"Yuswa Dalem: Kilau Budaya di Jantung Mataram"

by ifid|| 04 April 2026 || 156 kali

...

Sore itu, tepat pada tanggal 2 April 2026, denyut nadi Kota Yogyakarta terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Suasana di sepanjang Jalan Malioboro hingga Pintu Gerbang Barat Komplek Kepatihan terasa sangat berbeda, dipenuhi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru nusantara hingga mancanegara. Matahari mulai condong ke barat, menunjukkan pukul 16.00 WIB, ketika rona kegembiraan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai tumpah ruah ke jalanan bersejarah tersebut.

Mereka berkumpul bukan sekadar untuk menikmati temaram senja di jantung Mataram, melainkan untuk merayakan sebuah momentum yang sangat bersejarah dan emosional: Pesta Rakyat Mangayubagya Wolungndoso Taun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-80. Acara akbar yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan DIY ini menjadi oase hiburan, ruang temu, sekaligus penegasan identitas kultural yang tak lekang oleh waktu. Dipandu oleh dua pembawa acara yang penuh energi, Febri Setiawan dan Wijil Ramadani, gelaran ini menyapa ribuan pasang mata yang memadati area panggung maupun yang menyaksikan secara daring melalui kanal YouTube Taste of Jogja.

Tidak tanggung-tanggung, perayaan ini diwarnai dengan hadirnya 80 gerobak angkringan gratis yang didistribusikan di sepanjang kawasan Malioboro sebagai simbol usia Ngarso Dalem. Pelaksanaan kegiatan yang gegap gempita ini tidak hanya terpusat di satu titik panggung. Gelora pesta rakyat ini tersebar di 10 titik strategis kawasan Malioboro hingga Jalan Pangurakan. Keterlibatan berbagai instansi, komunitas seniman, pelajar, dan warga menunjukkan sinergi yang sangat padu dalam membangun ruang ekspresi budaya yang inklusif, merakyat, dan penuh dengan kehangatan.

Manunggaling Kawulo Gusti dalam Semangat Golong Gilig dan Berkah Tumpeng

Tepat ketika acara dimulai, suasana sakral namun hangat menyelimuti lokasi. Peringatan Mangayubagya Yuswa Dalem ini merupakan wujud nyata rasa syukur dan penghormatan mendalam masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta kepada Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam momen magis tersebut, masyarakat seraya memanjatkan doa bersama yang dipimpin di awal acara, berharap agar beliau senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, panjang umur, dan kekuatan di dalam memimpin.

Sekretaris Daerah (Sekda) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ni Made Dwipanti Indrayanti, hadir secara langsung mewakili pemerintah daerah untuk meresmikan pembukaan acara ini. Dalam sambutannya yang menggugah relung hati, beliau menekankan pentingnya filosofi manunggaling kawulo gusti yang berjalan seiring dengan tema pesta rakyat kali ini, yakni "Golong Gilig". Filosofi ini bukan sekadar semboyan kosong, melainkan ruh dari perayaan itu sendiri; sebuah lambang kebulatan tekad dan persatuan yang kokoh antara pemimpin keraton dan rakyatnya.

Pesta rakyat ini, lanjut Ibu Sekda, menjadi momentum sangat penting untuk menghadirkan beragam atraksi kesenian kerakyatan yang dipersembahkan langsung oleh masyarakat dari empat kabupaten dan satu kota di DIY sebagai wujud cinta dan bakti kepada Ngarsa Dalem. Atraksi kerakyatan yang memeriahkan acara ini merupakan kesenian tradisional yang tumbuh dari akar rumput, berkembang, dan hidup membaur di tengah komunitas masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Kesenian ini tidak hanya berfungsi statis sebagai identitas budaya lokal semata, tetapi juga bergerak dinamis sebagai sarana hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur yang tak terhingga. Rangkaian acara kemudian secara resmi dibuka dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa.

