by ifid|| 21 Oktober 2025 || 157 kali
Yogyakarta kembali mengukuhkan komitmennya sebagai kota pelestari warisan dunia. Jumat, 17 Oktober 2025, menjadi momen bersejarah dengan dibukanya secara resmi Jogja World Heritage Festival (JWHF) #3 oleh Dinas Kebudayaan DIY melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi. Selama dua hari penuh, 17-18 Oktober 2025, bertempat di Plaza Ngasem, Jogja World Heritage Festival (JWHF) #3 berhasil menciptakan ruang dialog istimewa antara tradisi dan modernitas. Di bawah tema "Legacy for Prosperous Living", festival yang digelar Dinas Kebudayaan DIY ini membuktikan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus bernapas dalam denyut nadi masyarakat Yogyakarta.
Hadirkan Makna Baru Sumbu Filosofi
Mengangkat tema "Legacy for Prosperous Living", festival ini menegaskan komitmen untuk mengaktualisasikan Sumbu Filosofi dari sekadar peninggalan sejarah menjadi inspirasi yang menghidupi masyarakat masa kini dan mendatang. Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi secara resmi membuka Jogja World Heritage Festival (JWHF) 2025 dalam prosesi simbolis di Plaza Ngasem, Jumat (17/10). Momen pembukaan ini menandai dimulainya perhelatan budaya yang bertujuan menghubungkan warisan tradisi dengan kehidupan kontemporer.
Panggung utama langsung diramaikan oleh gelaran kesenian dari berbagai kemantren. Tari Sintren dari Kemantren Gondomanan berhasil memukau ratusan penonton dengan keanggunan gerak dan kedalaman filosofisnya. Kemeriahan terus berlanjut dengan flashmob kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan inklusif.
JWHF tahun ini mengajak keterlibatan aktif masyarakat. Festival ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dengan Pokjanis, LPMK, karang taruna, dan tokoh masyarakat di sepanjang koridor Sumbu Filosofi. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat rasa handarbeni, tetapi juga menunjukkan bahwa pelestarian warisan dunia adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Yogyakarta.
Wujudkan Sumbu Filosofi sebagai Penggerak Kesejahteraan
Sekretaris DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa JWHF bukan sekadar perayaan simbolis. Menurutnya, festival ini merupakan langkah nyata untuk menerjemahkan makna Sumbu Filosofi dari Panggung Krapyak hingga Tugu menjadi sebuah panggung yang membumi bagi kesejahteraan masyarakat.
"Tujuannya agar masyarakat tidak hanya memahami Sumbu Filosofi sebagai konsep filosofis semata, tetapi dapat merasakan langsung manfaat ekonominya," ujar Ni Made di sela-sela acara.
Made mengakui bahwa selama ini pemahaman masyarakat seringkali terbatas pada aspek simbolis dari poros budaya tersebut. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah DIY berkomitmen untuk mentransformasikannya menjadi sumber kehidupan yang nyata.
"Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan beragam potensi yang dimiliki masyarakat di sepanjang kawasan Sumbu Filosofi, baik di bidang budaya maupun ekonomi kreatif. Harapannya, hal ini dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan mereka," pungkasnya.
Wadah Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Lestarikan Sumbu Filosofi
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa JWHF merupakan perwujudan komitmen bersama dalam mengapresiasi penetapan Sumbu Filosofi sebagai Warisan Budaya Dunia. Festival ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga mempromosikan nilai-nilai penting kawasan "The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmark" kepada masyarakat luas.
"Konsep festival ini adalah 'dari warga, oleh warga, untuk warga'. Selama dua hari, kami bersama-sama melakukan berbagai aktivitas untuk memahami nilai-nilai penting Kawasan Sumbu Filosofi," ujar Dian dalam pembukaan festival.
Rangkaian acara dirancang secara komprehensif, mulai dari sosialisasi dan edukasi melalui talk show, gelar UMKM yang menunjukkan manfaat nyata Sumbu Filosofi bagi perekonomian masyarakat, hingga kegiatan Amazing Race yang mengajak peserta menelusuri kawasan sambil mempelajari makna filosofis melalui berbagai kuis dan pertanyaan interaktif. Yang tak kalah penting, festival ini juga menjadi momentum peluncuran website resmi Kawasan Sumbu Filosofi yang dapat diakses di jogjaworldheritage.jogjaprov.go.id.
"Website ini kami sediakan untuk mengakomodasi semua kebutuhan informasi dan data mengenai Kawasan Sumbu Filosofi," jelas Dian.
Ketika Warisan Budaya Menjadi Nadi Kehidupan
Sebagai penutup rangkaian acara, JWHF 2025 telah membuktikan bahwa pelestarian budaya bukanlah sekadar ritual yang terkunci dalam museum. Melalui gelaran selama dua hari (17-18 Oktober) ini, Sumbu Filosofi warisan dunia yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Tugu—berhasil dihadirkan sebagai entitas yang hidup, bernapas, dan relevan dengan denyut kehidupan modern.
Festival yang mengusung tema "Legacy for Prosperous Living" ini menjadi ruang pertemuan istimewa antara tradisi dan kontemporer. Dari prosesi pembukaan yang khidmat di Plaza Ngasem, gelaran seni budaya yang memukau, hingga Amazing Race yang mengajak 100 peserta menjelajahi Beteng Keraton setiap momen berhasil menjahit makna filosofis ke dalam pengalaman partisipatif yang menyenangkan.
Yang paling membekas adalah transformasi paradigma yang berhasil dihadirkan festival ini. Sumbu Filosofi tidak lagi sekadar garis imajiner dalam peta, tetapi telah menjadi nadi yang menghidupi mulai dari geliat ekonomi kreatif UMKM, semangat kebersamaan dalam flashmob kolaboratif, hingga komitmen generasi muda yang diwakili oleh penampilan Band WAWES. (Fahri)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...