"Trilogi Mataram di Atas Pedal"

by ifid|| 15 April 2026 || 70 kali

...

IMOGIRI – Selasa, 14 April 2026, Suasana kabut tipis masih menggelayut  di pundak perbukitan Seribu. Di Bale Nolowangsa, atau yang lebih dikenal sebagai Bale Palereman, suasana tampak berbeda dari biasanya. Deretan sepeda statis dan papan informasi berwarna hijau tua berdiri anggun, menyambut para tamu yang hadir untuk sebuah saksi sejarah baru: peluncuran Jogja Heritage Cycling (JHC) Rute Imogiri.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa Imogiri bukan sekadar titik geografis, melainkan bagian integral dari Poros Mataram Islam bersama Kotagede dan Kerta-Plered. "Imogiri memiliki makna historis yang sangat mendalam sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram Islam. Nilai sejarah, filosofi, serta tradisi yang masih lestari menjadikan kawasan ini warisan budaya yang sangat berharga," ujarnya dengan nada takzim.

Filosofi di Balik Roda

Program JHC ini bukan sekadar wisata olahraga. Ini adalah narasi bergerak yang didanai oleh Dana Keistimewaan untuk mendekatkan masyarakat pada akar identitasnya. Rute Imogiri secara khusus mengusung tema besar: "Teknologi, Cinta, dan Kuasa Mataram". Sebuah trilogi nilai yang merangkum bagaimana peradaban besar ini dibangun, dipertahankan, dan diwariskan.

Perjalanan dimulai dari Bale Palereman, sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu persiapan menuju keabadian bagi mereka yang akan dimakamkan di bukit Pajimatan. Dari sini, peserta tidak hanya diajak mengayuh pedal, tetapi juga mengayuh ingatan kolektif tentang kebesaran masa lalu yang masih berdenyut hingga hari ini.

Jejak Sunyi di Banyusumurup

Setelah meninggalkan Bale Palereman, rute membawa peserta menuju Komplek Makam Banyusumurup. Tempat ini menyimpan cerita tentang "Kuasa" dalam sisi yang paling manusiawi sekaligus tragis. Di sinilah Pangeran Pekik, putra Pangeran Surabaya sekaligus mertua Amangkurat I, diistirahatkan bersama keluarga dan pengikutnya.

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1578 Jawa (1655 M), mereka dijatuhi hukuman mati atas perintah Amangkurat I karena dianggap bersalah. Kesunyian Banyusumurup menjadi pengingat bagi setiap pesepeda bahwa kekuasaan selalu berkelindan dengan tanggung jawab dan konsekuensi yang besar. Di sela-sela desah nafas saat menanjak, narasi tentang kesetiaan yang terkunci dalam sunyi ini memberikan kedalaman emosional pada perjalanan.

Teknologi Metalurgi dan Kesehatan Bumi

Namun, Mataram bukan hanya soal takhta dan pusara. Di rute selanjutnya, peserta diajak melihat "Teknologi" dalam wujud yang paling autentik. Di tangan para pengrajin keris di Imogiri, kita menyaksikan teknologi metalurgi yang mengubah sebongkah logam menjadi simbol harga diri dan jati diri bangsa. Setiap tempaan palu adalah bukti kecerdasan leluhur dalam mengolah unsur bumi.

Tak jauh dari sana, aroma rempah mulai menyeruak. Inilah pusat produsen Wedang Uwuh, sebuah "teknologi kesehatan" tradisional. Ramuan yang terdiri dari dedaunan dan rempah ini diformulasikan untuk memulihkan raga. Di sini, peserta belajar bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis modern, melainkan harmoni antara manusia dengan alam yang telah dipraktikkan selama berabad-abad di tanah Imogiri.

Estetika dan Perayaan Rasa di nDalem Ambatik

Memasuki wilayah Desa Girirejo, peserta disambut oleh nDalem Ambatik, sebuah bangunan cagar budaya berusia lebih dari seratus tahun. Di sinilah "Cinta" mewujud dalam tiap titik malam di atas kain mori. Sebagai pusat pelestarian dan edukasi batik, nDalem Ambatik menawarkan perayaan estetika yang menenangkan jiwa setelah perjalanan fisik yang cukup menantang.

Perjalanan kemudian mencapai puncaknya pada perayaan rasa. Bubur Krecek Bumi Arum menjadi destinasi kuliner wajib yang menyuguhkan kehangatan. Tekstur bubur yang lembut berpadu dengan gurih-pedas krecek memberikan suntikan energi tradisional bagi para peserta. Ini adalah penutup yang manis atau lebih tepatnya gurih yang melambangkan keramahtamahan warga Imogiri dalam menjaga warisan rasa.

Melingkar Menuju Harmoni

Dengan total jarak tempuh sekitar 5,5 kilometer rute bersepeda dan 225 meter rute jalan kaki, perjalanan ini akhirnya kembali ke titik awal di Bale Nolowangsa. Kepala Dinas Kebudayaan DIY berharap bahwa kegiatan yang gratis dan inklusif ini dapat memperkuat jati diri generasi muda. "Sinergi dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan dalam upaya pelestarian budaya ini," pungkasnya.

Jogja Heritage Cycling 2026 bukan sekadar program wisata. Ia adalah sebuah undangan untuk pulang ke rumah sejarah, memahami bahwa warisan Mataram adalah harmoni sempurna antara akal yang mencipta (Teknologi), hati yang memuja (Cinta), dan kedaulatan yang menjaga (Kuasa). Di atas dua roda, kita belajar bahwa untuk melangkah maju, terkadang kita perlu mengayuh kembali ke masa lalu.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta