by ifid|| 14 Maret 2026 || 127 kali
Yogyakarta, Maret 2026. Di bawah langit kota yang masih menyimpan sisa embun pagi, Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) berpakaian tradisional berbaris rapi. Pagi itu, Jumat (13/03), Stadion Mandala Krida dan GOR Amongrogo tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya raga, namun menjadi titik temu doa dan cita-cita sebuah provinsi yang telah menapaki usia ke-271 tahun.
Perayaan ini bukan sekadar seremoni kalender. Ia adalah sebuah manifestasi dari perjalanan panjang sebuah "Nagari" yang mencoba tetap relevan di tengah gempuran modernitas, tanpa kehilangan jati diri akarnya.
Berdiri sebagai Inspektur Upacara di Stadion Mandala Krida, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan pidato yang melampaui retorika administratif. Suaranya yang tenang namun berwibawa membelah keheningan stadion, membawa pesan tentang "Laku Utama".
Sultan menekankan bahwa pengabdian sebagai pelayan masyarakat di Yogyakarta bukanlah sekadar pekerjaan profesional, melainkan sebuah ibadah kultural yang bersumber pada filsafat Hamemayu Hayuning Bawana.
"Sesungguhnya, laku utama yang hendak kita capai itu menuntut kesatuan antara cipta, rasa, dan karsa, zikir yang berpadu dengan pikir," tutur Sri Sultan.
Kalimat ini menjadi pengingat bagi setiap ASN bahwa dalam bekerja, kecerdasan otak (pikir) harus senantiasa didampingi oleh ketenangan spiritual (zikir). Di era digital 2026, pesan ini menjadi sangat relevan; di mana teknologi bergerak cepat, integritas moral seringkali menjadi taruhan.
Tema besar tahun ini, Jumangkah Jantraning Laku, menjadi benang merah dalam setiap elemen upacara. Secara harfiah, tema ini berarti "melangkah dan bertindak". Namun, dalam perspektif budaya Jawa yang diusung Pemda DIY, melangkah tidak boleh sembarangan.
Ada tiga pilar yang ditekankan Sultan dalam melangkah:
Bagi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY yang mengikuti upacara di GOR Amongrogo, filosofi ini adalah bahan bakar utama. Kebudayaan bukan hanya tentang tarian atau benda cagar budaya, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai luhur tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata oleh para pemangkunya.
Satu momen paling reflektif dalam upacara tersebut adalah ketika Sri Sultan mengutip Piwulang (ajaran) dari leluhurnya, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Ajaran tersebut menggunakan metafora alat musik tradisional rebab, calempung, dan suling—sebagai simbol keharmonisan hidup.
“Kang utåmå tansah ulah ing sih, kadya rebab calempung lan syårå...”
Maknanya mendalam: Hidup dan pengabdian haruslah selaras layaknya orkestrasi musik yang indah. Jika salah satu instrumen egois atau tidak selaras (ngreré), maka simfoni kehidupan akan rusak. Sultan mengajak warga untuk tidak hanya memahami kata-kata ini secara tekstual, tetapi menjadikannya "tembang kehidupan" yang nyata.
Setiap kebijakan pemerintah daerah diharapkan seperti nada-nada yang saling menguatkan, menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat bawah.
Yogyakarta telah lama menetapkan nilai Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh sebagai karakter Satriya bagi para aparatur sipilnya.
Dalam upacara ke-271 ini, nilai-nilai tersebut kembali ditegaskan. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X, Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, serta para Bupati dan Wali Kota, menunjukkan soliditas kepemimpinan di DIY untuk menjaga marwah karakter tersebut.
Upacara diakhiri dengan doa yang melangit, sebuah permohonan agar Yogyakarta dijauhkan dari segala rintangan. Bagi warga DIY, peringatan hari jadi ini adalah pengingat bahwa mereka tinggal di sebuah tanah yang diberkati dengan sejarah besar, namun juga memikul beban sejarah untuk tetap menjadi teladan bagi kemuliaan bangsa.
Melalui Jumangkah Jantraning Laku, Yogyakarta di usia 271 tahun ini memilih untuk terus bergerak. Bukan melompat tanpa arah, melainkan melangkah dengan kepastian nurani, menjaga kejayaan budaya demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Peringatan tahun ini menandai transisi penting di mana DIY semakin memantapkan diri sebagai pusat budaya yang adaptif. Dengan menyatukan karya dan perilaku, Pemerintah Daerah DIY optimis bahwa kesejahteraan masyarakat akan lahir dari birokrasi yang memiliki "jiwa", bukan sekadar mesin administratif.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...