Seminar Catur Sagatra: Oase Hening di Tengah Deru Zaman

by ifid|| 27 November 2025 || 624 kali

...

YOGYAKARTA — Sejarah panjang wangsa Mataram seolah berhenti sejenak, memberi ruang bagi sebuah pertemuan agung yang melampaui sekat-sekat administratif. Dalam balutan suasana yang khidmat namun hangat, Seminar Catur Sagatra 2025 hadir bukan sekadar sebagai diskursus akademis, melainkan sebuah pisowanan gagasan yang mempertemukan kembali empat pewaris tahta Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Ini adalah panggung istimewa di mana denyut nadi masa lalu diselaraskan dengan nafas zaman, menegaskan sebuah pesan luhur: bahwa meski terbagi dalam empat pilar berbeda, roh kebudayaan Jawa tetap berdegup kokoh dalam satu jantung yang sama, kamis (27/11/2025) di  salah satu sudut tenang Mustika Yogyakarta Resort & Spa, waktu seolah melambat, memisahkan diri dari hiruk-pikuk jalanan Yogyakarta yang mulai padat merayap. Pagi itu bukan pagi biasa. Udara terasa lebih "berisi", sarat dengan wibawa dan hening yang magis.

Di dalam balairung utama, sejarah panjang tanah Jawa yang pernah koyak oleh tajamnya pena politik kolonial, kini sedang ditenun kembali. Ratusan tahun silam, Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757) membelah wangsa Mataram menjadi kepingan-kepingan terpisah. Namun hari ini, di bawah satu atap, empat pewaris takhta Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pura Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman duduk melingkar. Bukan untuk menuntut wilayah, bukan untuk berebut kuasa, melainkan untuk sebuah misi yang jauh lebih luhur: menyembuhkan jiwa manusia modern yang k kian rapuh.

Seminar Catur Sagatra 2025 hadir dengan tajuk yang terdengar purba namun terasa sangat futuristik: “Wellness – Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”. Ini adalah panggung pembuktian bahwa "Catur Sagatra" empat pilar dalam satu tubuh masih memiliki detak jantung yang sama. Mereka hadir membawa Kalyana, sebuah konsep kesejahteraan paripurna warisan leluhur untuk menjawab kegelisahan zaman.

Pisowanan Agung Gagasan

Saat acara dibuka, suasana terasa khidmat namun hangat. Sekat-sekat administratif yang selama berabad-abad memisahkan Solo dan Yogyakarta seolah runtuh. Yang tersisa hanyalah semangat sedulur (persaudaraan).

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam laporannya menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar reuni seremonial. "Kehadiran panjenengan sedaya merupakan kehormatan besar dan peneguh semangat bersama dalam menjaga keberlanjutan nilai Mataram Islam," ucapnya dengan suara bergetar menahan haru.

Dian menyoroti bahwa Catur Sagatra tahun ini membawa misi strategis. Di tengah era disrupsi digital, di mana manusia semakin terkoneksi secara maya namun terisolasi secara batin, Keraton tidak boleh lagi hanya menjadi museum benda mati. Keempat istana ini harus bertransformasi menjadi mata air wellness (kesehatan holistik).

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, memperkuat narasi tersebut dengan data yang menohok. Dalam sambutannya, ia tidak berbicara klenik, melainkan sains dan kebijakan publik. "Karakter budaya menyumbang pengaruh hingga 26% terhadap keberhasilan Sustainable Development Goals (SDGs) antar negara," paparnya.

Pernyataan ini mengubah paradigma seluruh peserta seminar. Budaya bukan lagi sekadar tontonan pelengkap pariwisata, melainkan variabel kunci kesehatan masyarakat. "Nilai Hamemayu Hayuning Bawana bukan sekadar slogan di spanduk, tapi prinsip preventive wellness. Ini tentang menjaga keseimbangan mikrokosmos (diri) dan makrokosmos (semesta) sebelum penyakit datang," tambah Ni Made.

Membongkar Resep 'Kalyana'

Istilah Kalyana diambil dari bahasa Kawi yang bermakna kebahagiaan, kesejahteraan, atau keutamaan. Namun dalam konteks Catur Sagatra 2025, Kalyana dimaknai sebagai kasantosaning urip hidup yang sentosa, seimbang antara raga, rasa, dan ruh.

Seminar ini menjadi etalase bagaimana setiap entitas Catur Sagatra menerjemahkan konsep Kalyana sesuai dengan gagrag (gaya) masing-masing.

