by ifid|| 02 April 2026 || 85 kali
Museum Sonobudoyo menjadi bagian untuk merawat Kebudayaan yang berkembang di DIY, Rabu, 1 April 2026, Yogyakarta, sebuah ruang di Lantai 2 Auditorium Museum Sonobudoyo Unit 1 mulai riuh. Bukan oleh suara mesin atau hiruk-pikuk pariwisata, melainkan oleh desas-desus intelektual yang bersiap menyelami kedalaman budaya melalui kata.
Majalah Mata Budaya, sebuah corong literasi di bawah naungan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, membuka tahun 2026 dengan sebuah undangan reflektif. Workshop Jurnalistik Budaya Edisi 1 ini mengusung tema yang tidak sederhana: “Marwah, Ritus, Rupa: Meniti Jantra, Merupa Masa Depan.”
Ada catatan menarik di balik pemilihan lokasi tahun ini. Tidak ada ruang hotel yang dingin dengan karpet tebal seperti tahun-tahun sebelumnya. Efisiensi dana menjadi alasan di balik kembalinya agenda ini ke "rumah" sendiri, yakni museum. Namun, justru dalam kesahajaan auditorium museum itulah, esensi "memetakan dan mengarsipkan" menjadi terasa lebih autentik. Di sana, di antara artefak masa lalu yang membisu, para praktisi budaya dan jurnalis berkumpul untuk mendokumentasikan yang hidup di sekitar mereka.

Diskusi dibuka dengan sebuah kesadaran bahwa manusia bukan sekadar statistik. Anon Suneko, M.Sn., seorang praktisi yang memahami betul bagaimana bunyi dan gerak merepresentasikan jiwa, membawa peserta pada pemahaman fundamental. Baginya, manusia adalah "Kehendak" yang berdiri di antara "Moralitas" (Sang Pencipta) dan "Ritual" (Alam).
"Jika kita membedah tema ini," ujar Anon dengan nada yang tenang namun tegas, "kita akan menemukan bahwa Sang Pencipta adalah muara moralitas, alam adalah panggung ritual, dan manusia adalah subjek yang memiliki kehendak. Ketiganya adalah sebuah lingkaran yang tidak boleh terputus."
Dalam pandangan Anon, integritas moral bukan sekadar kata-kata dalam buku teks kewarganegaraan. Ia adalah keselarasan utuh antara hati, pikiran, perkataan, dan tindakan. Di Yogyakarta, nilai ini sering kali terbungkus dalam pelaksanaan upacara adat. Upacara bukan sekadar tontonan visual, melainkan wahana penghayatan.
Ia menyoroti pentingnya internalisasi nilai budaya. Di tengah gempuran globalisasi yang sering kali mencabut akar identitas, internalisasi menjadi proses "menjadikan nilai sebagai pola pikir." Tanpa itu, komunitas akan kehilangan kompas moralnya. "Melalui budaya yang tertanam kuat," tambahnya, "komunitas tidak hanya menjadi harmonis, tapi mampu mengembangkan inovasi berbasis kearifan lokal."
Anon menutup sesinya dengan dua pitutur luhur yang menggetarkan ruangan: Ngesti mring kautaman mengarahkan diri pada kebaikan dan Luhuring budi weh kamulyan bahwa budi luhur itulah yang akan membawa kemuliaan sejati.
Ketika bicara tentang jurnalistik, maka bahasa adalah senjata utamanya. Namun, Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum., membawa perspektif yang lebih dalam. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah identitas, memori, dan benteng pertahanan terakhir sebuah peradaban.
"Sistem nilai budaya itu hidup dalam alam pikiran masyarakat," kata Dhanu, mengutip Begawan Antropologi, Koentjaraningrat. "Dan bahasa adalah pusat dari itu semua."
Dhanu memberikan contoh yang sangat relevan: Bahasa Jawa. Dalam pandangan pragmatis yang serba cepat hari ini, sistem undha-usuk (tingkatan tutur) sering dianggap rumit, feodal, atau tidak efektif. Namun, Dhanu membedah sisi lain yang sering terlupakan. Undha-usuk adalah mekanisme pengendalian diri.
"Ketika seseorang berbicara dalam level Krama," jelas Dhanu, "ia akan sangat sulit untuk meluapkan amarah yang meledak-ledak. Struktur bahasanya sendiri menahan emosi si penutur untuk tetap berada dalam koridor penghormatan."
Inilah yang disebut sebagai kearifan "Bahasa Ibu." Ibarat seorang ibu yang tidak pernah mendidik anaknya menjadi berandalan, bahasa ibu pun demikian. Jika hari ini kita melihat pergeseran perilaku pada generasi muda Jawa yang dianggap kurang sopan, Dhanu mengajak kita untuk refleksi diri: Apakah keluarga-keluarga Jawa masih memberikan ruang bagi anak-anak mereka untuk mengenal bahasa ibunya? Ataukah kita sedang membiarkan sebuah generasi "yatim piatu" secara kultural karena kehilangan akses pada bahasa yang memberikan keteduhan jiwa?