Yang membuat momen pembukaan ini begitu berkesan adalah kehadiran Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X (Gusti Putri) yang turun langsung untuk "ngeduk tumpeng". Ada lima tumpeng besar yang melambangkan kebersamaan 4 kabupaten dan 1 kota di DIY. Potongan tumpeng pertama secara simbolis diserahkan kepada Ibu Sekda, dan selanjutnya hasil bumi serta makanan tersebut dibagikan kepada segenap hadirin. Ratusan warga yang hadir di pelataran Kepatihan tak luput merasakan keberkahan dari nasi kuning tersebut, sebuah tradisi berbagi yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi Keraton Yogyakarta.

Estetika Gerak: Dari "Nyawiji", Keceriaan Bebatokan, hingga Harmoni Daur Ulang

Panggung Pesta Rakyat menyajikan panorama ragam budaya yang memanjakan mata. Pertunjukan pertama disemarakkan oleh persembahan Tari Nyawiji dari Desa Budaya Argodadi, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul. Tarian ini tidak sekadar gerak fisik biasa, melainkan menggambarkan dengan kuat semangat kebersamaan masyarakat untuk bersatu padu dalam meraih kesuksesan, atau dalam bahasa Jawa sering disebut dengan filosofi "Nyawiji".

Dikoreografikan oleh penata tari andal, Mita Prastiwi S.Sn, dan diiringi alunan musik ritmis dari penata iringan Dedy Krisnanto S.Pd, para penari tampil memukau penonton di bawah temaram langit Malioboro. Tari Nyawiji ini juga berdiri sebagai sebuah gambaran bahwa Desa Budaya Argodadi mempunyai cita-cita dan tujuan mulia dengan semboyan "Bumi Aji Saka", yang memiliki kepanjangan: Budaya Migunani Argodadi Nyawiji Tan Saya Ngrembaka. Ada untaian doa yang disematkan secara implisit dalam setiap liukan dan hentakan penarinya, yakni harapan agar melalui potensi yang ada di Kalurahan Budaya Argodadi, seni dapat menjadi pengantar yang efektif dalam mewujudkan kesejahteraan para warga. Di sela-sela penampilan mereka, pembawa acara juga berkeliling membagikan "Emping Melinjo", penganan khas dari Argodadi, kepada para turis, termasuk seorang wisatawan Inggris bernama Nick yang baru pertama kali mencicipi kudapan gurih tradisional tersebut.

Keceriaan panggung berlanjut manakala kontingen dari Kulon Progo, tepatnya Kelurahan Budaya Tanjungharjo, Nanggulan, menampilkan tarian "Solah Kidung Bebatokan". Tarian ini mengusung memori masa kecil yang indah, menceritakan keceriaan anak-anak desa yang begitu kreatif memanfaatkan limbah batok kelapa menjadi mainan yang menghibur. Lewat gerak tari yang sangat lincah, diselingi kidung sederhana yang mengundang tawa, para penari memamerkan rasa kebersamaan, canda ria, dan semangat bermain khas masa anak-anak pedesaan. Batok kelapa yang awalnya tampak tidak berharga dan biasa saja, disulap menjadi sumber kegembiraan dan sarana imajinasi tanpa batas. Tarian ini tak ubahnya sebuah pengingat, menekankan betapa dekatnya kehidupan anak-anak nusantara zaman dahulu dengan alam raya.

Disisi lain, saat malam mulai menjelang, Kalurahan Sukoreno dari Sentolo, Kulon Progo menampilkan karya seni inovatif luar biasa bertajuk "Harmoni Sukoreno". Karya ini merupakan sebuah eksperimen brilian yang menghadirkan perpaduan unik antara alunan musik tangga nada pentatonis dan diatonis. Kombinasi dari kedua tangga nada lintas kultural ini menghasilkan sebuah harmoni yang kaya dimensi dan sangat dinamis, dibalut dengan pengolahan nada serta irama yang saling bersahutan selaras. Kesatuan musikal tersebut tidak hanya sukses menciptakan keindahan bunyi yang menggetarkan panggung, tetapi juga merepresentasikan dan menggambarkan nilai estetika luhur yang hidup abadi dalam budaya lokal masyarakat.