Kasunanan Surakarta: Rahasia di Balik Kinang K.R.A. Tejo Bagus Sunaryo Budoyonagoro dari Kasunanan Surakarta membuka wawasan peserta tentang tradisi fisik yang sering dianggap remeh: Nyirih Kinang. Terutama yang dilakukan saat perayaan Grebeg Mulud.

Selama ini, masyarakat awam melihat nginang (mengunyah sirih) hanya sebagai kebiasaan nenek moyang yang membuat gigi merah. Namun, K.R.A. Tejo Bagus membedahnya dari sisi medis tradisional. "Ini adalah mekanisme detoksifikasi alami," jelasnya. Campuran daun sirih, kapur sirih, gambir, tembakau, dan pinang memiliki zat antiseptik dan penguat email gigi yang luar biasa.

Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan kesabaran. Proses meracik hingga mengunyah membutuhkan ketelatenan. Di tengah dunia instan fast food, Surakarta mengingatkan kembali pentingnya proses "mengunyah" hidup dengan perlahan dan penuh kesadaran.

Kasultanan Yogyakarta: Menari untuk Waras Jika Surakarta berbicara raga, Kasultanan Yogyakarta melalui K.R.T. Sindurejo mengajak peserta menyelami kedalaman jiwa melalui Joged Mataram. Dengan topik "Tari Klasik Jogja: Tubuh dan Jiwa", ia meruntuhkan anggapan bahwa tari hanya soal estetika panggung.

"Tari klasik gaya Yogyakarta adalah bentuk meditasi bergerak," ungkap K.R.T. Sindurejo. Dalam filosofi Joged Mataram, terdapat empat pilar utama: Sawiji (konsentrasi total), Greget (semangat yang terkendali), Sengguh (percaya diri tanpa kesombongan), dan Ora Mingkuh (pantang menyerah).

Gerakan tari yang lambat, napas yang diatur, dan pandangan mata yang polatan (fokus namun teduh) adalah latihan mindfulness tingkat tinggi. Ini adalah antitesis dari gaya hidup multitasking yang merusak saraf manusia modern. Menari, dalam konteks Jogja, adalah terapi untuk menyelaraskan ritme jantung dengan ritme semesta.

Pura Pakualaman: Psikologi dalam Selembar Kain Sesi menjadi semakin puitis ketika G.K.B.R.A.A. Paku Alam memaparkan materi bertajuk "Ketika Batik Berbicara: Piwulang Asthabrata sebagai Panduan Wellness".

Batik Pakualaman dengan motif Asthabrata bukan sekadar kain pembungkus tubuh, melainkan selimut jiwa. Asthabrata mengajarkan delapan karakter kepemimpinan alam: Matahari (memberi energi), Bulan (menerangi dalam gelap), Bintang (menjadi pedoman), Angin (halus namun merata), Mendung (berwibawa tapi meneduhkan), Api (tegas membakar angkara), Samudra (luas hati menerima masukan), dan Bumi (sabar menanggung beban).

"Memahami dan memakai batik ini adalah sugesti psikologis," tutur Gusti Putri. Ini adalah bentuk art therapy atau terapi visual. Saat seseorang membatik atau mengenakan motif ini, ia sedang memprogram alam bawah sadarnya untuk memiliki mental yang stabil dan bijaksana. Sebuah pendekatan psikoterapi visual yang sudah ada jauh sebelum psikologi barat masuk ke Nusantara.

Pura Mangkunegaran: Adaptasi Sang Kosmopolitan Melengkapi spektrum ini, Kadipaten Mangkunegaran yang diwakili G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo membawa napas kesegaran. Sesuai dengan karakter Mangkunegaran yang dikenal luwes, modern, dan kosmopolitan, materinya menyoroti integrasi wellness dalam gaya hidup kontemporer.

Mangkunegaran menunjukkan bagaimana tradisi tidak harus anti-modernitas. Mereka mengemas ulang jamu, latihan olah tubuh, dan tata ruang istana menjadi pengalaman wellness yang relevan bagi Generasi Z. Pura Mangkunegaran menjadi bukti bahwa budaya Jawa bisa berjalan beriringan dengan tren kesehatan global tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Harmoni dalam Perbedaan (Gagrag)

Salah satu poin paling memikat dari Seminar Catur Sagatra 2025 adalah perayaan atas perbedaan. Meskipun keempat keraton ini lahir dari rahim yang sama Mataram Islam evolusi sejarah telah membentuk karakter yang unik.

