni pada semua kalangan.

Pesan Gubernur: Jadilah Anak Indonesia yang Berbudaya

Dalam sambutan yang diwakili oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, pemerintah menyampaikan pesan mendalam kepada anak-anak penerima apresiasi. Pesan ini bukan hanya sekadar ucapan selamat, melainkan sebuah amanah untuk terus berkarya dan mencintai budaya.

"Apresiasi terhadap seni dan budaya adalah wujud penghargaan, pemahaman, dan pengakuan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap karya dan ekspresi budaya kita. Kita menilai bukan hanya dari hasil tetapi juga dari semangat proses dan makna yang menyertainya," ujar KGPAA Paku Alam X. Beliau juga berpesan, "Saya berpesan kepada anak-anakku untuk terus mengembangkan ekspresi diri, meningkatkan semangat dan menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya tanah air. Jadikan karya sebagai bentuk syukur, jati diri, sekaligus kontribusi bagi bangsa. Kami sampaikan selamat dan terima kasih. Teruslah berkarya, teruslah bangga menjadi anak Indonesia yang berbudaya."

Pesan ini menggarisbawahi pentingnya seni dan budaya sebagai fondasi identitas bangsa, serta peran strategis generasi muda dalam menjaga dan mengembangkannya.

Harapan dan Langkah ke Depan: Api Seni Budaya Terus Menyala

Tim penilai dan penyelenggara berharap agar kegiatan apresiasi ini terus berlanjut dan berkembang di tahun-tahun mendatang. Mereka juga berharap akan ada lebih banyak partisipasi dari anak-anak dan sanggar seni, serta semakin kuatnya jejaring antar-seniman cilik dan komunitas seni di DIY.

"Semoga api seni budaya terus menyala di tangan anak-anak kita. Mereka adalah harapan, mereka adalah pelestari, dan mereka pula pencipta masa depan kebudayaan Indonesia," ujar ketiga juri dalam pernyataan penutup mereka. Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak DIY 2025 adalah bukti nyata bahwa semangat kebudayaan di Yogyakarta tak akan pernah padam, terus bersemi dan berkembang melalui talenta-talenta muda yang berdedikasi. (Dwi Agus)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta