Gianing Roso: Mantra Budaya dari Jantung Mataram

by ifid|| 22 April 2026 || 58 kali

...

Yogyakarta tidak pernah sekadar nama sebuah kota di peta. Ia adalah sebuah entitas yang bernapas melalui seni, sejarah, dan ingatan. Malam itu, Kamis, 23 April 2026, di bawah temaram cahaya nan elegan di ballroom Fortuna Suites Malioboro, kota ini kembali membuktikan pesonanya sebagai rahim bagi kebudayaan Nusantara. Rapat Koordinasi Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia ke-25 resmi dimulai, bukan dengan keriuhan pidato politik, melainkan dengan denting syahdu dawai keroncong.

Alunan nada dari Simfoni Keroncong Muda (SKM) komunitas musisi muda Yogyakarta yang berdiri sejak 2009 menyambut para delegasi yang hadir dari ujung barat Aceh hingga pesisir timur Nusantara. Lagu-lagu bernuansa nostalgia seperti "Sepasang Mata Bola" hingga tembang pop yang diaransemen ulang, seolah mencairkan batas-batas geografis. Di ruangan itu, tidak ada lagi sekat antarprovinsi; yang ada hanyalah satu identitas: manusia Indonesia yang merawat akar budayanya.

Dipandu oleh duo pembawa acara kenamaan Yogyakarta, Ali Jabang Bayi dan Putri Manjo, suasana malam yang formal bertransformasi menjadi ruang keluarga yang hangat. Candaan khas Jogja, lemparan pantun yang silih berganti, serta interaksi akrab dengan para Kepala Taman Budaya yang hadir, menandaskan bahwa kebudayaan sejatinya adalah tentang kegembiraan dan kebersamaan.

Namun, puncak keanggunan malam itu tersaji saat Tari Rasmaya dipersembahkan. Tarian ini bukan sekadar koreografi raga, melainkan manifestasi dari keagungan jiwa perempuan. Berakar dari gaya tari klasik Yogyakarta, Rasmaya tampil sebagai simbol rasa syukur dan doa. Setiap gerak pelan yang mengalun harmonis menyiratkan pesan mendalam tentang "pancaran rasa dari dalam jiwa", yang seketika menghipnotis seluruh hadirin. Dari titik inilah, narasi besar tentang kebudayaan mulai dirajut melalui sambutan-sambutan penuh makna dari para pemangku kebijakan.

Menyulam Asa dari Titik Temu

Sebagai tuan rumah, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Dra. Purwiati, mengawali untaian pemikiran malam itu dengan kehangatan khas seorang ibu. Dalam laporannya, beliau tidak sekadar membacakan deretan angka dan jadwal, melainkan membagikan sebuah filosofi tentang peran Taman Budaya di era kiwari.

"Rapat koordinasi ini adalah bagian dari upaya penguatan dan konsolidasi antar-Taman Budaya di seluruh Indonesia," ujar  Purwiati dengan nada tenang namun tegas. Beliau memaparkan bahwa selama tiga hari, para delegasi tidak hanya akan merumuskan petunjuk teknis untuk puncak acara TKTB di Kabupaten Kulon Progo pada September mendatang, tetapi juga diajak menyelami Sumbu Filosofi Yogyakarta melalui City Tour menggunakan bus heritage. Ini adalah cara Jogja mengajarkan bahwa setiap jengkal tata ruangnya mengandung nilai historis tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Satu hal yang paling menyentuh dari pidato beliau adalah ketika ia menyinggung cenderamata yang diberikan kepada para tamu. Kain batik tersebut bukanlah hasil cetakan pabrik raksasa, melainkan mahakarya tangan-tangan mungil dari anak-anak bimbingan seni Art for Children Taman Budaya Yogyakarta. "Ini menjadi bagian dari pengembangan manajemen talenta dan laboratorium seni budaya," ungkapnya dengan bangga. Ketidaksempurnaan pada corak batik tersebut justru menjadi simbol kejujuran dan proses bahwa kebudayaan harus terus diwariskan dan diajarkan sejak dini.

Tahun 2026 ini, dari 26 Taman Budaya yang aktif, 15 diantaranya hadir secara fisik di Yogyakarta. Mengusung tema besar "Gianing Roso, Mantraning Nusantoro", Purwiati menegaskan bahwa Taman Budaya harus menjadi titik temu dan titik tumbuh. Tema ini adalah doa, agar dari Yogyakarta, getaran mantra budaya ini dapat menyebar ke seluruh pelosok negeri, memperkuat jalinan kebangsaan melalui seni, serta melahirkan generasi yang kreatif dan inovatif.

Suara dari Forum – Bergerak Bersama Menjaga Ekosistem

Sambutan berikutnya datang dari Ketua Forum Taman Budaya se-Indonesia, Ari Herianto, S.STP., M.M. Membuka pidatonya dengan pantun yang mengundang riuh tepuk tangan, sosok muda yang energik ini membawa realitas dan visi ke atas panggung. Ia mengingatkan bahwa keberadaan Taman Budaya di Indonesia tidaklah homogen. Dari 31 Taman Budaya yang tersebar, baru 24 yang menerima dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK), sementara sisanya masih berjuang dengan keterbatasan infrastruktur seperti belum memadainya teater terbuka.

Namun, di balik tantangan tersebut, terselip optimisme yang menggebu. Ari menyoroti dua agenda besar nasional yang akan menempatkan Yogyakarta sebagai episentrum kebudayaan tahun ini: Pameran Kain Nasional di Museum Sonobudoyo pada bulan Juni, dan puncak Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia pada bulan September.