Akan tetapi, satu hal yang membuat penampilan Harmoni Sukoreno begitu mencolok di mata ribuan pasang mata adalah presentasi visualnya. Keindahan karya musikal ini menjadi semakin lengkap dan avant-garde dengan hadirnya gerak tari yang khas serta suguhan peragaan busana (fashion show) yang mengenakan balutan busana dari kain perca nan artistik. Produk kerajinan kain perca ini dikembangkan oleh pengrajin lokal Sukoreno di bawah naungan "Bench Perca". Setiap gerakan dari para peragawan dan peragawati mencerminkan karakter kuat serta identitas budaya Sukoreno, menghadirkan pesona ekspresi yang penuh makna filosofis dan keunikan gaya. Melalui sinergi tanpa cela antara harmoni musik, olah tari, dan mode kostum daur ulang, Harmoni Sukoreno menjelma menjadi sebuah representasi kekayaan budaya modern yang tetap berpijak pada tradisi, dikemas secara harmonis dan sangat memikat.

Cahaya Kehidupan Petani Gunungkidul: Panembrama Sumunar Petir

Dari kawasan pegunungan karst, Kelurahan Budaya Petir, Rongkop, Gunungkidul membawa kedalaman rasa melalui pertunjukan seni olah vokal "Panembrama Sumunar". Sumunar sendiri dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sangat positif, yakni "Bersinar". Bagi masyarakat pedesaan, tata cara dan adat istiadat suatu daerah bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan tercermin secara nyata dalam setiap aktivitas kehidupan masyarakat setiap harinya.

Tujuan hidup masyarakat Petir khususnya, direpresentasikan dan tercermin dengan sangat puitis dalam proses pertunjukan garapan Panembrama ini. Pertunjukan ini secara gamblang terinspirasi dari kehidupan nyata masyarakat sekitar yang mayoritas menggantungkan asa sebagai petani. Hal tersebut membuat pertunjukan Panembrama yang pada dasarnya sangat identik dengan seni olah vokal keraton bertransformasi menjadi lebih organik dengan berkolaborasi bersama seni tari khas kerakyatan.

Kolaborasi apik antara laras seni Karawitan dan olah tari ini sangat berorientasi pada cita-cita dan harapan agar desa Petir kelak menjadi bersinar gemilang. Dengan memadukan berbagai jenis kesenian, adat tradisi, dan budaya lokal yang digarap sedemikian rupa, pertunjukan ini sukses melahirkan salah satu bentuk seni panembrama versi kontemporer atau baru. Versi anyar ini menyajikan penyajian yang tampak jauh lebih hidup, dinamis, dan atraktif, namun tanpa sekalipun meninggalkan pakem serta unsur-unsur fundamental yang ada dalam seni panembrama klasik.

 

Derap Langkah Religi Kuntulan dan Gemerincing Semangat Bantaran Sungai

Tak mau kalah dengan kabupaten lain, kontingen dari Kabupaten Sleman menampilkan energi komunal yang luar biasa di panggung kehormatan. Kalurahan Budaya Sendangagung dari Kapanewon Minggir mempersembahkan tidak hanya satu, melainkan dua repertoar yang sukses menghentak panggung dan membuat penonton terpukau.

