by ifid|| 25 Maret 2026 || 86 kali
Suara derap langkah kaki yang teratur memecah keheningan pagi di sepanjang Jalan Malioboro. Bukan derap langkah wisatawan yang berburu swafoto, melainkan langkah tegap Bregada Bugis dengan seragam khasnya yang kontras. Di belakang mereka, empat utusan terpilih dari jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Daerah DIY berjalan dengan khidmat, membawa nampan berisi gunungan kecil yang dikenal sebagai pareden wajik.
Hari itu, Jumat, 20 Maret 2026 (bertepatan dengan penanggalan Jawa Sawal Dal 1959), Yogyakarta kembali bersolek dalam rupa spiritualitasnya yang paling murni. Perayaan Idul Fitri 1447 H tidak hanya dirayakan dengan gema takbir di masjid-masjid, tetapi juga melalui sebuah ritual kolosal yang menghubungkan sang Raja, birokrasi, dan rakyat dalam satu ikatan spiritual bernama Garebeg Sawal.
Tradisi yang berlangsung di Kompleks Kepatihan hari ini bukanlah sekadar seremoni rutin. Ini adalah sebuah rekonstruksi sejarah. Prosesi yang disebut dengan nyadhong atau secara harfiah berarti menengadahkan tangan untuk menerima pemberian merupakan upaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY untuk menghidupkan kembali tata cara yang dahulu dilakukan oleh Patih Danurejo pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Dahulu, seorang Patih sebagai tangan kanan Sultan akan menjemput langsung berkah dari Keraton untuk dibawa ke pusat pemerintahan (Kepatihan). Kini, semangat itu diwakili oleh Paniradya Pati Keistimewaan DIY, Kurniawan, bersama jajaran kepala biro dan badan lainnya.
"Kami sangat menghormati dan menghargai budaya dari leluhur yang maknanya sangat besar. Ini adalah sesuatu yang memang harus dipertahankan dan dilestarikan," ungkap Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, saat menerima pareden tersebut di Pendopo Wiyata Praja.
Secara etimologis, kata Garebeg atau Grebeg menyimpan lapisan makna yang dalam. Dalam bahasa Jawa, ia berasal dari kata gumrebeg, yang menggambarkan deru angin atau riuh rendah keramaian yang ditimbulkan oleh massa. Namun, secara filosofis, Garebeg adalah simbol manunggalnya (bersatunya) Raja dengan rakyatnya.
Dalam konteks Idul Fitri, Garebeg Sawal adalah wujud mangayubagya atau rasa syukur Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X atas selesainya ibadah puasa Ramadan. Rasa syukur ini tidak disimpan sendiri di balik tembok keraton, melainkan "ditumpahkan" keluar dalam bentuk gunungan.
Gunungan tersebut berisi hasil bumi Mataram kacang panjang, cabai, telur asin, hingga wajik yang disusun menyerupai gunung. Gunung dalam kosmologi Jawa dianggap sebagai tempat yang suci dan sumber kehidupan. Dengan membagikan isi gunungan tersebut, Sultan secara simbolis sedang mendistribusikan kesejahteraan dan doa kepada rakyatnya.
Berbeda dengan gunungan besar yang diperebutkan masyarakat di halaman Masjid Gedhe, bagian yang dibawa ke Kepatihan berupa pareden wajik. Jumlahnya tidak main-main, lebih dari 150 buah. Wajik, yang terbuat dari beras ketan dan gula jawa, memiliki tekstur lengket yang melambangkan eratnya silaturahmi dan kerukunan.
Bagi para ASN yang menerima bagian pareden ini, benda tersebut bukan sekadar makanan. Ia adalah ngalap berkah. Ada keyakinan spiritual bahwa benda yang telah didoakan di Masjid Gedhe oleh para abdi dalem kaji akan membawa ketenteraman.
Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, menekankan bahwa posisi ASN atau keprajen dalam ritual ini adalah sebagai pelayan masyarakat yang juga membutuhkan "siraman" spiritual dari sang pemimpin.
"Ini bagian dari ucap syukur beliau, Raja Keraton Yogyakarta kepada kami para keprajen. Kami berharap dengan pareden ini, kami beserta seluruh masyarakat selalu diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keamanan," tutur Dian dengan nada khidmat.
Penyelenggaraan Garebeg Sawal di tahun 2026 ini membuktikan bahwa identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya tidak luntur oleh zaman. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi birokrasi, Pemerintah Daerah DIY melalui Kundha Kabudayan justru semakin memperkuat akar tradisinya.
Prosesi ini mengirimkan pesan kuat: bahwa pemerintahan tidak hanya soal angka pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga soal menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Saat pareden wajik dibagikan kepada para pegawai di akhir acara, suasana di Kepatihan berubah menjadi hangat. Tidak ada sekat antara pejabat eselon dan staf biasa; semua mengantre untuk mendapatkan bagian dari "sedekah" sang Raja. Di sanalah makna sejati dari Lebaran di Jogja ditemukan bukan pada kemewahan, melainkan pada kebersamaan dalam syukur yang sederhana namun mendalam.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...