by ifid|| 07 Desember 2025 || 618 kali
GOR Amongraga, yang biasanya identik dengan kompetisi olahraga modern, menampilkan wajah berbeda sepanjang akhir pekan lalu. Dari tanggal 5 hingga 7 Desember 2025, gedung olahraga ini riuh bukan oleh suporter basket atau voli, melainkan oleh ribuan warga yang merayakan identitas mereka. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar perhelatan bertajuk "Dodolanan", sebuah inisiatif strategis untuk mempertemukan potensi ekonomi desa dengan pelestarian budaya dalam satu ruang fisik yang nyata.

Acara ini bukan sekadar seremoni. Data lapangan mencatat perputaran uang puluhan juta rupiah, ribuan pengunjung, dan kompetisi fisik yang menguras keringat. Ini adalah laporan lengkap tentang bagaimana tiga hari tersebut berlangsung, dari upacara pembukaan hingga lampu panggung dipadamkan.
Jumat siang, 5 Desember 2025, menjadi titik awal. Di luar gedung, parkiran dipenuhi kendaraan dari berbagai kabupaten Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di dalam, suasana terasa padat namun tertata.
Acara ini mengusung tema "Dodolanan", sebuah akronim dari tiga kata kerja dalam bahasa Jawa: Dodolan (berjualan), Dolan (bepergian/berkunjung), dan Dolanan (bermain). Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam laporannya menegaskan bahwa konsep ini dipilih bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai solusi praktis. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem di mana pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan keuntungan ekonomi.

“Kami ingin menghadirkan ruang yang menyatukan aktivitas ekonomi, hiburan, dan tradisi. Pengunjung bisa menonton atraksi, berbelanja produk unggulan desa, sekaligus mencoba permainan tradisional,” ujar Dian.
sementa itu, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Sosial, Budaya, dan Kemasyarakatan, Didik Wardaya, hadir mewakili Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, untuk membuka acara. Dalam sambutannya, Didik menyoroti realitas sosial masyarakat modern yang kian berjarak.
“Permainan tradisional seperti Gobak Sodor dan Engklek mengingatkan kita bahwa nilai kebersamaan, disiplin, dan kecakapan membaca situasi adalah bagian penting pembentukan karakter. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai ini menjadi pegangan penting,” tegas Didik di hadapan perwakilan 50 Kelurahan Budaya.
Pembukaan dimeriahkan dengan defile kontingen. Wajah-wajah bangga dari 50 kelurahan budaya se-DIY tampak jelas. Mereka bukan hanya membawa panji daerah, tetapi membawa harapan agar potensi wilayah mereka dikenal lebih luas.

Jika ada bagian yang paling "hidup" dan jauh dari kesan formalitas, itu adalah kompetisi Gobak Sodor. Ini adalah atraksi utama yang menyedot perhatian terbesar. Panitia tidak main-main dalam menyelenggarakannya; ini adalah turnamen resmi antar Kalurahan/Kelurahan Budaya.
Lantai GOR Amongraga disulap menjadi beberapa lapangan garis. Aturan main diterapkan dengan ketat. Peserta terbagi menjadi dua kategori besar: Tim Putra dengan 26 kontingen dan Tim Putri dengan 24 kontingen.
Pertandingan berlangsung keras namun sportif. Tidak ada gerakan gemulai tarian di sini; yang ada adalah adu kecepatan, strategi memotong jalur lawan, dan ketahanan fisik. Penonton di tribun berteriak memberikan instruksi, menciptakan keriuhan yang nyata selayaknya pertandingan olahraga profesional.
Tim dari Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul terlihat mendominasi dengan fisik yang prima, sementara tim dari Kota Yogyakarta dan Bantul bermain dengan taktik yang rapi. Jatuh bangun di lapangan adalah pemandangan biasa. Bagi para peserta, ini bukan sekadar permainan anak-anak, melainkan pertaruhan gengsi antar-desa.
Keseriusan ini mencapai puncaknya pada hari Minggu. Di babak final, Kalurahan Budaya Salamrejo membuktikan dominasinya. Mereka tidak memberi ampun pada lawan. Tim Putra Salamrejo menang telak dengan skor 19-4, sebuah selisih angka yang menunjukkan superioritas strategi. Jejak yang sama diikuti oleh Tim Putri Salamrejo yang menang mutlak 16-0. Kemenangan ini diganjar hadiah uang pembinaan Juara I mendapat Rp8.000.000, Juara II Rp7.000.000, Juara III Rp6.000.000, dan Juara IV Rp5.000.000. Angka-angka ini sangat berarti bagi kas pembinaan budaya di desa mereka.

