Lentera Harmoni di Ketandan

by ifid|| 26 Februari 2026 || 4 kali

...

Malam di kawasan Ketandan, Yogyakarta, pada Rabu, 25 Februari 2026, berubah menjadi hamparan cahaya dan semangat yang meluap. Di bawah gemerlap lampion yang berjajar, ribuan pasang mata menjadi saksi dimulainya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21. Acara dibuka tepat pukul 19:30 WIB dengan sambutan hangat dari pembawa acara yang memperkenalkan rangkaian pertunjukan lintas budaya.

Suasana magis mulai terasa saat kelompok Manggolo Mudho membawakan tarian "Evolusi Jiwa", disusul dengan gerak dinamis D-Ay Team dalam "Tari Bara Mustaka". Puncaknya, Atraksi Naga Putih dari tim DIY peraih emas PON 2024—meliuk indah di antara penonton, memberikan energi keberanian yang selaras dengan karakteristik Tahun Kuda Api yang penuh daya gerak.

Ruang Batin Peradaban dan Dialog Filosofis

Saat Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melangkah menuju podium pada pukul 20:23 WIB, suasana berubah menjadi khidmat. Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa perayaan budaya ini sejatinya adalah "ruang batin peradaban" sebuah tempat di mana nilai luhur dihidupkan kembali untuk memuliakan kehidupan.

Beliau menggaris bawahi titik temu yang luar biasa antara dua kebudayaan besar yang menjadi fondasi harmoni di Yogyakarta:

  • Yin dan Yang: Konsep filsafat Tiongkok tentang keseimbangan antara terang dan teduh, gerak dan diam.

  • Hamemayu Hayuning Bawana: Falsafah Jawa untuk merawat keindahan dan menjaga harmoni dunia. Dua nilai moral dari bahasa yang berbeda ini bertemu dalam satu pesan yang sama: bahwa keseimbangan adalah fondasi utama peradaban.

Meniti Jalan "Rèh" dan "Ririh"

Memasuki Tahun Kuda Api (Bing Wu), Sultan memberikan pesan mendalam mengenai laku kebijaksanaan. Kuda melambangkan keberanian melangkah, sementara api (Yang) melambangkan semangat transformasi dan daya dorong. Namun, api hanya memberi terang ketika terkendali, dan dapat membakar bila dilepas tanpa arah.

Gubernur mengajak masyarakat untuk menerapkan watak "rèh" dan "ririh", yang dikutip dari Serat Wulangreh:

  • Rèh: Memiliki arti bersabar dan tidak mudah tersulut emosi.
  • Ririh: Bermakna berhati-hati dan tidak tergesa-gesa atau "grusa-grusu". Energi perubahan di tahun ini tidak boleh dimatikan, melainkan harus dijernihkan dan dituntun dengan kebijaksanaan.

Harmoni di Tengah Suasana Ramadhan

PBTY XXI 2026 terasa kian istimewa karena berlangsung dalam suasana bulan suci Ramadhan. Di tengah laku menahan hawa nafsu, ruang budaya Ketandan tetap terbuka sebagai ruang perjumpaan nilai yang inklusif. Perayaan ini membuktikan bahwa kebudayaan dan ketakwaan dapat berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.

Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi, agenda PBTY tahun ini menghadirkan berbagai kegiatan kebersamaan seperti:

  • Penyampaian Tausiah keagamaan.
  • Aksi berbagi Takjil kepada sesama.
  • Kegiatan sosial yang mempererat tali silaturahmi antar umat beragama. Ini menjadi penanda kuat bahwa Yogyakarta adalah rumah bagi keberagaman yang tulus.

Akulturasi Seni dan Denyut Ekonomi Rakyat

Panggung budaya malam itu juga menyuguhkan bukti nyata akulturasi yang telah berlangsung berabad-abad di Yogyakarta. Wayang Potehi tampil berdampingan dengan kesenian Jawa, menciptakan linimasa kreatif yang memperkaya identitas kota. Peradaban yang besar bukanlah yang seragam, melainkan yang mampu merawat perbedaan dalam keseimbangan.

Selain aspek seni, Pameran PBTY XXI 2026 turut menghadirkan wajah ekonomi kerakyatan. Di antara gemilangnya cahaya lampion, para pelaku ekonomi memperoleh ruang berkarya:

  • Para pelaku UMKM dan pedagang kuliner lokal.
  • Perajin tradisional dan para seniman yang menghidupi keluarganya melalui kreativitas.
  • Pergerakan ekonomi yang menjalar dari Ketandan hingga ke Malioboro, memperluas distribusi manfaat bagi seluruh warga.

 Menyalakan Asa dari Kampung Ketandan

Setelah prosesi simbolis pembukaan oleh Gubernur DIY pada pukul 20:33 WIB, suasana kembali dimeriahkan oleh penampilan Fire Dance "Agni" dari Jogja Fire Dance. Atraksi api ini seolah menjadi visualisasi dari pesan Sultan: semangat yang menyala namun terkendali dan penuh keindahan. Acara malam pembukaan pun ditutup dengan atraksi Barongsai oleh Naga Selatan yang memukau.

Dari lorong-lorong tua Kampung Ketandan, Yogyakarta mengirimkan pesan kepada dunia bahwa harmoni bukan sekadar utopia. Ia adalah pilihan sadar yang terus dirawat melalui kerja keras dan niat baik. Dengan semangat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, PBTY XXI menjadi jalan bagi setiap asa dan kebaikan untuk menciptakan dunia yang lebih sejahtera dan penuh kedamaian.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta