by ifid|| 14 Maret 2026 || 136 kali
Yogyakarta, 13 Maret 2026. Di bawah naungan langit yang menyimpan memori berabad-abad, sebuah fragmen sejarah kembali diteguhkan. Gedung DPRD DIY yang biasanya riuh dengan perdebatan regulasi, hari itu berubah wujud menjadi ruang kontemplasi. Udara terasa lebih berat oleh aroma kemenyan dan melati yang samar, mengiringi sebuah langkah besar: Peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bukan sekadar perayaan angka, momentum ini adalah sebuah "panggilan batin". Sebuah upaya untuk menjawab kembali pertanyaan eksistensial: ke mana arah langkah Bumi Mataram di tengah gempuran modernitas yang tak kenal ampun?
Rapat Paripurna Istimewa itu dibuka dengan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY mempersembahkan sebuah tarian berjudul "Mulat Sarira". Di atas lantai yang dingin, para penari bergerak dengan presisi yang menghanyutkan. Setiap gerak tangan, setiap lirikan mata (seledet), dan setiap langkah kaki seolah bercerita tentang proses manusia yang sedang berkaca.
Mulat Sarira secara harfiah berarti menengok ke dalam diri sendiri. Dalam filosofi Jawa, ini adalah tingkatan spiritualitas yang tinggi—kemampuan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pukuk eksternal dan berdialog dengan hati nurani. Tarian tersebut menjadi metafora visual bagi DIY: sebuah daerah yang meski telah berusia hampir tiga abad, tetap merasa perlu untuk terus bertanya, "Sudah benarkah langkah kita?"
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya menegaskan bahwa Mulat Sarira bukanlah tindakan pasif. "Sebuah laku refleksi yang jujur dan penuh kesadaran untuk menimbang kembali perjalanan yang telah dilalui, memahami kekuatan yang dimiliki, sekaligus menyadari kekurangan yang masih perlu diperbaiki," tutur Sultan dengan nada yang rendah namun berwibawa.
Tema besar yang diusung tahun ini, "Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku", adalah sebuah kalimat aktif. Jika Mulat Sarira adalah fondasi reflektifnya, maka Jumangkah adalah manifestasi keberanian untuk melangkah maju. Namun, Sultan mengingatkan bahwa melangkah tidak boleh asal bergerak. Langkah tersebut harus memiliki arah yang jelas dan dilandasi oleh niat yang teguh.
Di sinilah letak keunikan Yogyakarta. Kemajuan tidak dicari dengan menanggalkan identitas, melainkan dengan memadukan keluhuran tradisi dan dinamika perubahan.
Bagian akhir dari tema tersebut, Jantraning Laku, memberikan gambaran tentang konsistensi. Ibarat roda (jantra) yang terus berputar, pembangunan dan perbaikan di DIY harus dijaga ritmenya. Kemajuan sejati tidak lahir dari lompatan instan atau kebijakan yang reaktif, melainkan dari kerja yang tekun, terencana, dan berkesinambungan.
"Ia mengisyaratkan, kemajuan tidak lahir dari langkah sesaat, melainkan dari kerja yang tekun, terencana, dan berkesinambungan," ungkap Ngarsa Dalem.
Bagi sebagian orang, istilah "Keistimewaan" mungkin terdengar elitis. Namun, melalui Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2024, makna ini dikembalikan kepada rakyat. Hari Jadi DIY dimaknai sebagai peneguhan atas nilai-nilai historis, kultural, dan konstitusional. Ini adalah janji setia kepada bangsa yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Sultan menekankan bahwa tata pemerintahan DIY harus berpijak pada nilai-nilai kebijaksanaan dan, yang paling krusial, keberpihakan kepada rakyat. Visi Hamemayu Hayuning Bawana merawat keselamatan dan kesejahteraan kehidupan bersama bukanlah sekadar slogan di atas kertas dinas, melainkan sebuah komitmen untuk menciptakan ruang kehidupan yang tentram, adil, dan bermartabat.
Ketua DPRD DIY, Nuryadi, menambahkan dimensi realitas pada visi tersebut. Di usia 271 tahun, DIY dianggap telah mencapai tingkat kematangan yang luar biasa dalam proses bernegara. Namun, kematangan ini harus dikonversi menjadi kesejahteraan yang nyata bagi seluruh warga. "Mari memaknai Hari Jadi DIY sebagai momentum meningkatkan kerja keras dan menjaga keistimewaan," ajaknya.
Salah satu poin penting yang digarisbawahi dalam pidato Gubernur adalah konsep kolaborasi. Di era yang serba kompleks ini, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi multihelix sebuah kerjasama yang melibatkan pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan media.
Hubungan horizontal antara eksekutif dan legislatif, serta hubungan vertikal antara pemerintah pusat dan daerah, harus berjalan selaras. Tujuannya satu: agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri tanpa arah, melainkan bergerak dalam satu harmoni untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Saat acara berakhir dan para hadirin meninggalkan Gedung DPRD, pesan Mulat Sarira tetap tertinggal di udara. Yogyakarta di usia 271 tahun adalah sebuah entitas yang terus belajar. Ia sadar akan kebesaran sejarahnya, namun ia tidak terbuai oleh romantisme masa lalu.
Melalui refleksi yang jujur, keberanian untuk melangkah, dan konsistensi dalam perbaikan, DIY mencoba membuktikan bahwa tradisi dan kemajuan bisa berjalan beriringan. Tantangan ke depan mulai dari kesenjangan ekonomi, kelestarian lingkungan, hingga disrupsi digital hanya bisa dihadapi jika setiap elemen masyarakat bersedia untuk selalu mawas diri.
Hari Jadi ke-271 ini adalah pengingat: bahwa menjadi istimewa bukan berarti menjadi berbeda demi gengsi, melainkan menjadi lebih baik demi pengabdian pada kemanusiaan. Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku. Yogyakarta terus berputar, terus melangkah, mencari harmoni dalam setiap detaknya.
Tentu, mari kita susun narasi yang lebih mendalam, elegan, dan komprehensif mengenai peristiwa bersejarah ini. Meskipun 3000 kata adalah volume yang sangat besar untuk satu artikel berita (setara dengan sekitar 10-12 halaman cetak), saya akan menyajikan sebuah Berita Feature Panjang (Long-form Feature) yang terbagi dalam beberapa fragmen narasi untuk menangkap esensi filosofis dan atmosferik dari Peringatan Hari Jadi ke-271 DIY tersebut. (Supono)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...