by ifid|| 13 Maret 2026 || 148 kali
Sore itu, Selasa, 10 Maret 2026, langit Yogyakarta perlahan beranjak menuju rona jingga yang tenang. Di sudut Jalan Sriwedani, tepatnya di Kompleks Taman Budaya Yogyakarta, sebuah bangunan bersejarah berdiri dengan megah namun bersahaja. Gedung Societet Militair, yang biasanya menjadi saksi bisu pementasan teater dan alunan gamelan, kali ini bersiap menyambut kehadiran keluarga besar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.
Ada suasana yang berbeda dari rutinitas kantor biasanya. Tidak ada tumpukan berkas administrasi atau perdebatan teknis mengenai pelestarian benda cagar budaya. Yang ada hanyalah langkah kaki yang ringan, senyum yang tulus, dan sapaan hangat yang memecah kesunyian sore. Momentum Buka Bersama ini bukan sekadar agenda formalitas dalam kalender kerja; ia adalah oase di tengah padatnya tugas menjaga marwah budaya Yogyakarta.
Satu per satu, wajah-wajah yang sehari-harinya berjibaku dengan pelestarian tradisi mulai memenuhi ruangan. Hadir di sana para pejabat struktural, rekan-rekan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Sonobudoyo yang akrab dengan aroma sejarah, tim dari Taman Budaya Yogyakarta yang dinamis, hingga para penjaga garda depan dari Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi.
Pertemuan ini menjadi sebuah mikrokosmos dari birokrasi yang memiliki hati. Sumbu Filosofi, yang telah diakui dunia, bukan sekadar garis imajiner dalam peta, namun tercermin dalam interaksi antarmanusia di sore itu: sebuah harmoni antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya (Hamemayu Hayuning Bawana).
Acara dibuka dengan sangat khidmat melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an, Surah Al-Anfal ayat 2-5. Suara qari yang menggema di langit-langit tinggi Societet seolah memberikan getaran spiritual yang merasuk ke relung hati. Ketika sari tilawah dibacakan, menguraikan sifat-sifat orang beriman yang gemetar hatinya saat nama Allah disebut, suasana menjadi hening. Di titik itulah, identitas sebagai aparatur sipil negara melebur menjadi identitas hamba yang sedang mencari makna di bulan suci.
Dalam balutan suasana yang kekeluargaan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, memberikan sambutan. Namun, alih-alih memberikan pidato birokratis yang kaku, Dian memilih pendekatan yang menyentuh sisi kemanusiaan.
"Alhamdulillah, kita bisa bersama-sama di Gedung Societet Militair sore hari ini," ucapnya. Ia menatap satu per satu jajaran pimpinan dan stafnya, seolah ingin memastikan bahwa setiap orang yang hadir merasa menjadi bagian penting dari kapal besar bernama Kundha Kabudayan.
Bagi Dian, momentum Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan kalibrasi hati. Ia menekankan bahwa tugas menjaga, merawat, dan mengembangkan kebudayaan bukanlah beban yang dipikul sendiri-sendiri. Kebudayaan adalah kerja kolektif, sebuah anyaman besar yang membutuhkan kekuatan setiap benangnya. "Semoga momentum ini tidak hanya menjadi ajang berbagi kebahagiaan, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan serta menumbuhkan semangat untuk terus berkarya," tambahnya.
Pesan ini menjadi penting di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menjaga budaya di era digital bukan sekadar soal merawat bangunan fisik, melainkan menjaga "ruh" atau nilai-nilai luhur agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
Puncak refleksi sore itu hadir melalui sesi tausiyah. Sang pencerah membawa para hadirin melintasi batas-batas geografis Yogyakarta, menghubungkan nilai takwa dengan realitas global yang sedang terjadi di tanah Palestina dan Israel. Pembahasan ini bukan tanpa alasan. Budaya, dalam esensinya yang paling murni, adalah tentang kemanusiaan.
Mengutip Surah Al-Hujurat, diingatkan kembali bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk li-ta'arafu saling mengenal. Pesan ini bergema kuat di ruangan tersebut. Sebagai institusi yang mengelola keberagaman budaya, Dinas Kebudayaan DIY diingatkan bahwa tugas mereka adalah menjadi jembatan pemahaman, bukan pemisah.
Ketakwaan tidak boleh membuat seseorang eksklusif, melainkan harus membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan sesama, baik yang ada di sekitar kita maupun mereka yang berada ribuan kilometer jauhnya. Inilah bentuk spiritualitas kebudayaan yang melampaui sekat-sekat formal.
Ketika jarum jam mendekati angka enam, suasana berubah menjadi antisipasi yang manis. Bau aroma takjil yang sederhana namun menggugah selera mulai tercium. Namun, bukan makanan yang menjadi menu utama, melainkan momen penantian itu sendiri.
Sesaat setelah azan Magrib berkumandang, suasana "pecah" dalam kesyukuran. Secara tertib, seluruh hadirin membatalkan puasa. Kesederhanaan dalam berbuka ini justru memperlihatkan kelasnya tersendiri bahwa kemewahan sejati terletak pada kebersamaan, bukan pada jenis hidangan yang disajikan.
Setelah melaksanakan salat Magrib berjamaah, acara berlanjut dengan ramah tamah. Di sinilah esensi "kebersamaan" benar-benar terlihat. Antara atasan dan bawahan, antara kurator museum dan penjaga kawasan, semuanya duduk setara. Mereka berbagi cerita, tertawa kecil, dan sesekali membicarakan rencana-rencana kebudayaan di masa depan dengan semangat yang baru.
Malam semakin larut di kawasan Malioboro, namun kehangatan di dalam Gedung Societet masih membekas. Acara Buka Bersama ini membuktikan bahwa institusi budaya yang kuat selalu bertumpu pada integritas pegawainya dan soliditas internalnya.
Budaya Yogyakarta yang adiluhung tidak akan bisa lestari jika para penggeraknya tidak memiliki ikatan batin yang kuat. Dengan berakhirnya acara ini, para pegawai Dinas Kebudayaan DIY tidak hanya pulang membawa perut yang kenyang, tetapi juga jiwa yang terisi kembali.
Momentum ini menjadi pengingat strategis bahwa di balik setiap kebijakan budaya, ada tangan-tangan manusia yang bekerja dengan hati. Dan sore itu, di bawah atap sejarah Societet, hati-hati tersebut telah dipertautkan kembali dalam semangat kebersamaan demi Yogyakarta yang tetap berbudaya di masa depan.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...