by ifid|| 09 Februari 2026 || 466 kali
Ruang Bima terasa lebih padat dari biasanya. Sejumlah praktisi, birokrat budaya, dan penggerak lapangan berkumpul bukan untuk sekadar memenuhi agenda rutin tahunan, melainkan untuk mengonsolidasikan sebuah ikhtiar strategis: merawat detak jantung kebudayaan tepat dari unit terkecilnya, yakni Kalurahan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, berdiri di hadapan para pemangku kepentingan kebudayaan. Di ruang tersebut hadir Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lembaga Budaya, Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan Budaya, serta Tim Monitoring, Evaluasi, dan Pendamping Budaya. Pertemuan ini menjadi krusial karena di tangan merekalah arah kebijakan pemajuan budaya di tingkat akar rumput ditentukan.
Dalam arahannya, Dian Lakshmi menekankan sebuah paradigma baru dalam memandang tradisi. Di tengah derasnya infiltrasi budaya asing yang masuk tanpa sekat melalui ruang digital, kebudayaan tidak boleh lagi dipandang sebagai artefak masa lalu yang statis. Kebudayaan harus diposisikan sebagai investasi strategis untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa.
"Peran ini tidak hanya dibebankan pada pemerintah saja, tapi harus melibatkan masyarakat secara aktif," tegas Dian. Pesan ini menggarisbawahi bahwa pelestarian bukan sekadar tugas administratif, melainkan sebuah gerakan kolektif.
Kalurahan dan Kelurahan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta diposisikan sebagai ujung tombak pelayanan publik sekaligus basis pengelolaan budaya. Sebagai institusi yang bersentuhan langsung dengan keseharian warga, Kalurahan memegang peran kunci dalam menggerakkan ekosistem budaya lokal yang nantinya akan memperkuat keberagaman budaya nasional.
Namun, Dian mengingatkan bahwa pengelolaan budaya harus keluar dari jebakan sempit yang hanya berfokus pada aspek kesenian. Cakupannya harus menyeluruh, menyentuh seluruh objek pemajuan kebudayaan yang meliputi:
Keberhasilan upaya ini, menurut Dian, sangat bergantung pada sinergitas lintas sektor. Ia mendorong para pengelola Kalurahan untuk berani keluar dari zona nyaman melalui kreasi dan inovasi. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) dan warga setempat, budaya diharapkan bisa benar-benar "membumi" di mana masyarakat memiliki kesadaran penuh untuk menjaga apa yang mereka miliki.
Di sisi lain, Pendamping Budaya dituntut menjadi motor penggerak yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi di wilayah dampingannya. Sementara itu, Tim Monitoring dan Evaluasi berperan sebagai kepanjangan tangan Dinas Kebudayaan untuk memastikan perencanaan dan pelaksanaan pemajuan budaya di DIY tetap berada pada jalur yang tepat.
Kegiatan pembekalan ini menjadi jembatan komunikasi untuk menyamakan persepsi antara Dinas Kebudayaan, tim pendamping, serta tim monitoring. Targetnya jelas: pelaksanaan kegiatan selama satu tahun ke depan harus mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Menutup arahannya, Dian berharap pembekalan ini menjadi modal kuat bagi seluruh tim untuk bekerja secara efektif dan sukses. Karena pada akhirnya, memajukan budaya bukan sekadar menjaga warisan, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai luhur tersebut mampu menghidupi dan mensejahterakan masyarakat Yogyakarta di masa kini dan masa depan.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...