by ifid|| 05 November 2025 || 159 kali
Yogyakarta sebuah tempat seni dan budaya menjadi denyut nadi, yang berdetak dalam keseharian warganya. Warisan leluhur ini tidak hanya menjadi jiwa kota, tetapi juga telah menjadi napas pencaharian bagi banyak masyarakatnya. Semangat kolektif dalam merawat tradisi inilah yang mengukuhkan Yogyakarta sebagai salah satu episentrum kebudayaan di Indonesia. Dalam gelora pelestarian yang digerakkan dari akar rumput ini, kehadiran pemerintah sebagai fasilitator menjadi penopang yang krusial. Melalui Sub Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Lembaga Budaya, Pemerintah Daerah DIY turun tangan guna memastikan para pelaku seni dapat berkarya dengan lebih optimal melalui Kajian Kemanfaatan Sarana dan Prasarana Lembaga Budaya.
Optimalkan Dana Keistimewaan untuk Lembaga Budaya Yogyakarta
Kajian ini difokuskan untuk mengevaluasi sejauh mana bantuan sarana dan prasarana yang telah disalurkan benar-benar dimanfaatkan oleh berbagai lembaga budaya. Tujuannya jelas: memetakan kontribusi nyata hibah tersebut dalam memperkuat jejak hidup ekosistem kebudayaan di Yogyakarta. Hasil evaluasi ini nantinya tidak hanya menjadi laporan administratif belaka, melainkan dijadikan fondasi kebijakan yang krusial. Diharapkan, Dana Keistimewaan yang menjadi hak dan ciri khas Yogyakarta dapat dioptimalkan penggunaannya. Targetnya adalah agar setiap rupiah yang dikeluarkan lebih tertuju pada sasaran, menjangkau lebih banyak komunitas, dan meninggalkan dampak yang lebih luas serta berkelanjutan bagi masyarakat.
Dukungan Nyata untuk Ekosistem Seni
Komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam memajukan kebudayaan tidak hanya sekadar wacana. Pada Tahun Anggaran 2025, langkah strategis ini akan diwujudkan dalam bentuk penyaluran hibah peralatan seni yang menyeluruh dan tepat sasaran. Bantuan ini secara khusus dialokasikan bagi sanggar-sanggar seni serta lembaga budaya nirlaba yang telah aktif menjadi ujung tombak pelestarian budaya.
Jenis bantuan yang diberikan pun dipilih secara khusus untuk memenuhi kebutuhan esensial para pelaku seni. Mulai dari seperangkat Gamelan Besi sebagai instrumen pokok, beragam peralatan seni pendukung, hingga kostum atau pakaian seni yang vital bagi sebuah pertunjukan. Pemberian bantuan ini dirancang untuk memberikan dampak yang komprehensif, dengan sejumlah tujuan strategis:
Napas Baru Seni Budaya DIY Mulai Berdentang
Setelah melalui proses yang matang, program pengadaan Gamelan Besi Laras Pelog Slendro Gaya Yogyakarta telah rampung dilaksanakan. Proses pembuatan instrumen kebanggaan masyarakat ini memakan waktu kurang lebih 90 hari, dimulai sejak 1 Juli hingga 30 September 2025. Sementara itu, proses pemilihan penyedia dan penandatanganan kontrak untuk pengadaan Pakaian dan Peralatan Kesenian lainnya telah lebih dulu diselesaikan pada bulan Juli. Proses serah terima akhirnya dilakukan pada 18 September 2025, yang diikuti dengan rangkaian pengiriman ke berbagai penjuru DIY.
Secara bertahap, seperangkat gamelan pun mulai didistribusikan ke sanggar-sanggar seni dan komunitas budaya, menghidupkan kembali denyut nadi kesenian tradisional di berbagai wilayah. Berikut adalah kronologi penyerahan bantuan tersebut:
Hibah Peralatan Seni Perkuat Eksistensi Budaya Yogyakarta
Dengan pendekatan yang tepat sasaran, denting gamelan besi tak lagi sekadar terdengar terbatas di balik dinding sanggar-sanggar seni. Melainkan, alunan nadanya diharapkan mampu bergema lebih lantang, merasuk ke dalam sanubari generasi muda, dan sekaligus meneguhkan identitas Keistimewaan Yogyakarta di kancah yang lebih luas.
Kehadiran bantuan peralatan seni ini diharapkan dapat segera memacu geliat kreativitas di berbagai pelosok DIY. Bagi para pelaku budaya, fasilitas yang memadai ini bukan sekadar bantuan materiil, melainkan sumber inspirasi baru untuk terus berkarya dan melestarikan warisan seni yang telah diwariskan turun-temurun. Harmoni antara kebijakan dan kreativitas inilah yang akan menjaga denyut nadi kebudayaan Yogyakarta tetap berdetak kuat, menghidupkan tradisi sembari melangkah pasti menuju masa depan. (Fahri)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...