Sesi beralih pada aspek teknis yang tetap filosofis bersama Ignatius Untoro. Ia menekankan bahwa kebudayaan harus dilihat dalam dua dimensi: sebagai sistem warisan (apa yang kita terima) dan sistem produksi (apa yang kita ciptakan hari ini).
"Generasi saat ini punya kewajiban menciptakan kebudayaan baru," tegas Untoro. "Budaya itu dinamis, bukan fosil."
Dalam konteks Majalah Mata Budaya, Untoro menggarisbawahi pentingnya bentuk tulisan feature. Berbeda dengan berita lempang (straight news) yang hanya bicara siapa, apa, dan di mana, feature adalah karangan non-fiksi yang dipaparkan secara hidup. Di dalamnya ada sentuhan subjektivitas penulis, ada daya pikat manusiawi, dan ada upaya untuk meyakinkan pembaca melalui narasi yang mengalir.
Ia juga berbagi tips praktis tentang pencarian bahan. Observasi lapangan bukan sekadar datang dan melihat, melainkan "menelisik berbagai segi informasi." Sementara wawancara dilakukan untuk menemukan makna di balik peristiwa. "Terkadang, apa yang terlihat di permukaan tidak menceritakan segalanya. Kita butuh suara narasumber untuk menjelaskan 'mengapa' sebuah tradisi tetap bertahan," ungkapnya.
Ruang auditorium menjadi semakin hidup saat sesi tanya jawab dimulai. Juana, salah satu peserta, melontarkan pertanyaan yang sangat mewakili kegelisahan zaman: adanya "patahan" antara warisan dan produksi. Generasi muda sering menganggap adat itu merepotkan, seperti tren intimate wedding yang memangkas panjangnya ritual pernikahan tradisional demi efisiensi modernitas.
Ignatius Untoro menjawab dengan realistis namun provokatif. "Apa yang kita konsumsi hari ini adalah apa yang kita ambil dari sistem warisan untuk diolah kembali dalam sistem produksi. Memang mungkin tidak akan sesuai pakem (aturan baku) asli, karena namanya juga memproduksi hal baru. Namun, jika anak muda tidak memproduksi kembali, budaya itu akan habis. Menjaga warisan itu memang tidak mudah dan kadang tidak berkembang tanpa keberanian untuk memproduksi ulang."
Diskusi ini menyadarkan peserta bahwa budaya bukanlah benda mati di dalam etalase kaca museum, melainkan organisme yang butuh "oksigen" berupa kreativitas generasi baru agar tetap bernapas.
Pertanyaan menarik lainnya datang dari Riska, seorang Pendamping Budaya dari Gilangharjo. Ia menghadapi dilema etis saat menulis sejarah petilasan Selo Gilang Lipuro. Ada mitos tentang lampu yang selalu mati di sana, namun cerita tersebut dianggap tabu oleh sebagian orang untuk dituliskan.
Dhanu Priyo Prabowo merespons hal ini dengan pendekatan spiritualitas Jawa yang kental. Ia menceritakan kisah KRT. Kusumatanaya yang gagal memotret meriam kuno sampai ia melakukan etika "permisi" yang benar. "Jika hendak menuju tempat leluhur, mintalah izin dengan etika yang baik," saran Dhanu.
Ungkapan Suket godhong iso dadi rewang (rumput dan daun bisa menjadi teman) menjadi poin kunci bahwa alam akan mendukung jika kita bergerak dengan keikhlasan, tulus, dan tidak tergesa-gesa. Bagi seorang jurnalis budaya, etika bukan hanya soal code of conduct pers, melainkan juga tata krama terhadap subjek dan lingkungan yang ia tulis.
Menjelang akhir acara, Ifit bertanya tentang cara menjaga marwah di tengah persilangan modernitas dan tradisi. Anon Suneko memberi analogi melalui musik. Musik gamelan saat ini banyak dipadukan dengan unsur modern (seperti fenomena musik populer Jawa saat ini). Namun, ruh dari gamelan adalah representasi keselarasan alam. Jika seniman (atau penulis) tidak selaras dengan jiwanya sendiri, maka karyanya tidak akan pernah bisa menjadi representasi keselarasan kehidupan.
Pukul 12.00 WIB, workshop pun usai. Namun, tugas yang sesungguhnya baru saja dimulai. Keluar dari pintu Auditorium Sonobudoyo, para peserta tidak hanya membawa catatan teknik menulis, tetapi juga sebuah tanggung jawab moral untuk menjadi pengarsip zaman.
Budaya Yogyakarta, dengan segala ritus dan rupanya, adalah sebuah jantra roda yang terus berputar. Tugas jurnalis budaya adalah memastikan bahwa saat roda itu berputar menuju masa depan, ia tidak meninggalkan marwahnya di belakang. Kita sedang merupa masa depan, namun bahan bakunya adalah ingatan-ingatan yang kita rawat hari ini.
Sebagaimana kutipan penutup materi hari itu: budi luhur adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan. Dan melalui tulisan yang jujur, kemuliaan sejarah itu akan abadi dalam lembaran-lembaran Majalah Mata Budaya. (Supono)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...