"Gema Kidung Lestari: Simfoni Anak Sembada Menjaga Alam"

by admin|| 13 April 2026 || 91 kali

...

Sleman, 11 April 2026 – Langit di atas Kapanewon Ngaglik mungkin tampak sama seperti hari-hari biasanya, namun di dalam Gedung Serbaguna Sedan, sebuah simfoni peradaban sedang ditenun. Aroma melati meruap di antara riuh rendah suara gamelan yang sedang dilaras. Di sudut ruangan, anak-anak dengan wajah yang dipulas bedak tebal dan mengenakan kain lurik tampak bersiap. Mereka bukan sekadar penari; mereka adalah pembawa pesan, pewaris takhta kebudayaan yang sedang bersiap menggetarkan panggung Festival Langen Carita Tingkat Kabupaten Sleman 2026.

Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan. Di bawah naungan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman dan didanai oleh Dana Keistimewaan, acara ini menjadi kawah candradimuka bagi regenerasi seniman muda. Tahun ini, tema yang diusung sangat krusial: "Cinta Alam dan Kesadaran Lingkungan". Sebuah refleksi mendalam bahwa seni tidak boleh berjarak dari realitas bumi yang kita pijak.

Menanam Adab di Atas Panggung

Pukul 09.00 WIB, suasana gedung mulai memadat. Festival dibuka dengan khidmat, diawali dengan laporan penyelenggaraan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Sleman. Beliau menekankan bahwa Langen Carita adalah media pembentuk karakter. "Ini adalah cara kita membentuk fundamen identitas anak melalui muatan yang sesuai usia mereka," ungkapnya.

Kehadiran perwakilan dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menambah bobot prestise acara ini. Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan monitoring ketat untuk memastikan bahwa bibit-bibit yang muncul dari Sleman benar-benar memiliki kualitas mumpuni untuk bersaing di jenjang Provinsi kelak. Monitoring berjenjang ini memastikan bahwa proses kreatif di setiap kabupaten terjaga marwahnya.

Simbolis pemukulan kenong sebanyak tiga kali oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Bapak Dr. Susmiarto, menjadi penanda bahwa tirai budaya resmi dibuka. Gemuruh tepuk tangan penonton yang memenuhi gedung seolah menjadi bahan bakar bagi para peserta yang telah bersiap di balik panggung.

Satriya Wana dan Jeritan Hutan Moyudan

Kontingen pertama muncul dari arah barat Sleman, Kapanewon Moyudan. Membawakan lakon "Satriya Wana", mereka membawa penonton masuk ke dalam rimbunnya hutan yang mulai terusik oleh tangan-tangan serakah. Melalui gerak yang tangkas dan tembang yang jernih, anak-anak Moyudan menggambarkan ketegangan antara pemburu gelap dan para penjaga hutan.

Ada pesan moral yang kuat di sana: bahwa setiap busur panah yang dilepaskan bukan hanya mengancam satu spesies hewan, melainkan sedang merobek masa depan alam itu sendiri. Properti pohon-pohon tiruan yang dibawa ke atas panggung memberikan kesan visual yang dramatis, mengingatkan semua yang hadir bahwa hutan adalah napas kehidupan yang harus dijaga oleh ksatria-ksatria masa depan.

Harmoni Njaga Bumi dari Kapanewon Melati

Suasana berubah syahdu saat kontingen Kapanewon Melati naik ke pentas. Membawakan lakon "Njaga Bumi Lestari", mereka bercerita tentang tokoh Kinasih, seorang anak tangguh yang kehilangan rumahnya akibat bencana longsor. Kesedihan Kinasih diubah menjadi kekuatan kolektif saat teman-temannya Laras, Kenanga, dan Melati bersatu padu menghijaukan kembali bumi.

