by ifid|| 16 Oktober 2025 || 162 kali
Jalanan Malioboro kembali dihidupkan oleh gelaran "Selasa Wagen" edisi spesial yang mengusung tema tentang urat nadi kebudayaan Yogyakarta: Sumbu Filosofi. Lebih dari sekadar acara car free night, kegiatan ini merupakan sebuah ajakan publik untuk menyelami makna terdalam di balik garis imajiner yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia tersebut. Melalui perpaduan budaya, refleksi, dan upaya pelestarian, masyarakat diajak menelusuri kembali nilai-nilai luhur yang menjadi jiwa Kota Gudeg.
Sebuah Perayaan Apresiasi untuk Desa Budaya
Pentas Selasa Wagen yang digelar hari ini bukan sekadar pertunjukan biasa. Momen ini menandai babak akhir untuk tahun ini, sekaligus menjadi pementasan penutup. Sepanjang pelaksanaannya, telah digelar lima kali pentas yang sukses menghadirkan keragaman budaya dari berbagai desa budaya.
"Total, ada 50 kalurahan atau desa budaya yang telah kami libatkan, dengan setiap pementasan menampilkan 10 desa," jelas Agus Suwarto selaku Kabid Pengembangan Kapasitas Lembaga Budaya. Acara ini dipandang sebagai wujud apresiasi sekaligus panggung strategis untuk memamerkan potensi kesenian yang selama ini hidup dan berkembang di desa-desa budaya.
"Harapan kami, melalui pementasan di jantung kota Yogyakarta ini, kekayaan seni budaya tersebut dapat dinikmati dan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas," tuturnya.
Ke depan, program semacam ini dinilai sangat penting untuk dilanjutkan dan dipertahankan. Keberadaannya dinilai strategis tidak hanya sebagai sarana edukasi masyarakat, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan potensi seni di desa dengan pentas kota. Sebuah upaya untuk melestarikan tontonan yang tak sekadar meriah, tetapi sarat dengan nilai-nilai luhur masyarakat.
Sinergi Lintas Sektor Wujudkan Sumbu Filosofi Berkelanjutan di Selasa Wagen
Kolaborasi strategis antara Paniradya Pati dan Dinas Perhubungan dalam gelaran Selasa Wagen mengisyaratkan pendekatan baru dalam pelestarian Kawasan Sumbu Filosofi. Aryanto Hendro Suprantoro, Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, mengungkapkan dua agenda utama di balik sinergi ini: mewujudkan kawasan rendah emisi dan menjadikan Selasa Wagen sebagai model pengelolaan ruang publik warisan dunia yang berkelanjutan.
"Pelestarian Sumbu Filosofi memerlukan pendekatan holistik yang menyatukan aspek budaya, tata ruang, dan transportasi," tegas Aryanto. Komitmen ini diwujudkan melalui pembatasan akses kendaraan bermotor di kawasan inti Sumbu Filosofi, dimana hanya kendaraan listrik yang diizinkan beroperasi.
Kebijakan tersebut sejalan dengan visi Paniradya Pati yang menempatkan Selasa Wagen sebagai ruang pemeliharaan identitas budaya. Aris Eko Nugroho menegaskan, "Malioboro melalui Selasa Wagen telah bertransformasi menjadi ruang hidup yang tidak hanya menampilkan, tetapi juga merawat nilai-nilai budaya." Kolaborasi multidimensi ini menunjukkan komitmen nyata Pemerintah DIY dalam menerjemahkan pengakuan UNESCO menjadi aksi kolektif, memadukan pelestarian budaya dengan pembangunan berkelanjutan di jantung kota Yogyakarta.
Selasa Wagen Jadi Inspirasi Pengembangan Budaya
Kekaguman terpancar dari Asti dan Adi Musti, perwakilan Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), terhadap gelaran Selasa Wagen. Mereka menyoroti model pemberdayaan yang ditampilkan, dimana desa wisata dikembangkan secara aktif oleh Pemerintah DIY.
"Sangat menarik karena di sini ada desa wisata yang benar-benar dikembangkan. Ini sangat bagus sekali untuk membantu para seniman yang ada di desa," ujar mereka, mengapresiasi dampak positif program tersebut bagi pelaku seni.
Keberhasilan ini menjadi pemantik inspirasi. Mereka mengungkapkan bahwa Provinsi NTB pun berkeinginan untuk menciptakan kegiatan serupa yang berkelanjutan.
"Melalui Selasa Wagen, kami mendapat pengalaman baru. Banyak sekali kegiatan positif yang benar-benar tertata rapi dan ini sudah berlangsung lima kali. Semoga bisa berlanjut," tambahnya penuh harapan. Antusiasme itu berujung pada sebuah cita-cita. "Kami dari Taman Budaya NTB berharap dapat mengembangkan kegiatan serupa di daerah kami setiap akhir pekan. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa," tutup mereka, membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi sebuah blueprint untuk menghidupkan ruang budaya di tanah mereka sendiri.
Sebuah Debut dan Harapan di Panggung Penutup
Untuk pertama kalinya, sang penari dari Kalurahan Budaya Panggungharjo ini menginjakkan kaki di panggung Selasa Wagen. Sebuah kebanggaan yang terasa istimewa, meski sekaligus mengandung nuansa haru karena pertunjukan kali ini menjadi penutup gelaran untuk tahun ini. Dalam debutnya itu, telah lahir sebuah tekad dan doa. "Semoga kami dipilih lagi untuk tampil di Selasa Wagen 2026," ujarnya penuh harap, mewakili semangat seluruh kelompok.
Tak lupa, ia menyampaikan pesan untuk penyelenggara. "Pesan kami untuk Selasa Wagen, pokoknya harus lebih 'wah' lagi!" serunya dengan antusias. Semangat itu diiringi dengan komitmen untuk terus berkarya. "Kami akan lebih semangat berlatih. Jika nanti terpilih lagi, kami akan persembahkan yang terbaik, yang lebih baik lagi dari ini." Sebuah janji dari sang penari untuk terus mengasah talenta, sambil berharap panggung budaya seperti Selasa Wagen tetap menjadi rumah bagi kreativitas dan warisan budaya yang hidup. (Fahri)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...