Bergeser dari lapangan pertandingan, realitas ekonomi terlihat jelas di area "Pasar Warga". Di sinilah implementasi kata Dodolan (berjualan) terjadi. Puluhan stan berjajar menampilkan produk asli dari desa masing-masing.
Berbeda dengan pameran modern yang seringkali diisi produk pabrikan, di sini pengunjung menemukan autentisitas. Ada kuliner tradisional yang dimasak langsung, kerajinan tangan dari anyaman bambu, batik tulis pewarna alam, hingga jamu tradisional.
Interaksi jual-beli terjadi secara organik. Pengunjung tidak hanya bertanya harga, tetapi bertanya tentang proses pembuatan. “Ini dibuat berapa lama, Bu?” tanya seorang pengunjung di salah satu stan kerajinan. “Dua minggu, Mas, ini pakai pewarna akar,” jawab penjaga stan dengan antusias.
Data transaksi yang dicatat panitia selama tiga hari sangat positif. Agus Suwarto, S.Sos., dalam laporan penutupannya merinci bahwa pendapatan kotor yang tercatat di Pasar Warga mencapai Rp72.940.500. Angka ini murni dari transaksi kuliner dan kerajinan rakyat.
Bagi sebuah acara budaya berdurasi tiga hari, nominal 72 juta rupiah menunjukkan daya beli masyarakat yang tinggi terhadap produk lokal. Ini memvalidasi ucapan Dian Lakshmi Pratiwi bahwa budaya bisa menyejahterakan jika dikelola dengan manajemen event yang baik. Pasar Warga menjadi bukti bahwa desa budaya memiliki produk yang layak jual, bukan sekadar barang pajangan.

Selain olahraga dan ekonomi, aspek seni pertunjukan (performing arts) mendapat porsi besar di "Panggung Warga". Selama tiga hari berturut-turut, pengunjung disuguhi rotasi penampilan dari berbagai desa.
Ragam kesenian yang tampil sangat luas: mulai dari Reog dan Jathilan yang energik, Karawitan yang kontemplatif, Dramatari yang naratif, hingga Teater Anak. Penampilan Teater Anak menjadi sorotan khusus Staf Ahli Gubernur, Didik Wardaya, yang menyebutnya sebagai bukti berjalannya regenerasi.
“Kehadiran kelompok teater anak dan sendratari remaja adalah bukti estafet kebudayaan berjalan baik,” ujarnya.
Tidak hanya tontonan, panitia juga menyisipkan edukasi melalui sesi "Wicara Budaya". Pada hari terakhir, Minggu (7/12), diskusi bertajuk "Panggung Tradisi Berekspresi" digelar dengan menghadirkan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dra. Daruni, M.Hum dan Drs. Gandung Djatmiko, M.Pd.
Diskusi ini berlangsung realistis, membahas tantangan nyata seni tradisi di era TikTok dan Instagram. Dra. Daruni menekankan poin penting: partisipasi. “Cara generasi muda memelihara budaya adalah dengan tidak berhenti pada niat. Datanglah, blusukan ke desa-desa, tonton dan dukung langsung kesenian yang ada,” tegasnya. Pesan ini relevan mengingat audiens yang hadir banyak didominasi anak muda dan keluarga muda.
Keberhasilan sebuah acara seringkali diukur dari perasaan subjektif, namun "Dodolanan" 2025 memiliki tolok ukur kuantitatif yang jelas. Dalam laporan pertanggungjawaban di malam penutupan, Agus Suwarto, S.Sos., memaparkan data statistik yang dihimpun tim monitoring.

Agus juga memberikan apresiasi terbuka kepada tim pendamping desa budaya. “Dinamika di lapangan sangat dinamis dan membutuhkan effort yang tidak sedikit. Terima kasih kepada pengelola desa budaya dan Lurah yang telah men-support kontingennya,” ucap Agus.

Malam penutupan pada Minggu, 7 Desember 2025, berlangsung lancar. Cuaca Yogyakarta yang bersahabat mendukung acara hingga detik terakhir. Tidak ada hujan yang mengganggu aktivitas outdoor maupun akses menuju GOR.
Dalam pidato penutupannya, Agus Suwarto memberikan catatan evaluasi yang konstruktif bagi para peserta. Ia mengingatkan bahwa potensi yang ditampilkan selama tiga hari ini harus menjadi modal awal, bukan tujuan akhir. “Kami mengajak Desa/Kelurahan Budaya untuk lebih fokus dalam mengembangkan potensi tersebut sehingga memiliki nilai lebih yang menjadi pembeda (diferensiasi) dengan desa lainnya,” pesannya. Fokus adalah kunci agar produk budaya desa bisa bersaing di pasar yang lebih luas.

Acara ditutup dengan hiburan rakyat yang menyatukan semua elemen. Penampilan "Pendopo Campursari Kang Tedjo" memecah suasana formal. Pejabat, panitia, peserta lomba, dan pengunjung berbaur menikmati musik campursari. Sesi tarian Tayub yang interaktif mengajak warga naik ke panggung, menghapus batas antara birokrat dan rakyat jelata.
"Dodolanan" 2025 telah usai. Namun, jejaknya memberikan pelajaran penting bagi tata kelola kebudayaan di daerah.

Pertama, masyarakat merindukan ruang interaksi fisik yang aman dan menyenangkan. Ribuan pengunjung yang datang adalah bukti bahwa mall bukan satu-satunya tujuan rekreasi keluarga. Kedua, budaya tradisional memiliki nilai ekonomi jika dikemas dengan standar yang baik. Pendapatan 72 juta rupiah di Pasar Warga adalah fakta ekonomi yang tak terbantahkan. Ketiga, kompetisi seperti Gobak Sodor efektif untuk membangun kebanggaan komunal (desa) yang sehat.
Kegiatan ini membuktikan bahwa mandat Peraturan Gubernur Nomor 36 Tahun 2014 tentang Desa/Kelurahan Budaya tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mewujud dalam aksi nyata yang terukur, berdampak, dan menyejahterakan
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...