Melati berhasil mencuri perhatian dewan juri dengan harmonisasi antara vokal dan gerak yang sangat apik. Tembang-tembang yang dibawakan terasa memiliki "nyawa", menyampaikan pesan bahwa solidaritas adalah kunci untuk melawan kerusakan lingkungan. Konflik muncul saat kawanan celeng hutan (binatang perusak) mencoba merusak tanaman mereka, namun dengan persatuan, ancaman itu berhasil dihalau. Kemenangan Kinasih adalah kemenangan alam, sebuah pesan yang disampaikan dengan estetika tinggi yang nantinya akan mengantarkan mereka menduduki takhta tertinggi dalam festival ini.

Refleksi Sosial dari Berbah, Depok, dan Seyegan

Tak kalah memukau, Kapanewon Berbah hadir dengan lakon "Piwulang". Mereka membawa setting ruang kelas dan lingkungan sekolah ke atas panggung. Fokus ceritanya sederhana namun tajam: tentang bagaimana pendidikan karakter sejak dini menjadi tameng utama terhadap sikap tak acuh pada lingkungan. Berbah berhasil menduduki Juara 3 dengan eksekusi cerita yang rapi dan menyentuh hati.

Sementara itu, Kapanewon Depok membawakan lakon "Nalika Tembung Ora Kawaca". Sebuah drama tentang kesalahpahaman dalam pembangunan jembatan yang menghubungkan dua dusun. Pesan filosofisnya sangat dalam: komunikasi dan transparansi adalah bagian dari menjaga harmoni sosial dan lingkungan.

Gong pungkasan diledakkan oleh Kapanewon Seyegan dengan lakon "Aja Dumeh". Dengan energi yang meledak-ledak di penghujung hari, Seyegan memberikan kritik sosial terhadap perilaku manusia yang merasa berkuasa (dumeh) sehingga tega mengeksploitasi tambang pasir dan merusak gunung tanpa memikirkan bencana yang mengintai. Penampilan yang powerful ini membawa mereka meraih posisi Juara 2.

Catatan dari Meja Juri

Di balik kemeriahan itu, tiga pasang mata dewan juri Dr. Wahyudi Purnomo, Dr. G.S. Darto, dan Sri Wahyuningsih bekerja keras. Menilai anak-anak bukan perkara mudah; ada hati yang harus dijaga namun ada kualitas yang harus ditegakkan.

Ibu Sri Wahyuningsih memberikan catatan berharga mengenai vokal. Beliau menekankan pentingnya artikulasi dan pengolahan napas. "Menyanyi sambil menari itu tidak mudah, apalagi bagi anak-anak. Namun, ekspresi harus tetap terjaga; jangan sampai lagunya gembira tapi wajahnya tegang," pesannya. Sementara Bapak Wahyudi Purnomo mengingatkan bahwa Langen Carita bertumpu pada tembang, sehingga penguasaan laras menjadi kunci utama bagi siapa pun yang ingin melangkah ke tingkat provinsi.

Estafet Budaya yang Tak Boleh Padam

Sore itu, saat pengumuman dibacakan, Kapanewon Melati meledak dalam kegembiraan. Dengan total nilai 1024, mereka resmi mengemban tugas berat namun mulia: mewakili Sleman di ajang Provinsi DIY pada bulan Mei mendatang. Namun, di luar angka dan piala, kemenangan sesungguhnya adalah keberanian ratusan anak Sleman untuk mencintai budayanya di tengah gempuran zaman digital.

Gedung Serbaguna Sedan mungkin kembali sunyi setelah acara usai, namun gema tembang anak-anak Sleman tentang cinta alam akan terus terngiang. Festival Langen Carita 2026 telah membuktikan bahwa kebudayaan bukan sekadar masa lalu yang statis, melainkan energi masa depan yang dinamis.

Dari Bumi Sembada, untuk Nusantara, seni adalah cara kita berbisik kepada alam bahwa kita akan menjaganya, sekarang dan selamanya. (Hasni Griya A)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta