by ifid|| 11 Februari 2026 || 476 kali
Lonceng waktu di Titik Nol Kilometer Yogyakarta seakan berdentang lebih dalam pagi ini. Udara Februari yang lembab membawa ingatan kita kembali ke tujuh puluh tujuh tahun silam. Di tanah yang sama, ketika kabut ketidakpastian menyelimuti eksistensi Republik, sebuah dentuman besar terjadi. Bukan sekadar letusan senjata, melainkan sebuah proklamasi eksistensi kepada dunia bahwa Indonesia belum mati.
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 bukan sekadar catatan kusam dalam buku sejarah. Ia adalah ruh. Kini, di ambang peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN) tahun 2026, semangat itu bertransformasi. Dari palagan pertempuran fisik menuju palagan pemikiran intelektual.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sebuah kesempatan pembekalan yang berlangsung hangat pada 10-11 Februari lalu, menegaskan betapa krusialnya momen ini. Beliau mengingatkan bahwa tanpa keberanian di Maret 1949, bangsa ini mungkin masih terbelit rantai kolonialisme yang lebih panjang dan menyakitkan.
"Kita tidak lagi memerlukan deru mesiu," ungkapnya dengan nada tenang namun berwibawa. "Namun, kita memerlukan ketajaman pemikiran untuk memecahkan kebuntuan bangsa."
Simposium Penegakan Kedaulatan Negara yang memasuki tahun kedua ini menjadi bukti bahwa Yogyakarta tetap menjadi "Dapur Diplomasi" dan "Laboratorium Pemikiran" bagi Indonesia. Dengan tema besar “Intelektual Muda dan Permasalahannya dalam Kedaulatan Negara,” perhelatan ini mencoba memotret kegelisahan generasi Z dan Alpha dalam memaknai kata 'daulat'.
Kedaulatan di abad ke-21 tidak lagi hanya soal batas teritorial yang dijaga senapan. Ia adalah kedaulatan data, kedaulatan pangan, dan yang terpenting, kedaulatan mentalitas. Simposium yang puncaknya akan digelar pada 15 hingga 17 April 2026 mendatang ini membedah kedaulatan ke dalam tiga irisan tajam:
Satu istilah Javanese yang menjadi ruh dalam simposium ini adalah Handarbeni merasa memiliki. Ketika seorang intelektual muda merasa memiliki bangsa ini, setiap karya cipta yang dihasilkan baik itu jurnal ilmiah, karya seni, maupun inovasi teknologi akan selalu memiliki nafas pembelaan terhadap kedaulatan negara.
Dinas Kebudayaan DIY melalui rangkaian pembekalan Februari ini seolah sedang menyemai benih. Para mentor memberikan pengayaan wawasan, mematangkan persiapan penulisan, dan yang terpenting, menyalakan api keingintahuan.
"Kontribusi sekecil apa pun akan sangat berarti," pesan Dian Lakshmi Pratiwi. Kalimat ini menjadi pengingat bahwa kedaulatan adalah kerja kolektif. Ia adalah akumulasi dari ribuan pemikiran kritis yang lahir dari ruang-ruang diskusi seperti simposium ini.
Yogyakarta, dengan segala romantika sejarahnya, bersiap menyambut puncak simposium di bulan April nanti. Ini bukan sekadar acara akademik biasa. Ini adalah sebuah "Srawung Intelektual" di mana teori bertemu dengan realitas, dan sejarah bertemu dengan masa depan.
Bagi para peserta yang telah mengikuti pembekalan, jalan menuju 15 April adalah jalan kontemplasi. Tulisan-tulisan yang sedang mereka susun diharapkan mampu menjadi "Serangan Umum" versi modern sebuah serangan pemikiran yang mampu menunjukkan pada dunia bahwa intelektual Indonesia adalah manusia-manusia berdaulat yang tidak mudah didikte oleh zaman.
Pada akhirnya, memperingati Hari Penegakan Kedaulatan Negara adalah tentang menjaga nyala api. Jika pada 1949 api itu membakar semangat para gerilyawan di perbukitan Menoreh, maka pada 2026, api itu harus membakar semangat para intelektual muda di perpustakaan, di laboratorium, dan di ruang-ruang digital.
Sebab, bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mampu menentukan nasibnya sendiri, dengan kepala tegak dan pikiran yang merdeka.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...