Repertoar pertama yang disajikan adalah "Tari Kridha Hanuraga". Karya tarian agung ini merupakan bentuk dari pelestarian sekaligus pengembangan dari kesenian luhur rakyat, yakni Kuntulan. Kesenian Kuntulan sendiri, jika ditelisik dari sejarahnya, termasuk ke dalam ragam kesenian religi nusantara, mengingat lagu-lagu pengiring yang disajikan sejatinya merupakan wujud syukur yang mendalam serta lantunan puji-pujian yang diarahkan kepada Tuhan YME. Kesenian agamis ini telah berurat berakar dan menjadi salah satu potensi kesenian paling membanggakan di Kalurahan Budaya Sendangagung. Sajian magis Tari Kuntulan ini mewujudkan ragam pola gerakan ketangkasan bela diri silat yang sudah diperhalus, disaring, dan diperindah sedemikian rupa sehingga menyatu menjadi sebuah sajian pertunjukan seni tari estetis. Tarian gagah namun gemulai ini dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para seniwati muda asli dari Kalurahan Budaya Sendangagung. Penampilan lincah mereka menjadi wujud paling konkret dari upaya desa memaksimalkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, serta menjadi wujud rasa dan komitmen teguh untuk menjaga dan terus melestarikan warisan kebudayaan nenek moyang.

Begitu repertoar pertama usai, suasana riuh tepuk tangan langsung disambut dengan sajian repertoar kedua yang tak kalah mengundang detak kagum: "Tari Gumrincing". Sama seperti repertoar sebelumnya, Tari Gumrincing juga merupakan sebuah sajian tari dinamis hasil dari pengembangan napas seni kerakyatan pedesaan. Menurut para senimannya, terciptanya gerakan-gerakan atraktif dalam Tari Gumrincing sangat terinspirasi dari gabungan beberapa seni kerakyatan jalanan seperti jatilan, badui, topeng ireng, gedruk, dan juga incling.

Nama tarian ini sendiri terbilang sangat onomatopeik dan unik. Kata "Gumrincing" sejatinya diserap langsung dari bunyi nyaring instrumen Krincing atau Klinthing berbahan kuningan yang diikatkan dan digunakan pada pergelangan kaki oleh para penari. Setiap hentakan kaki penari memecah kesunyian malam Malioboro. Suara Cring.... Cring.... Cring.... yang khas berpadu dengan sangat apik di udara. Para seniman merangkum harmoni alamiah ini dalam sebuah kalimat puitis: Suara Krincing Gumrincing, Gegedrukan Joged'e Anut Wiramane Gendhing (Suara kerincing bergemerincing, hentakan kaki tarian mengikuti ritme irama gending).

Legenda Mistis di Kaki Merapi: Mitos Dhayang Ayu dan Kiai Janggol dari Sinduharjo

Di tengah-tengah deretan tarian riang, Kalurahan Budaya Sinduharjo dari Kapanewon Ngaglik, Sleman, hadir menyuguhkan aura mistis dan teaterikal yang menyayat hati tentang pengorbanan. Dibawakan dengan gaya penceritaan storytelling epik (mendongeng) dipadukan dengan tarian, karya ini membedah mitos lokal tentang asal-usul dan perlindungan di Padukuhan Dayu.

Alkisah di lereng selatan Gunung Merapi, hiduplah dua entitas gaib penjaga alam. Salah satunya adalah Kiai Janggol, sosok penguasa aliran sungai. Yang lainnya adalah Dhayang Ayu. Dhayang Ayu dikenal dalam cerita tutur masyarakat sebagai sosok makhluk halus penunggu mbelik atau sumber mata air yang lokasinya berada di tengah Dusun, sebelah barat sungai pelang di Padukuhan Dayu. Berbeda dengan monster mengerikan, perwujudan dari entitas gaib ini digambarkan sebagai seorang wanita yang sangat cantik jelita dan memiliki kesaktian linuwih. Konon, sumber mata air atau mbelik yang dijaga olehnya merupakan sumber kehidupan; debit airnya mengalir deras dan tidak pernah surut meskipun desa tersebut dilanda musim kemarau yang amat panjang.

Dalam pertunjukan tersebut, dikisahkan suatu hari Kiai Janggol merasa arogan dan ingin menguji seberapa hebat kesaktian Dhayang Ayu. Pertarungan antara kekuatan gaib keduanya tak terelakkan, membuat alam marah. Di saat mereka saling adu sakti, dari arah utara, Gunung Merapi memuntahkan awan panas, batu, dan lahar pijar yang mengalir deras ke arah pemukiman dan aliran sungai tempat mereka bertarung. Menyadari bahwa rakyat dan wilayahnya terancam musnah, mereka menghentikan pertarungan dan mengubah niat.

Kiai Janggol, dengan sekuat tenaga, berusaha membelokkan muntahan material vulkanik tersebut menggunakan tongkatnya, dan kemudian mengorbankan dirinya dengan merubah wujud menjadi seekor ikan pelus raksasa (mirip sidat atau ular besar) yang menetap abadi di dasar Sungai Pelang guna melindungi sungai. Sementara itu, Dhayang Ayu berlari menuju sumber mata air (mbelik) kekuasaannya, berupaya mati-matian menutupi mata air suci itu dengan tubuhnya dan sebuah gong besar agar tidak tercemar lahar beracun dari Merapi. Tubuhnya pun perlahan-lahan hancur melebur bersama tanah akibat terjangan material vulkanik tersebut, namun sebelum sirna, ia merapal rapalan doa agar tanah sisa pengorbanannya tersebut terus membawa kehidupan bagi generasi yang akan datang. Untuk menghormati nama dan kebaikan sosok tersebut, daerah itu dinamakan Padukuhan Dayu.

Legenda teatrikal ini bukan semata-mata dongeng pengantar tidur. Dengan kecantikan rupa dan besarnya kesaktian batin yang dimiliki oleh karakter Dhayang Ayu dalam lakon tersebut, karya ini adalah wujud harapan besar dari warga. Diharapkan kelak, setelah terbentuknya Kalurahan Sinduharjo, semangat perlindungan sang Dayang mampu menjadi symbol penjaga gaib dan pelindung abadi dari berbagai aspek rintangan apapun di kalurahan Sinduharjo. Hal ini sangat relevan dikarenakan, secara administratif struktural, Kalurahan Sinduharjo pada hakikatnya merupakan daerah gabungan historis dari 3 Kalurahan mandiri di masa lalu, yaitu Kalurahan Dayu, Kalurahan Prujakan, dan Kalurahan Gentan. Makna filosofis dari penamaan Kalurahan Sinduharjo sendiri pada akhirnya juga tidak bisa dilepaskan dari peran vital mata air atau air kehidupan. "Sindu" berarti Air, sedangkan "Harjo" bermakna Kemakmuran. Penamaan desa ini merupakan sebuah doa dan harapan mendalam bahwa airlah yang akan senantiasa menjadi sumber yang membawa kemakmuran abadi bagi desa.

Romansa Klasik Sebayu dan Epik Ketegangan Alengka di Atas Panggung

Bercerita melalui tarian teatrikal memang selalu menjadi kekuatan sejati dari pakem kesenian klasik Jawa. Tradisi luhur ini dibuktikan dengan sangat manis oleh kontingen dari Kalurahan Budaya Triharjo, Kapanewon Sleman, yang membawakan persembahan karya klasik berjudul "Kubro Gandrung Seba Ayu". Jika Sinduharjo mengusung tema pengorbanan, tarian dari Triharjo ini mengusung sebuah sinopsis romantis yang membuai angan.

Alkisah merujuk pada memori di sebuah Desa Sebayu, Triharjo, Kabupaten Sleman. Pada jaman dahulu kala, diceritakan ada suatu tempat khusus menyerupai kaputren yang berada asri di pelosok desa sebayu. Konon katanya, banyak sekali kumpulan gadis-gadis cantik molek yang sering beraktifitas dan menenun di tempat tersebut setiap harinya. Tiba-tiba suatu hari, ada seorang lelaki pengembara dari daerah luar yang datang merantau ke desa, dan dengan ketidaksengajaan ia mengunjungi tempat kaputren tersebut. Disinilah takdir mempertemukan mereka; menjadi titik awal mula bertemunya seorang gadis desa yang teramat cantik bernama 'Gandari' dengan sosok pemuda lelaki rupawan yang bernama 'Bayu'.

