by ifid|| 17 April 2026 || 46 kali
Di tengah gempuran arus modernisasi yang kian kencang, sebuah perhelatan budaya hadir bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk mengamankan masa depan. Pameran Keris "Merintis Pewaris" yang digelar pada 17-20 April 2026 di Grha Keris-Banyusumurup menjadi tonggak penting dalam pelestarian warisan dunia.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa tema "Merintis Pewaris" dipilih karena adanya tantangan nyata dari perkembangan teknologi yang seringkali mengaburkan nilai tradisi. "Karya budaya keris seringkali masih ada pada lingkaran minat khusus dan belum 'dekat' secara sosial dan emosional pada anak-anak serta remaja," ungkapnya.
Beliau berharap pameran ini menjadi wadah lahirnya pewaris baru yang memahami keris bukan sekadar senjata, melainkan sebagai warisan budaya yang sarat nilai filosofi dan sejarah bangsa. Melalui transformasi keilmuan ini, generasi muda diajak mempelajari sikap hidup, etika, dan tata penghormatan terhadap tradisi.
Menafsir Filosofi dalam Setiap Luk dan Pamor
Merintis seorang pewaris berarti menanamkan pemahaman bahwa keris adalah sebuah mahakarya intelektual. Pameran ini berusaha membingkai persepsi baru tentang pentingnya "merintis pewaris" di era sekarang. Pola-pola pewarisan inovatif harus ditemukan agar tradisi tetap berjalan beriringan dengan kemajuan zaman tanpa mengurangi esensi ilmu yang diwariskan.
Dalam pameran ini, pengunjung diajak menyelami keragaman dhapur dan pamor yang mencerminkan doa serta harapan sang empu. Beberapa koleksi istimewa yang dipamerkan antara lain:
Setiap bilah bercerita tentang identitas pemiliknya dan keagungan masa lalu yang harus tetap relevan bagi pemuda-pemudi Yogyakarta hari ini.
Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 17 April 2026, dengan prosesi potong tumpeng yang melambangkan rasa syukur dan awal yang berkah. Namun, yang membuat pembukaan ini berbeda adalah keterlibatan langsung dunia pendidikan. Pameran ini langsung diserbu oleh semangat muda dari para siswa-siswi sekolah dasar.
Siswa dari berbagai sekolah seperti SD Pangudi Luhur, SDN Kraton, SDN Keputran A, hingga SDN Tanjungtirto Berbah mengikuti kelas kuratorial. Mereka tidak hanya melihat pajangan di dalam lemari kaca, tetapi mendapatkan penjelasan mendalam mengenai praktik dan teori perkerisan. Inilah bentuk nyata dari "Merintis Pewaris" membawa anak-anak masuk ke dalam ruang budaya agar mereka merasa memiliki warisan tersebut sejak dini. Pendidikan karakter berbasis tradisi ini diharapkan mampu membentuk etika dan sikap hidup yang luhur bagi siswa-siswi tersebut.
Pada hari kedua, Sabtu, 18 April 2026, pameran meluas ke luar ruangan melalui agenda "Trip WBTBI: Melancong ke Kampung Keris Banyusumurup" di Imogiri, Bantul. Sebanyak 15 peserta umum berkesempatan melihat langsung denyut nadi pembuatan keris di pusatnya, merasakan panasnya perapian dan dentuman palu yang menempa besi menjadi karya seni.
Keesokan harinya, Minggu, 19 April 2026, suasana Grha Keris berubah menjadi penuh warna. Ratusan anak PAUD dan TK se-DIY berkompetisi dalam Lomba Mewarnai. Melalui goresan krayon, mereka mulai mengenal bentuk-bentuk visual keris. Langkah ini adalah strategi komunikasi visual untuk mendekatkan keris secara emosional kepada generasi yang paling belia. Menanamkan citra keris sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan adalah kunci agar mereka tidak merasa asing dengan budayanya sendiri di masa depan.
Senin, 20 April 2026, menjadi puncak dari dialektika intelektual dalam pameran ini melalui Workshop Keris bertema “Bahasa Ibu sebagai Media Pewarisan Keris kepada Anak”. Workshop ini menyasar audiens strategis, termasuk Mahasiswa Sejarah dari Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kehadiran komunitas seperti Komunitas Sekar Jagad dan Komunitas Perempuan Berkebaya Yogyakarta menambah dimensi diskusi. Materi workshop menekankan bahwa bahasa ibu (Jawa) memiliki kedalaman rasa yang mampu mentransfer nilai-nilai etika dan filosofi keris dengan lebih efektif kepada anak-anak. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pengusung jiwa dari tradisi itu sendiri. Dengan menggunakan narasi yang dekat dengan keseharian, keris tidak lagi dipandang sebagai benda mistis yang menakutkan, melainkan sebagai identitas bangsa yang membanggakan.
Rangkaian kegiatan "Merintis Pewaris" hanyalah sebuah awal dari perjalanan yang lebih besar. Kegiatan ini merupakan aksi tindak lanjut pasca penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO, di mana keris, wayang, batik, jamu, silat, dan gamelan telah diakui sebagai warisan dunia.
Pameran ini menjadi pemanasan menuju gelar acara bersama bertajuk Jogja International Heritage Festival yang direncanakan akan digelar pada Agustus 2026. Melalui pembinaan, fasilitasi, dan pendampingan seperti workshop ini, pemerintah DIY berkomitmen untuk memastikan status WBTb tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebagaimana harapan Dian Lakshmi P, pameran ini ditutup dengan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat. Warisan ini tidak akan pernah padam selama kita terus merintis jalan bagi para pewarisnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan menjaga api tradisi tetap menyala di hati generasi masa depan
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...