by ifid|| 21 Januari 2026 || 519 kali
Angin dingin di Cangkringan yang pekat, aroma kemenyan lamat-lamat bersatu dengan dinginnya udara gunung, menciptakan sebuah atmosfer yang magis sekaligus meneduhkan. Malam itu, 19 Januari 2026, Dusun Kinahrejo, Petilasan Mbah Maridjan bukan sekadar titik geografis di peta Yogyakarta; ia menjadi pusat semesta bagi mereka yang mencari makna di balik riuh rendahnya modernitas. Di sinilah, di kaki sang "Gunung Api yang Agung," sebuah harmoni sedang dirajut melalui untaian doa, tirakatan, dan kepakan bayang-bayang wayang kulit.
Yogyakarta, sejak peletakan batu pertamanya oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I), bukanlah sebuah kota yang dibangun tanpa jiwa. Ia adalah manifestasi dari garis filosofis yang membentang lurus dari Laut Selatan, melintasi Keraton, hingga memuncak di kawah Merapi. Garis imajiner ini adalah simbol dari Sangkan Paraning Dumadi sebuah peta spiritual bagi setiap insan untuk memahami dari mana ia berasal dan kemana ia akan kembali.
Malam Tirakatan yang digelar menjelang Hajad Dalem Labuhan Merapi adalah ambang pintu menuju kesadaran tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Ibu Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya yang menyentuh, acara ini adalah ruang bagi kita untuk sejenak berhenti dari rutinitas duniawi. Di Dalem Rama Parijan, warga berkumpul bukan hanya sebagai penduduk administratif, melainkan sebagai Kawula Dalem yang menyadari bahwa hidup adalah sebuah titipan yang harus dijaga harmoni dan keseimbangannya.
Puncak dari keheningan malam itu pecah oleh suara cempala yang dipukulkan ke kotak kayu oleh Ki Dalang MW Dwija Sancoko. Lakon yang dibawakan pun bukan sembarang cerita: Semar Bangun Desa. Ini adalah kali kedua Ki Dalang hadir di Harga Merapi, membawa pesan yang lebih tajam dari sekadar hiburan visual.
Tokoh Semar dalam jagad pewayangan adalah sosok yang paradoksal. Ia adalah rakyat jelata, namun ia adalah perwujudan dewa (Ismaya). Dalam lakon ini, Semar hadir dengan tugas suci: momong, momot, momet, dan mikuleri. Ia adalah figur yang ngemong (membimbing), menampung keluh kesah rakyat, memikirkan jalan keluar dari segala keruwetan hidup, serta memikul beban demi kesejahteraan bersama.
Namun, pesan paling mendalam yang disampaikan Ki Dwija Sancoko malam itu adalah definisi dari "Bangun Desa". Di era dimana pembangunan seringkali diukur dengan beton, aspal, dan gedung bertingkat, Semar hadir membawa perspektif lain. Membangun desa adalah membangun mental dan moralitas manusia. Baginya, infrastruktur semegah apa pun tidak akan mampu menghadirkan kedamaian jika jiwa-jiwa di dalamnya keropos oleh ketamakan dan jauh dari rasa syukur.
Melalui lakon ini, Semar memperkenalkan konsep lima jenis "sesaji" atau keselamatan yang merupakan kunci harmoni kehidupan:
Kelima unsur ini adalah pilar utama kehidupan. Bagi masyarakat Merapi, menjaga kelimanya bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban spiritual agar hidup tetap selaras dengan alam semesta.
Di tengah konflik lakon tersebut, terselip ajaran tentang kepemimpinan yang relevan bagi siapa saja, dari kepala keluarga hingga pemegang kuasa tertinggi. Simbol Dampar (kursi raja) dan Gajah menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat Hastha Brata meneladani delapan unsur alam.
Pemimpin haruslah seluas bumi, selembut angin yang menyentuh semua celah, seterang matahari, sentuh bulan, setepat bintang, setenang air, setegas api, dan sejuk laksana awan. Semua itu dikunci dengan pusaka Jamus Kalimasada—sebuah pedoman untuk selalu menyembah Tuhan Yang Maha Esa—dan ketajaman panca indra yang disimbolkan dengan Senjata Cakra.
Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur Merapi, prosesi berlanjut pada inti dari ritual ini: Labuhan. Secara etimologis, labuh berarti membuang atau melarung. Namun, apa yang dilarung sebenarnya bukan sekadar ubarampe atau benda fisik milik Sultan seperti kain batik dan potongan kuku.
Labuhan adalah simbolisasi dari upaya manusia untuk melarung egoisme, penyakit hati, dan sifat-sifat buruk yang menyelimuti jiwa. Dengan mendaki jalur berbatu menuju tempat-tempat sakral di pundak Merapi, para Abdi Dalem dan warga seolah sedang melakukan perjalanan spiritual ke dalam diri mereka sendiri.
Ini adalah bentuk penyerahan diri yang total. Manusia menyadari bahwa di hadapan Merapi yang agung, mereka hanyalah butiran debu. Doa-doa yang dipanjatkan agar Lulus Raharja (selamat dan sejahtera) ditujukan tidak hanya untuk Yogyakarta, tetapi untuk seluruh alam agar tetap bersahabat.
Malam Tirakatan dan Pagelaran Wayang di Lereng Merapi ini memberikan kita sebuah cermin besar. Bahwa kebudayaan bukanlah barang antik yang disimpan di museum, melainkan nafas yang terus berdenyut dalam keseharian. Ia adalah kompas moral yang mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dihadapan alam dan Sang Pencipta.
Melalui sinergi antara tradisi, pemerintah, dan masyarakat, filosofi Amemayu Hayuning Bawana mempercantik indahnya dunia—bukan lagi sekadar jargon, melainkan tindakan nyata. Di Merapi, kita belajar bahwa harmoni hanya bisa dicapai ketika manusia berhenti merasa sebagai penakluk alam, dan mulai belajar kembali untuk menjadi bagian darinya.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...