by ifid|| 21 Oktober 2025 || 144 kali
GUNUNGKIDUL - Di bawah langit Gunungkidul, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi menurunkan tirai pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Gelaran selama delapan hari, sejak 11 Oktober, itu bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga catatan manis tentang harmoni antara budaya dan ekonomi. Lapangan Logandeng, Kapanewon Playen, menjadi saksi bisu penutupan yang meriah sekaligus khidmat. Festival yang mengusung tema "Adoh Ratu, Cedhak Watu" sukses merepresentasikan kedekatan manusia dengan tanah kelahiran dan akar tradisinya.
Titik Temu Syukur dan Asa di Penghujung FKY 2025
Penutupan FKY 2025 diawali prosesi "Nandur Donga, Ngrumat Kajat" yang mengalir khidmat dari Pawon Hajat Khasiat menuju Galeri Olah Rupa. Ritual sakral ini menjadi bentuk syukur atas delapan hari penyelenggaraan festival sekaligus doa untuk kelestarian budaya Yogyakarta. Para ibu dari seniman Pawon Hajat Khasiat, rekan media, dan panitia larut dalam doa bersama. Tak sekadar ritual, harapan juga diwujudkan melalui penanaman pohon lo di Lapangan Logandeng—simbol hidup yang merujuk pada asal-usul nama desa dari pohon lo yang tumbuh bergandengan.
Di Galeri Olah Rupa, penutupan pameran Gelaran Olah Rupa berlangsung simbolis diiringi pertunjukan Wayang Beber oleh Mbah Waludeng. Setiap gerak dan alunan cerita sang maestro menjadi jembatan antara warisan masa lalu dengan napas budaya masa kini, mengakhiri FKY 2025 dengan makna yang dalam. Lebih dari sekadar tontonan, FKY 2025 membawa dampak nyata bagi perekonomian warga. Festival ini tercatat memutar perekonomian lokal lebih dari Rp550 juta selama pelaksanaannya. Angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa gelaran budaya mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang signifikan, memberikan napas segar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
"Budaya Adalah Mesin Pembangunan yang Nyata"
Menurut Aria Nugrahadi, Asisten Sekda DIY, penutupan FKY 2025 di Gunungkidul bukan sekadar akhir dari sebuah acara, melainkan bukti nyata dari kolaborasi yang solid antara Pemerintah DIY dengan komunitas dan masyarakat pemilik kebudayaan.
Aria menegaskan bahwa filosofi "Adoh Ratu, Cedhak Watu" yang diusung festival ini telah terwujud secara konkret melalui partisipasi aktif warga. Keberhasilan FKY 2025, dengan catatan perputaran ekonomi lebih dari Rp550 juta, menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan budaya yang berbasis pada pelibatan masyarakat membuahkan hasil yang signifikan, baik secara kultural maupun ekonomi.
"Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Daerah DIY untuk menempatkan kebudayaan sebagai engine of development," ujar Aria. "Ketika masyarakat diberi ruang untuk menjadi subjek, bukan hanya objek, maka kebudayaan akan tumbuh berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan." Lebih lanjut, Aria menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, terutama masyarakat Gunungkidul, yang telah menjadikan FKY 2025 sebagai ruang bersama untuk merayakan sekaligus menguatkan identitas budaya Yogyakarta. Partisipasi inilah yang menjadi fondasi terkuat bagi pelestarian kebudayaan ke depan.
Cerita dari Gunungkidul tentang Seni yang Hidup dan Menghidupi
Menapaki perjalanan panjang sejak dekade 1980-an, FKY tahun ini genap memasuki edisi ke-36. Dengan mengusung tema "Adoh Ratu Cedak Watu", festival ini sengaja mengangkat dialektika jarak antara kekuasaan dengan denyut nadi kebudayaan akar rumput. Sebuah tema yang terasa semakin relevan di tengah gempuran modernitas yang kerap mengaburkan identitas kultural masyarakat.
Direktur FKY 2025, Basundara Murba Anggana, menegaskan bahwa partisipasi masyarakat menjadi napas utama penyelenggaraan festival kali ini. "Yang membedakan FKY tahun ini adalah komitmen kami untuk melibatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama," ujarnya.
Komitmen itu terwujud nyata di Gunungkidul. Tidak hanya menampilkan seniman profesional, warga lokal pun mengambil peran sentral dalam setiap lini penyelenggaraan. Mulai dari struktur kepanitiaan, pengisi acara, hingga pelaku UMKM yang menghidupkan lapak-lapak ekonomi kreatif di sekitar lokasi festival. Kehadiran mereka menjadi bukti hidup bahwa kebudayaan memang bermula dari, dan untuk, rakyat.
"Perayaan Hidup Bersama"
Dalam perayaan penutupan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menyampaikan penghargaannya. "Ini adalah bukti bahwa kerja gotong-royong mampu menjadikan FKY sebagai perayaan hidup bersama dalam kebudayaan," ujarnya, mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, pelaku seni, UMKM, komunitas, hingga pemerintah daerah.
Dian menutup dengan sebuah harapan yang dalam, "Semoga segala eksplorasi, riset, dan pengembangan kebudayaan yang telah dilakukan selama FKY 2025 ini tidak berhenti di sini. Mari kita lanjutkan dengan kesetiaan dan kesadaran penuh." Sebuah pesan yang mengukuhkan bahwa penutupan festival ini bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen baru untuk kebudayaan yang lebih hidup dan bermakna.
Melebihi Sekadar Pertunjukan
Di antara gemerlap panggung penutupan FKY 2025, Jumat Gombrong (Jumbrong) tak hanya hadir sebagai bintang tamu, tetapi juga membuktikan konsistensinya sebagai band musik yang mampu menyihir penonton. Bersama Orkes Keroncong Lintang Kanistha, Sigit Nurwanto, Sanggar Seni Rawikara Nari Bahuwana (SSRNB), dan FSTVLST, mereka merajut bunyi dari sore hingga malam, menciptakan simfoni budaya yang menyatu dengan semangat warga Gunungkidul.
"Antusiasme warga di sini di luar dugaan," aku Jumbrong, masih terbawa euforia. Baginya, manggung perdana di Gunungkidul bukan sekadar urusan panggung, melainkan sebuah pertemuan budaya yang menyentuh hati. "Dari depan sampai belakang, semua terasa hangat. Ini pengalaman yang membuat kami terharu."
Jumbrong menilai FKY 2025 berhasil menciptakan ruang yang tak hanya meriah, tetapi juga penuh makna. "Penarinya keren, acaranya seru, dan yang paling penting, penontonnya hidup," ujarnya. Ia berpesan: "FKY harus tetap seperti ini—asyik dan meriah, tapi tidak kehilangan roh budaya. Jangan hanya ramai di angka, tapi juga harus bermakna di hati." Harapannya sederhana: agar FKY tak berhenti pada gegap gempita pesta, tetapi terus menjadi ruang di mana musik dan budaya benar-benar dapat dirasakan, dihidupi, dan dirayakan bersama. (Fahri)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...