by ifid|| 21 Januari 2026 || 512 kali
Kabut tipis merayap pelan di antara tegakan pohon puspa dan kecubung hutan di lereng selatan Gunung Merapi. Pagi itu, Selasa, 20 Januari 2026, suasana di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, tidak seperti biasanya. Kesunyian pegunungan pecah oleh langkah-langkah kaki yang mantap namun khidmat. Ratusan abdi dalem berpakaian peranakan lengkap dengan keris terselip di pinggang, berjalan beriringan membelah jalan setapak menuju Srimanganti.
Di barisan depan, sebuah tandu memuat kotak kayu berisi ubarampe barang-barang suci milik Keraton Yogyakarta. Inilah puncak dari rangkaian Labuhan Merapi Tahun Dal 1959, sebuah laku budaya yang hanya terjadi delapan tahun sekali dalam siklus kalender Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, kalender bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan lingkaran spiritual. Tahun 1959 Jawa yang jatuh pada tahun 2026 Masehi adalah Tahun Dal. Dalam siklus satu windu (delapan tahun), Tahun Dal memiliki kedudukan istimewa karena dipercaya sebagai tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.
"Tahun Dal membawa energi yang berbeda," ungkap Mbah Asih (Mas Wedana Surakso Hargo Asihono), Juru Kunci Merapi yang juga putra dari mendiang Mbah Maridjan. "Ritualnya lebih besar, doanya lebih kencang. Jika biasanya kita melakukan Labuhan Alit, maka tahun ini adalah Labuhan Ageng."
Perbedaan mencolok terlihat pada ubarampe atau sesaji yang dibawa. Selain kain-kain batik motif khusus dan wewangian, terdapat satu benda yang mencuri perhatian: Kambil Watangan atau pelana kuda. Kehadiran pelana kuda ini adalah simbol kepemimpinan dan kendali diri. Maknanya mendalam; masyarakat diajak untuk kembali memusatkan fokus doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu mengendalikan hawa nafsu layaknya penunggang kuda yang andal.
Rangkaian suci ini sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya di jantung Kota Yogyakarta. Sebagai bagian dari Tingalan Jumenengan Dalem ke-38 (peringatan kenaikan takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X, Keraton telah melaksanakan berbagai ritual persiapan:
Setelah semua prosesi di pusat kota usai, ubarampe tersebut dikirim menuju Sleman. Diserahkan oleh utusan Keraton kepada Bupati Sleman, Harda Kiswaya, lalu diteruskan kepada Mbah Asih di lereng Merapi.
Malam sebelum pendakian (19/1), suasana di Kompleks Museum Petilasan Mbah Maridjan terasa magis. Pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Bangun Desa digelar. Lakon ini bukan pilihan sembarang; ia membawa pesan tentang restorasi moral dan pembangunan yang berbasis pada kearifan lokal, sebuah cerminan bagi kondisi sosial saat ini.
Tepat pukul 06.15 WIB pada Selasa pagi, rombongan mulai bergerak sejauh 2,5 kilometer menuju Pos Srimanganti. Jalur yang terjal tidak menyurutkan semangat para abdi dalem yang sebagian besar sudah berusia senja. Di bawah tatapan Gunung Merapi yang tampak tenang namun berwibawa, mereka membawa harapan masyarakat Yogyakarta.
Sesampainya di Srimanganti, ubarampe dilarung atau dipersembahkan. Nama-nama penguasa spiritual Merapi disebut dalam doa: Eyang Sapu Jagat, Nyai Gadung Mlati, hingga Kyai Bromo Dedali.
Keistimewaan Tahun Dal juga ditandai dengan cakupan wilayah labuhan yang lebih luas. Jika pada tahun biasa (Labuhan Alit) hanya dilakukan di Merapi, Parangkusumo, dan Gunung Lawu, maka pada tahun 1959 Dal ini, Keraton menambah satu lokasi lagi: Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri.
Dlepih memiliki nilai sejarah yang kuat sebagai tempat khalwat atau menyepi para pendiri dinasti Mataram, mulai dari Panembahan Senopati hingga Sri Sultan Hamengku Buwono I. Dengan melakukan labuhan di sana, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 melakukan napak tilas spiritual, menyambung kembali sanad perjuangan dan keprihatinan para leluhur.
Di tengah gempuran modernisasi dan teknologi AI yang kian masif, mengapa ritual seperti Labuhan Merapi tetap relevan?
Jawabannya terletak pada falsafah Hamemayu Hayuning Bawana sebuah komitmen untuk mempercantik keindahan dunia. Labuhan mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa alam yang absolut, melainkan bagian dari ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.
Setiap helai kain Sinjang Cangkring atau Semekan Bangun Tulak yang dilarung melambangkan pelepasan sifat buruk manusia. Keserakahan, amarah, dan ego dibuang ke gunung agar yang tersisa hanyalah kemurnian hati untuk melayani sesama.
Ritual ini adalah pengingat bahwa di balik kemajuan fisik sebuah provinsi, ada "akar" yang harus tetap basah oleh doa dan tradisi. Labuhan Merapi Tahun Dal 1959 bukan sekadar tontonan wisata, melainkan denyut nadi keistimewaan Yogyakarta yang terus berdetak, menjaga harmoni antara manusia, pencipta, dan semesta yang mereka huni.
Saat matahari mulai meninggi dan rombongan turun kembali ke Kinahrejo, Merapi tetap berdiri kokoh. Ia seolah tersenyum, merestui janji manusia untuk terus merawat bumi.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...