Kisah asmara bernuansa pewayangan ini berlanjut mendalam saat Bayu, yang seolah tersihir, terpesona tanpa henti memandang keanggunan rupa dan perilaku si Gandari. Ia pun dengan berani mencoba mendekatinya selangkah demi selangkah untuk sekadar berkenalan. Sang pemuda bahkan sampai rela memperlihatkan bakat menarinya yang luwes di hadapan Gandari dengan tujuan utama biar bisa merayap masuk dan mendapatkan lubuk hatinya. Segala upaya keras dan tarian gemulai tersebut pada akhirnya berbuah manis yang tak terkira. Alhasil, hati sang perawan Gandari perlahan mulai luluh tanpa syarat dengan usaha gigih si Bayu. Mereka berdua pun akhirnya bersatu dan saling memadu kasih abadi di bawah naungan semesta alam desa.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Triharjo yang begitu romantis dan manis, rombongan penampil dari Desa Budaya Trimurti, Srandakan, Bantul menghadirkan adrenalin dan ketegangan peperangan mematikan melalui lakon "Anila Prahasta". Karya heroik yang secara cermat ditata tarinya oleh koreografer Rizal Nurohman dan iringannya dipimpin oleh Dani Susilo ini sangat teatrikal, dihiasi dengan kostum riasan menawan garapan Mega Pamungkas. Lakon berdarah ini diambil dari penggalan bagian cerita epik pewayangan Ramayana, tepatnya saat meletus palagan perang besar antara bala tentara pasukan kera melawan prajurit raksasa jahat.

Di atas panggung raksasa beralaskan aspal Malioboro tersebut, para penonton seakan disihir dan disuguhi adegan kolosal yang menceritakan duel maut jarak dekat antara Anila, sesosok makhluk lincah yang merupakan sang panglima kera bertubuh biru es dari angkatan perang utusan Sri Rama. Di seberang medan laga, berdiri sang antagonis, yang siap sedia melawan hantaman Anila: Patih Prahasto (Prahasta). Karakter Patih Prahasta sendiri bukan sosok sembarangan; dalam mitologi, ia sangat dikenal sebagai sosok paman sekaligus panglima patih andalan utama dari raja angkara murka Prabu Dasamuka (Rahwana), yang berasal dari Kerajaan raksasa Alengka. Loncatan gesit Anila yang menghindari sabetan Prahasta membuat ribuan penonton menahan napas kagum hingga akhir pementasan. Usai penampilan yang menegangkan ini, pembawa acara pun mendinginkan suasana dengan membagi-bagikan sebungkus mie lethek, kuliner khas Srandakan, Trimurti, Bantul yang rasanya otentik kepada penonton sembari menyanyikan tembang Jawa.

Filosofi Roda Kehidupan Sriharjo dan Puncak Kenangan Logandeng

Sebagai pengantar menuju bagian penutup acara yang sudah larut malam, Kalurahan Budaya Sriharjo dari Imogiri, Bantul, memberikan persembahan kontemplatif yang sangat filosofis dan menggugah rasa lewat pertunjukan tarian musikal berjudul "Ombak Segara Nada Kridha Maruta".

Pada babak pembuka, pertunjukan megah ini diawali dengan merdunya alunan lagu berjudul "Sriharjo Reja", sebuah kidung yang mendeskripsikan sekaligus menggambarkan tumpukan harapan doa akan kesejahteraan segenap warga desa Sriharjo agar senantiasa melimpah ruah. Suasana hiruk-pikuk perlahan berubah menjadi hening dan sangat syahdu manakala alunan itu dilanjutkan dengan pembacaan tembang "Macapat Rambangan". Tembang macapat ini bertindak sebagai medium narasi gambaran roda perjalanan fana hidup manusia sejak lahir hingga ajal menjemput.

Menariknya, para seniman lokal Sriharjo juga menyelipkan pesan patriotisme dan semangat nasionalisme yang membara ke dalam garapan seni lokal. Irama klasik tiba-tiba berubah dinamis dengan dimainkannya Gendhing Empat Lima dan lagu perjuangan Garuda Pancasila yang diaransir sedemikian rupa dan dibawakan secara paduan suara (meddly). Kehadiran lagu nasional dalam format sinden dan wiyaga ini adalah sebuah reminder atau pengingat abadi bahwa kecintaan pada tanah air adalah mutlak dan merupakan landasan hidup yang menyatukan Bangsa Indonesia dalam bingkai kebhinekaan.

Rangkaian mahakarya ini akhirnya ditutup secara epik saat alunan gamelan memuncak dan disambung dengan sesi dramatari yang dinamakan "Kridha Maruta". Dramatari Kridha Maruta ini sesungguhnya adalah sebuah perumpamaan visual dan simbol dari cakra manggilingan kehidupan alam semesta yang selalu dinamis, berputar, dan terus bergerak tanpa kenal kata henti. Terselip sebuah pesan pamungkas yang sangat mendalam dari tarian tersebut yang berbunyi dalam semboyan: Urip Kudu Obah (Yang bermakna: Selama nyawa dikandung badan, manusia yang hidup harus terus bergerak, berikhtiar, dan berusaha tanpa henti). Menyertai filosofi pergerakan kehidupan Urip Kudu Obah tersebut, para penampil Sriharjo tampak memegang properti Kitiran (baling-baling kertas). Baling-baling yang berputar terkena terpaan angin itu tidak hanya menjadi estetika panggung belaka, melainkan juga properti awal sebagai undangan soft-launching kepada warga yang hadir bahwasanya Desa Sriharjo akan menggelar festival ribuan Kitiran berskala besar pada bulan Juli di tahun yang sama.

Tirai penutup rangkaian panjang Pesta Rakyat ini pada akhirnya diambil alih oleh suguhan musikal yang paling merakyat dari Kabupaten Gunungkidul. Perwakilan seniman jalanan dan keraton dari Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, membawa gelombang nostalgia masif nan kental melalui penampilan kelompok Campur Sari Laras Logandeng. Kemunculan para maestro dari bukit sewu ini ibarat memastikan bahwa sejarah panjang genre musik pemersatu rakyat (campursari) ini seakan benar-benar hidup dan bernafas kembali dari atas panggung aspal Malioboro, menyentuh relung-relung jiwa masyarakat dari berbagai kelas sosial.

Narasi awal yang disampaikan MC sukses membawa ingatan lara penonton terbang mundur jauh ke dekade tahun 1990-an silam. Sejarah mencatat bahwa kala itu, bertempat secara sederhana di pojokan Warung Bakmi milik Mbah Noto di kawasan terpencil Desa Logandeng, sang maestro legendaris Manthous merintis genre ini. Di situlah almarhum bersama seniman lokal desa sering berkumpul malam hari, berkolaborasi sembari menyantap bakmi, dan memainkan beberapa alat musik tradisional yang sangat sederhana. Momen iseng dan kebersamaan bersahaja di warung bakmi pinggiran itulah yang kemudian tak dinyana menjadi embrio serta cikal bakal berkembangnya musik campur sari yang menggema menembus cakrawala dari balik bukit tandus Gunung Kidul. Berkat kejeniusan tersebut, beberapa tahun berselang di masa emas kaset pita, Manthous akhirnya berhasil merajai blantika musik tanah air dan sukses besar mengibarkan panji-panji kemegahan musik campur sari di kancah industri musik Indonesia; menghipnotis jutaan pendengar Nusantara dengan tembang-tembang romantis patah hatinya yang sangat syahdu dan easy listening (enak didengar).

Kini, demi merawat pusaka tersebut, Paguyuban seni campur sari Laras Logandeng, yang jelas-jelas terinspirasi dan digerakkan oleh napas perjuangan keras maestro Manthous, tampil unjuk gigi di perayaan ini dengan kebanggaan yang teramat sangat. Di bawah asuhan tangan dingin sang sesepuh desa, Mbah Yono (yang turut hadir di pelataran Kepatihan pada malam perayaan tersebut), bersama para musisi generasi muda setempat, paguyuban ini bersumpah terus berupaya sekuat tenaga untuk mengembangkan sayap kreasi, memodernisasi komposisi, dan utamanya menjaga kemurnian nilai budaya luhur yang selama ini bersemayam kuat di wilayah Logandeng.

Dipimpin secara enerjik oleh Ketua CS Laras Logandeng, Bapak Yeter Ruwijo, alunan syahdu melodi kibor dan gendang elektronik campursari sukses membuai sekaligus menggoyang tubuh ribuan hadirin di sepanjang jalan. Alunan tembang seperti "Bengawan Sore" dan disusul hentakan gembira lagu andalan "Tiwul Gunungkidul" sukses menghipnotis para hadirin dari ujung ke ujung jalan Malioboro. Sang vokalis tidak sekadar bernyanyi, namun juga dengan bangganya mempromosikan UMKM lokal khas dari Logandeng yang disebarkan kepada penonton malam itu, yaitu keripik rempeyek sari menir, peyek kedele, bakpia rasa kacang ijo cap "Sariasa", serta legitnya penganan getuk goreng bernama "Srikandi". Segala komoditas asli dari tanah bebatuan ini disambut riuh dan tawa tepuk tangan yang memecah malam perayaan.

Puncak keriaan yang tiada tara malam itu ditutup oleh lagu wajib tak resmi rakyat Yogyakarta, yaitu "Jogja Istimewa" dari Ndarboy (dipermak dalam balutan campursari Laras Logandeng), yang di mana seluruh elemen kerakyatan mulai dari aparat keamanan, penari dari semua kontingen kabupaten, warga lokal, mahasiswa rantauan, perwakilan pendatang dari ujung Sumatera hingga ke ujung Papua, hingga para turis asing yang tak mengerti bahasa Jawa sekalipun berdiri bersama, bahu-membahu berjoget gembira dengan irama rancak.

Pesta Rakyat Mangayubagya Wolungndoso Taun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X pada momen 2 April 2026 ini jelas sekali lagi membuktikan bahwa keraton, birokrasi, dan rakyat bukan sebatas hubungan kekuasaan yang kaku dan seremonial semata. Mengutip secara dalam dari intisari teks sambutan pada awal acara saat senja menyapa, seluruh gelar budaya kesenian ini secara utuh mencerminkan pilar dan fondasi nilai-nilai esensial kehidupan yang mahapenting, merangkum makna seperti indahnya rajutan kebersamaan, kepedulian gotong royong antar warga pedesaan, kemandirian lewat UMKM, dan kuatnya kearifan lokal kerakyatan yang senantiasa terus dijaga kelestariannya dan diwariskan ibarat harta karun secara berkesinambungan dan turun-temurun tanpa lekang ditelan gempuran zaman. Gelora tak berkesudahan di aspal Pintu Gerbang Barat Kepatihan hingga jauh larut malam tersebut menjadi saksi dan bukti sahih yang otentik, memamerkan ke mata dunia bahwa budaya akar rumput masyarakat lokal di DIY tidak hanya masih bernapas lega, namun masih sangat membara dan hidup penuh gelora, merasuk sukma dan terus menerus berdenyut merdu seirama dengan detak jantung nadi setiap individu masyarakatnya dari generasi demi generasi. Selamat Ulang Tahun ke-80, Ngarso Dalem. Jogja tetap istimewa, hari ini, esok, dan selamanya. (Hasni Griya A)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta