by ifid|| 21 Januari 2026 || 527 kali
Senin, 19 Januari 2026, bukan sekadar tanggal di kalender; bagi masyarakat Yogyakarta, ini adalah momen dimana batas antara yang nyata dan yang gaib seolah menipis, saat sejarah bersimpuh di hadapan samudera.
Upacara Labuhan Parangkusumo tahun ini membawa bobot spiritual yang lebih dalam dari biasanya. Digelar sebagai puncak peringatan Tingalan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Tahta) ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas, ritual ini juga menandai tibanya tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa Sultanagungan. Sebuah siklus delapan tahunan (Windu) yang menuntut kekhidmatan lebih, sebuah "Labuhan Ageng" yang memanggil memori kolektif tentang keagungan Mataram.

Perjalanan suci ini dimulai dari jantung peradaban, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ubarampe yang telah dipersiapkan dengan teliti tidak langsung menuju pesisir, melainkan singgah terlebih dahulu di Kapanewon Kretek. Persinggahan ini menjadi simbolik penting yang mempertautkan antara otoritas keraton, birokrasi pemerintahan, dan rakyat jelata.
Di Kapanewon Kretek, rombongan pembawa ubarampe disambut langsung oleh Bupati Bantul. Kehadiran orang nomor satu di Bantul ini menegaskan bahwa tradisi Labuhan bukan hanya hajatan internal keraton, melainkan peristiwa kebudayaan daerah yang dihormati secara formal oleh negara. Prosesi serah terima yang khidmat di Kapanewon menjadi titik awal sebelum iring-iringan melanjutkan langkah menuju Joglo Cepuri Parangkusumo.

Cepuri sendiri bukanlah tempat sembarangan. Di sinilah, di antara pagar tembok yang mengelilingi dua batu keramat, doa-doa mulai dipanjatkan secara intens. Setibanya disana sekitar pukul 10.00 WIB, ubarampe dicek kembali dengan saksama, memastikan tidak ada satupun elemen doa yang terlewat sebelum akhirnya dipersembahkan kepada penguasa laut selatan.
Kata "Labuh" dalam tradisi Jawa bukan sekadar tindakan fisik membuang benda ke laut. Ia adalah metafora dari pelepasan sebuah upaya manusia untuk melarungkan ego, sifat buruk, dan segala hal yang menghambat keselarasan batin. KRT Kusumonegoro, Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, menjelaskan dengan nada bicara yang tenang namun penuh wibawa.
“Sri Sultan adalah pewaris dinasti Mataram. Prosesi ini adalah napak tilas, sebuah janji setia untuk melanjutkan apa yang telah digariskan para pendahulu. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan tugas suci Hamemayu Hayuning Bawono menjaga keindahan dan keseimbangan dunia.”
Di Parangkusumo, ritual ini memiliki resonansi historis yang kuat. Di sinilah, menurut sejarah tutur, Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, melakukan laku prihatin dan bertemu dengan penguasa laut selatan. Maka, setiap langkah para Abdi Dalem yang memanggul ubarampe di atas pasir ini adalah langkah napak tilas terhadap fondasi spiritual kerajaan yang mereka cintai.
Biasanya, labuhan dilakukan di tiga tempat utama yang melambangkan poros imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo di selatan, Gunung Merapi di utara, dan Gunung Lawu di timur. Namun, tahun 1959 Dal memberikan pengecualian yang sakral. Keraton Yogyakarta menambah satu lokasi lagi, yakni di Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
Penambahan lokasi ini bukan tanpa alasan. Dlepih diyakini sebagai tempat meditasi para raja Mataram terdahulu. Dalam siklus delapan tahunan, Keraton merasa perlu untuk memperluas jangkauan doa dan penghormatannya, memastikan bahwa setiap sudut yang memiliki ikatan batin dengan leluhur mendapatkan atensi spiritual yang sama.
Tahun Dal dianggap sebagai tahun yang "berat" sekaligus penuh berkah. Oleh karena itu, jumlah dan jenis ubarampe yang disiapkan pun jauh lebih banyak. Jika pada tahun-tahun biasa prosesi terasa rutin, maka Labuhan Ageng tahun 2026 ini terasa seperti sebuah orkestra budaya yang kolosal.

Sekitar 30 macam ubarampe telah disiapkan. Ada potongan rambut (rikma) dan potongan kuku (kenaka) milik Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bagi mata awam, ini mungkin tampak ganjil, namun dalam kosmologi Jawa, benda-benda ini mewakili elemen fisik sang pemimpin yang dikembalikan ke alam sebagai simbol permohonan keselamatan dan kesehatan bagi seluruh rakyat.
Terdapat pula perangkat pakaian yang terdiri dari berbagai kain batik motif khusus. Namun, yang paling mencuri perhatian dalam Labuhan Ageng kali ini adalah penyertaan Songsong Gilap sebuah payung kebesaran yang berkilau. Payung melambangkan perlindungan (pengayoman). Melarung songsong ke tengah samudra adalah simbol bahwa perlindungan Tuhan diharapkan senantiasa memayungi Yogyakarta melalui kepemimpinan Sultan.

Kesakralan Labuhan Parangkusumo kini tidak lagi menjadi milik eksklusif tembok Keraton. Ratusan masyarakat, mulai dari warga lokal hingga wisatawan asing, memenuhi bibir pantai. Mas Bekel Suraksa Trirejo, Abdi Dalem Juru Kunci Petilasan Pemancingan Parangkusumo, mencatat bahwa Hajad Dalem ini telah menjadi magnet budaya yang luar biasa sejak masuk dalam calendar of events DIY.
Bagi para Abdi Dalem, seperti pemanggul ubarampe yang terlibat, tugas ini adalah sebuah kehormatan yang tak terlukiskan. Di bawah terik matahari, mereka berjalan dengan punggung tegak, memanggul beban suci Rejeb 1959 Dal. Ada rasa bangga karena masih dipercaya oleh Karaton untuk menjadi bagian dari sejarah yang terus mengalir.
Labuhan Parangkusumo 1959 Dal telah usai secara seremonial, namun getarannya akan terus terasa. Di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang kini memasuki tahun ke-38 masa takhtanya, Yogyakarta terus membuktikan bahwa tradisi bukanlah benda museum yang mati. Ia adalah organisme yang hidup, bernapas, dan memberikan arah.
Tradisi ini adalah kompas moral. Ia mengingatkan kita untuk selalu mawas diri, menghormati masa lalu demi menjemput masa depan yang lebih selaras. Sebagaimana ombak yang selalu kembali ke pantai, demikian pula masyarakat Yogyakarta akan selalu kembali ke akar budayanya mencari ketenangan di tengah riuhnya dunia.

by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...