by ifid|| 16 November 2025 || 167 kali
Gedung Saraswati, Museum Negeri Sonobudoyo, menjadi gerbang waktu yang terbuka pada Selasa, 11 November 2025. Di sanalah Festival Jogja Tempo Doeloe 2025 secara resmi dibuka, mengusung semangat "Naskah Lestari, Budaya Abadi". Suasana khidmat seketika menyelimuti acara, mengawali sebuah perjalanan budaya untuk menapaki kembali jejak keagungan masa lalu. Dengan tagline “Naskah Lestari, Budaya Abadi”, perhelatan ini bukan sekadar pameran biasa. Pengunjung diajak mengalami langsung napas sejarah melalui eksibisi naskah-naskah kuno, menikmati keagungan arsitektur warisan, dan menyaksikan seni budaya yang dihidupkan kembali dalam berbagai pertunjukan. Setiap sudut acara, dari tanggal 11 hingga 13 November 2025, berhasil menangkap esensi suasana Yogyakarta tempo dulu yang sarat akan nilai dan cerita.
Menyusuri Lorong Waktu, Menemukan Jejak Sang Raja dalam Setiap Naskah dan Batu
Pameran ini hadir layaknya mesin waktu yang mengajak setiap pengunjung melakukan penelusuran sejarah secara imersif. Bukan sekadar melihat pajangan di balik etalase, melainkan menyelami langsung pemikiran, visi, dan kebesaran Sang Raja yang masih terasa hangat membekas. Jejak-jejak itu dapat ditelusuri melalui tiga dimensi: dari goresan tinta emas dalam naskah-naskah kuno yang menyimpan kearifan, kemegahan karya arsitektur yang berdiri kokoh menjadi saksi bisu, hingga berbagai peninggalan peradaban yang mengukir narasi tentang sebuah era keemasan. Setiap bagian pameran dirancang sebagai dialog antar generasi, di mana warisan budaya tidak lagi menjadi sekadar relik masa lalu, melainkan sebuah living history yang terus bernapas dan berbicara kepada kita di masa kini. Pengunjung diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari perjalanan menemukan kembali identitas yang terpatri dalam setiap peninggalan tersebut.
Melalui Naskah Kuno, Festival Yogyakarta Tempo Dulu 2025 Buktikan Masa Lalu adalah Jendela Masa Depan
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, festival tahun ini mengambil pendekatan unik dengan menjadikan naskah kuno sebagai pintu gerbang menuju masa lalu. "Naskah Lestari Budaya Abadi yang kami angkat sebagai tema, dimaknai sebagai jendela informasi yang menghubungkan kita dengan jejak peradaban masa lampau," ujarnya.
Lebih dari sekadar flashback, festival ini dirancang sebagai upaya kontekstualisasi nilai-nilai masa lalu untuk menjawab tantangan masa kini dan mendatang. "Kita tidak hanya menelusuri, tetapi juga memurnikan dan mewujudkan warisan tersebut dalam perkembangan kekinian," tambah Dian. Rangkaian kegiatan yang disiapkan pun beragam dan partisipatif. Mulai dari seminar dan workshop membaca aksara Jawa hingga konservasi naskah, dengan pameran sebagai highlight utama. "Pameran ini akan menunjukkan bagaimana literasi budaya menjadi pondasi penting untuk membangun pengetahuan menuju masa depan," jelas Dian. Dian menutup dengan pesan filosofis, "Mau mengapresiasi masa depan, lihatlah masa lalu."
Membongkar Misteri Naskah Kuno
Workshop Membaca Aksara Kuno ini menjadi salah satu rangkaian andalan dalam Festival Jogja Tempo Doeloe 2025 yang mengusung tema "Naskah Lestari, Budaya Abadi".
Di bawah bimbingan pakar filologi, Gunawan Sambodo, peserta tidak hanya diajak mengenal aksara-aksara kuno, tetapi juga memahami filosofi dan nilai budaya yang tersimpan dalam setiap goresan tulisan. "Membaca naskah kuno ibarat berdialog dengan nenek moyang. Setiap aksara menyimpan kearifan yang relevan hingga masa kini," ujar Gunawan dalam sesi interaktif tersebut. Workshop yang berlangsung hangat dan partisipatif ini menghadirkan pengalaman langsung bagi peserta untuk mempraktikkan pembacaan naskah asli. Setiap peserta bahkan dibekali kit khusus yang berisi replika naskah dan alat baca, memungkinkan mereka melatih kemampuan paleografis secara mandiri.
Menjaga Jejak Peradaban
Puluhan tangan dengan hati-hati membuka lembaran naskah berusia ratusan tahun. Mereka bukan sedang membaca, melainkan belajar menjadi "dokter" bagi naskah-naskah kuno yang renta. Workshop Konservasi Naskah Kuno ini menjadi bagian penting dari Festival Jogja Tempo Doeloe 2025, yang bertujuan melestarikan warisan literasi Nusantara dari kepunahan.
Dipandu langsung oleh tim konservasi Museum Sonobudoyo, peserta diajak menyelami dunia preservasi naskah kuno. Mulai dari mengidentifikasi jenis-jenis kerusakan—seperti lapuk, jamur, atau gigitan serangga—hingga mempelajari teknik pembersihan dan penyimpanan yang tepat untuk memastikan naskah tetap bertahan untuk generasi mendatang. Antusiasme datang dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, peneliti muda, pegiat budaya, hingga masyarakat umum. Semua bersatu dalam semangat yang sama, yaitu melestarikan warisan leluhur.
Merawat Ingatan, Menjaga Identitas
Seminar bertajuk “Pelestarian Cagar Budaya: Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas” sukses menjadi ruang pertemuan para pakar, pegiat budaya, dan masyarakat untuk merefleksikan kembali arti penting cagar budaya sebagai penjaga jati diri bangsa.
Dipandu Jujun Kurniawan, tiga narasumber menghadirkan perspektif beragam tentang pelestarian cagar budaya. Yuwono Sri Suwito menekankan cagar budaya sebagai penanda memori kolektif bangsa, seraya menegaskan, "Kita tak hanya merawat fisik, tapi juga nilai dan ingatan luhur di dalamnya." Revianto Budi Santosa mengajak peserta menelusuri jejak arsitektur warisan, khususnya kontribusi Thomas Karsten dan tata ruang tradisional Kasultanan yang membentuk karakter masyarakat. Sementara KMT Yudawijaya menyoroti peran keraton sebagai pusat nilai yang terus hidup dalam laku budaya sehari-hari.
Melalui seminar ini, Festival Jogja Tempo Doeloe 2025 menegaskan komitmennya menjadikan cagar budaya sebagai fondasi identitas, inspirasi, dan penguat karakter masyarakat Yogyakarta dan menjadi rangkaian penutup pada Festival Jogja Tempo Doeloe. (Fahri)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...