Dalam seminar ini, peserta diajak melihat bahwa perbedaan detail busana (seperti bentuk blangkon yang berbeda antara Jogja dan Solo), perbedaan langgam gamelan, hingga perbedaan filosofi gerak tari, bukanlah jurang pemisah.

"Masa lalu adalah cermin, bukan tembok," sebuah kutipan anonim yang menggema di ruangan seminar terasa sangat relevan. Dulu, perbedaan ini mungkin menjadi alasan gesekan politik. Namun hari ini, perbedaan gagrag justru dirayakan sebagai kekayaan khazanah budaya Jawa.

Surakarta dengan kehalusannya yang nges (menyentuh hati), Yogyakarta dengan kegagahannya yang nyawiji, Pakualaman dengan karakternya yang khas, dan Mangkunegaran dengan dinamikanya. Keempatnya adalah bunga-bunga di Taman Sari Mataram. Ketika disatukan dalam konsep Wellness, mereka saling melengkapi menjadi satu paket pengobatan holistik yang sempurna bagi peradaban.

Relevansi di Era Digital dan Gen Z

Tantangan terbesar yang didiskusikan dalam forum ini adalah regenerasi. Bagaimana agar resep Kalyana ini tidak berhenti di ruang seminar atau perpustakaan kuno?

Para pembicara sepakat bahwa digitalisasi adalah kunci, namun adaptasi adalah nyawanya. Video seminar yang diunggah oleh Dinas Kebudayaan DIY menjadi salah satu langkah awal membuka akses publik. Namun, lebih dari itu, narasumber menekankan perlunya "penerjemahan" bahasa budaya ke dalam bahasa anak muda.

Generasi Z dan Alpha yang kini bergulat dengan isu mental health, burnout, dan krisis identitas, sesungguhnya sedang mencari pegangan. Filosofi Adiluhung yang ditawarkan Catur Sagatra adalah jawabannya.

"Anak muda sekarang mencari healing. Padahal leluhur kita sudah punya konsep Tapa Brata dan Mesambedi yang esensinya sama dengan healing atau meditasi," ujar salah satu budayawan yang hadir. Tantangannya adalah mengemas Nyirih Kinang atau Joged Mataram agar tidak terlihat sebagai aktivitas kuno, melainkan sebagai gaya hidup vintage yang berkelas dan menyehatkan.

Refleksi Catur Sagatra, Sebuah Oase Perdamaian

Menjelang penutupan, makna Catur Sagatra Empat Pilar, Satu Jiwa terasa semakin mendalam. Seminar ini memberikan pesan moral yang kuat tentang rekonsiliasi.

Di tengah polarisasi masyarakat Indonesia yang sering terbelah karena pilihan politik, keempat raja Jawa ini memberikan teladan Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Mereka mengangkat tinggi martabat leluhur dengan bersatu, dan mengubur dalam-dalam ego sektoral masa lalu.

"Tunggal Rasa" perasaan senasib sepenanggungan sangat kental terasa. Peserta yang berjumlah sekitar 75 orang hari itu menjadi saksi sejarah. Mereka melihat bagaimana Pangeran dari Solo dan Pangeran dari Jogja tertawa bersama, mendiskusikan masa depan budaya. Ini adalah simbol bahwa tidak ada konflik yang abadi jika kita mau kembali ke akar budaya.

Harapan dari Maguwoharjo

Matahari mulai condong ke barat saat seminar berakhir. Namun, cahaya harapan baru saja terbit dari Maguwoharjo.

Pemerintah DIY, melalui Dinas Kebudayaan, berkeinginan seminar ini sebagai landasan kebijakan Culture-Driven Wellness Policy. Bayangkan masa depan di mana rumah sakit di Yogyakarta atau Jawa Tengah tidak hanya memberikan obat kimia, tetapi juga menyarankan pasien stres untuk belajar membatik pola Semen Rama atau berlatih napas ala tari bedhaya.

Seminar Catur Sagatra 2025 telah meletakkan batu pertamanya. Empat pewaris Mataram telah sepakat: tugas mereka kini bukan lagi menjaga benteng pertahanan dari serangan musuh fisik, melainkan menjaga benteng pertahanan jiwa manusia dari serangan kekosongan makna.

Sejarah mencatat mereka pernah terpisah. Namun masa depan mencatat mereka telah kembali "pulang" ke dalam satu rumah besar bernama Kebudayaan Jawa. Dan bagi kita, manusia modern yang lelah mengejar dunia, pintu rumah itu kini terbuka lebar, menawarkan Kalyana sebuah kedamaian yang sejati.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta