by ifid|| 21 Januari 2026 || 9 kali
Langit Bantul yang meredup pada Minggu malam, 18 Januari 2026, udara di sekitar Joglo Cepuri Parangkusumo tidak sekadar membawa aroma garam dari Samudra Hindia. Ada sesuatu yang lebih padat dari sekadar angin malam; sebuah vibrasi kolektif dari kerumunan manusia yang sedang bersiap melakukan "percakapan" dengan semesta. Tradisi Labuhan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali hadir bukan sebagai repetisi sejarah yang usang, melainkan sebagai sebuah narasi kebudayaan yang terus tumbuh (ngrembaka). Di sinilah, titik temu antara spiritualitas, ekologi, dan kepemimpinan dirayakan dalam satu tarikan napas yang khidmat.

Malam itu, Joglo Cepuri Parangkusumo berubah menjadi pusat gravitasi spiritual. Sebelum langkah-langkah kaki menuju bibir pantai dilakukan esok pagi, masyarakat dan para abdi budaya berkumpul dalam sebuah ritus pembuka yang disebut Tirakatan. Ini adalah momen jeda, sebuah "diam" yang aktif untuk memohon restu dari Sang Maha Kuasa.
Padmono Anggara, S.Sn., selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Adat Tradisi dan Seni, hadir mewakili Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Dalam suaranya yang tenang, ia membacakan pesan yang menjadi ruh dari malam tersebut. Ia menekankan bahwa tirakatan ini bukan sekadar seremoni formalitas. Ia adalah doa bersama, sebuah ikhtiar batiniah untuk memohon kelancaran dan keselamatan agar Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo dapat terlaksana tanpa halangan, selamat, dan jauh dari segala marabahaya.
"Tirakatan ini merupakan sebuah tradisi yang biasanya digelar sebelum melaksanakan suatu tugas atau hajat besar," ungkap Padmono di hadapan hadirin yang terdiam takzim. Ungkapan ini mengandung makna mendalam tentang kesadaran manusia Jawa: bahwa setiap kerja besar di dunia nyata (lahiriah) harus didahului dengan penataan niat di dunia batin (batiniah). Dukungan penuh dari masyarakat, mulai dari doa hingga tenaga, menjadi bukti bahwa tradisi ini adalah milik bersama, bukan hanya milik keraton semata.
Salah satu inti dari Labuhan adalah persiapan ubarampe atau perlengkapan suci. Prosesi ini dimulai dengan serah terima ubarampe di Pendopo Kapanewon Kretek. Di sinilah aspek material bertemu dengan aspek sakral. Perlengkapan yang disiapkan bukan barang sembarangan; mereka adalah simbol kehadiran sosok pemimpin di tengah alam.
Terdapat pengajeng dan pandherek, serta yang paling menyentuh sisi emosional-spiritual adalah lorodan ageman dalem (bekas pakaian milik Sultan). Lebih dari itu, terdapat pula rikma (potongan rambut) dan kanaka (potongan kuku) dari Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Mengapa potongan rambut dan kuku? Dalam kearifan Jawa, benda-benda ini adalah representasi paling kecil dari diri manusia yang harus dikembalikan ke alam. Ini adalah perlambang pelepasan segala hal yang bersifat duniawi, sebuah laku "melarung" ego pribadi agar sang pemimpin tetap bersih secara spiritual dalam mengayomi rakyatnya. Labuhan di Cepuri Parangkusumo ini pun menjadi jembatan untuk mewujudkan Manunggaling Kawula kalawan Gusti sebuah konsep yang melampaui politik praktis, di mana rakyat, pemimpin, dan Tuhan berada dalam satu garis harmoni yang tak terputus.
Kearifan lokal tidak pernah tampil sesegar malam itu. Panggung Joglo Cepuri menjadi saksi bagaimana tradisi tetap bernapas di tangan generasi masa kini. Penari dari Kalurahan Parangtritis membawakan Golek Ayun-Ayun dengan presisi yang menghipnotis; setiap gerakan jemari mereka seolah sedang menata helai-helai udara malam. Tarian ini bukan sekadar estetika visual, melainkan simbol keramah-tamahan dan kesiapan menyambut tamu-tamu agung dari alam lain dan dunia nyata.

Suasana menjadi lebih hangat dan "nyata" saat ibu-ibu PKK Parangtritis melantunkan Panembrama. Tidak ada kesan kaku; yang ada hanyalah ketulusan warga yang merasa handarbeni (memiliki). Bagi warga Padukuhan Mancingan dan Parangtritis, Labuhan adalah identitas. Kehadiran anak-anak yang membawakan Sholawatan menjadi jembatan spiritual yang manis, membuktikan bahwa di tengah gempuran tren digital 2026, anak-anak pesisir masih memiliki ruang di hatinya untuk melantunkan pujian kepada Sang Pencipta.
Macapat dari Paguyuban Ngudi Laras menutup sesi pembuka ini dengan tembang yang merambat pelan, mengajak pendengar masuk ke alam refleksi yang lebih dalam. Melalui nada-nada slendro dan pelog, mereka membisikkan petuah tentang kehidupan yang sementara dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Memasuki tengah malam, Dalang M. Riyo Suraji Parang Pertomo mulai menghidupkan kotak wayangnya. Lakon Sesaji Rajasuya dipilih bukan tanpa alasan. Ini adalah kisah tentang ambisi gelap Prabu Jarasanda dari Magada yang ingin menaklukkan dunia dengan darah 100 raja. Jarasanda adalah simbol dari kerakusan kekuasaan yang tidak memiliki batas sebuah metafora yang sangat relevan dengan dinamika politik global maupun lokal di tahun 2026.
Adegan demi adegan ditampilkan dengan teknik sabetan yang dinamis. Penonton diajak melihat bagaimana Werkudara (Bima) kewalahan menghadapi Jarasanda yang bisa hidup kembali meski tubuhnya telah hancur. Di sinilah "Realitas" kehidupan digambarkan: bahwa melawan kejahatan yang terstruktur tidak bisa hanya dengan otot, tapi butuh strategi dan kejernihan pikiran. Kresna, sebagai titisan Batara Wisnu, hadir bukan sebagai pejuang fisik, melainkan sebagai arsitek kemenangan yang membimbing Bima melakukan manuver membelah tubuh Jarasanda secara menyilang agar tidak bisa menyatu kembali.
Bagian yang paling elegan sekaligus tragis dalam lakon ini adalah jatuhnya Prabu Sisupala. Di tengah kemegahan upacara Sesaji Rajasuya, Sisupala memilih untuk menjadi duri. Ia memuntahkan hinaan keji kepada Kresna. Adegan ini menjadi sangat relevan dengan tren sosial media masa kini, di mana lisan dan jempol seringkali lebih tajam dari pedang. Kresna memberikan pelajaran tentang self-control. Ia menunggu hingga hitungan ke-100—sebuah janji lama yang ia tepati. Namun, saat batas itu terlampaui, keadilan harus ditegakkan. Senjata Cakra Sudarsana yang melesat adalah pengingat keras: bahwa kebebasan berbicara memiliki tanggung jawab, dan kesabaran seorang pemimpin memiliki titik nadirnya.
Labuhan yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb dalam penanggalan Sultan Agungan ini menandakan bagaimana tata cara menjaga keindahan dunia (Mamayu Hayuning Bawana). Parangkusumo, bagi Keraton Yogyakarta, bukan sekadar pantai wisata. Ia adalah gerbang selatan, simbol elemen air yang harus dihormati.
Melalui Labuhan, manusia diingatkan untuk tidak serakah terhadap alam. Dengan melarung persembahan, kita secara simbolis mengembalikan sebagian dari apa yang telah kita ambil dari bumi. Ini adalah etika ekologi yang dibalut dalam ritual adat. Dalam sambutan tertulisnya, Dinas Kebudayaan DIY menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk senantiasa melestarikan adat budaya tradisi yang ada di wilayah DIY agar tetap menjadi kompas moral bagi masyarakatnya.

Tirakatan berakhir saat bintang-bintang mulai memudar. Padmono Anggara menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong-royong. Gotong-royong inilah yang menjadi bahan bakar utama sehingga Hajad Dalem Labuhan Parangkusumo dapat terlaksana dengan baik.
Harapan besar digantungkan pada fajar esok hari. Agar upacara pelarungan ubarampe di bibir samudra dapat berjalan lancar sesuai rencana, membawa keselamatan bagi Ngarsa Dalem, kerabat keraton, masyarakat Yogyakarta, dan dunia secara luas.
Labuhan Parangkusumo 2026 membuktikan satu hal: bahwa tradisi bukanlah benda mati yang disimpan di museum. Ia adalah organisme hidup yang bernapas melalui doa ibu-ibu PKK, melalui jari-jari penari remaja, melalui sabetan wayang sang dalang, dan melalui kebijakan para pemimpinnya. Di Parangkusumo, kita belajar bahwa untuk melangkah maju ke masa depan yang serba digital, kita tidak perlu memutus kabel sejarah. Justru, dari akar sejarah yang kuat itulah, kita mendapatkan energi untuk menjaga dunia agar tetap indah, selaras, dan rahayu.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...