Lebih dari sekadar perhelatan seremonial, Pak Ari menekankan mandat baru yang diemban oleh Taman Budaya melalui program DAK, yakni pelaksanaan Program Prioritas Nasional: Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. "Tugas kita bukan hanya memiliki kewajiban untuk memajukan objek kebudayaan, tetapi kita juga harus memajukan subjeknya," tegasnya.

Pernyataan ini adalah kritik sekaligus arahan strategis. Selama ini, pelestarian seringkali hanya berfokus pada artefak dan pementasan, melupakan kesejahteraan dan perkembangan sang seniman itu sendiri. Melalui forum ini, ia mengajak seluruh Kepala Taman Budaya untuk mendorong pelaku seni agar berkembang tidak hanya di tingkat lokal atau nasional, tetapi juga di rekognisi secara global. Ia pun memohon agar Kementerian Kebudayaan senantiasa mendampingi langkah mereka di daerah, mengawal mimpi menuju Indonesia Emas 2045.

Denyut Budaya yang Hidup – Harapan dari Pusat

Pandangan dari pemerintah pusat kemudian disampaikan dengan sangat elegan oleh  Ike Rofiqoh Fajri, S.H., M.Kn., selaku Kepala Subdirektorat Tata Kelola Permuseuman, yang mewakili Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan. Kehadiran beliau memberikan garis batas yang tegas namun saling melengkapi antara fungsi museum dan Taman Budaya.

"Di museum, kita akan melihat artefak peninggalan benda budaya. Tetapi untuk melihat budaya yang hidup, yang memiliki jiwa, kita harus melihatnya di Taman Budaya," urai  Ike. Di sinilah proses kreatif, ekspresi, dan apresiasi seniman serta masyarakat berlangsung dan berdenyut setiap harinya.

Ike membawa kabar baik terkait dukungan finansial negara. DAK untuk Taman Budaya terus mengalami peningkatan yang signifikan. Dari awal dialokasikan pada 2018 dengan nilai puluhan miliar untuk 20 provinsi, kini di tahun 2026, lebih dari 50 miliar rupiah telah dikucurkan untuk 29 Taman Budaya. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah komitmen negara untuk menghadirkan ruang bertumbuh bagi peradaban.

Namun, Ike memberikan catatan kritis yang menjadi renungan seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan Taman Budaya kedepan tidak boleh lagi sekadar diukur dari tingginya daya serap anggaran atau membludaknya jumlah pengunjung. "Ukuran keberhasilannya adalah menjadi ruang bertumbuh yang mensejahterakan bagi seniman maupun masyarakat di sekitarnya," ucapnya lugas.

Setengah dari program publik Taman Budaya di tahun ini pun wajib dialokasikan untuk Manajemen Talenta Nasional. Harapannya jelas: dari rahim Taman Budaya di berbagai daerah, akan lahir bibit-bibit unggul dan maestro-maestro masa depan yang kelak akan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.

Sinergi Istimewa – Merawat Akar, Menumbuhkan Cabang

Harmonisasi antara pusat dan daerah menjadi kunci utama dalam pemajuan kebudayaan. Perspektif Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang seharusnya dibacakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Laksmi Pratiwi, S.S., M.A., pada malam itu diwakilkan oleh Sekretaris Dinas, Budi Husada.

Sebelum membacakan teks pidato resmi, Budi melakukan sebuah interaksi yang sangat simbolis. Ia memperkenalkan empat salam yang selalu didengungkan di Dinas Kebudayaan DIY, dan malam itu, ia mengajak seluruh delegasi Nusantara untuk menyepakati satu salam kebersamaan. Menggema di seluruh ruangan: "Salam Budaya: Lestari Budayaku! Salam Taman Budaya: Kreatif, Inovatif!"

Dalam sambutan resminya, Dinas Kebudayaan DIY memandang Rapat Koordinasi ini sebagai ruang strategis untuk bertukar gagasan, menyamakan persepsi, dan merumuskan langkah bersama dalam menjawab tantangan pemajuan kebudayaan ke depan. Tema Gianing Roso, Mantraning Nusantoro kembali ditekankan sebagai penegasan bahwa Taman Budaya adalah penjaga keberlanjutan tradisi yang harus bersikap adaptif.

"Nilai-nilai yang terkandung dalam tema tersebut diharapkan dapat terdiseminasi secara luas ke seluruh wilayah Nusantara," tutur Budi membacakan pesan Dian. DIY, sebagai entitas keistimewaan, berkomitmen kuat mendukung upaya strategis ini. Forum ini diharapkan tidak hanya berakhir sebagai tumpukan kertas laporan, melainkan menjadi "titik temu dan titik tumbuh kebersamaan baru untuk merawat akar, membuka cabang, dan menumbuhkan kebudayaan yang berkelanjutan."

Menempa Talenta, Menjaga Peradaban

Sesi sambutan mencapai salah satu titik paling substansial ketika Direktur Bina Sumber Daya Manusia Lembaga Pranata Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, S.S., M.AP., naik ke podium. Sosok akademis yang humoris ini membuka dengan pantun dan nostalgia, menyebut Jogja sebagai kota yang terbuat dari rindu, taman budaya, dan... mantan. Tawa hadirin memecah kekakuan, namun pesan yang dibawanya sangatlah tajam dan berbobot.

Syukur mengupas tuntas filosofi dan arsitektur Manajemen Talenta Nasional (MTN). Ia mendobrak stigma lama bahwa talenta atau anak berbakat hanyalah mereka yang mendapat nilai sempurna di mata pelajaran matematika atau fisika. "Talenta seni budaya adalah anugerah yang luar biasa, yang bahkan bisa membawa rekognisi internasional," paparnya.

Beliau menjabarkan skema MTN yang harus dieksekusi oleh Taman Budaya melalui tiga pilar:

  1. Pendataan Talenta: Menggunakan Sistem Informasi Manajemen Talenta untuk memetakan potensi seniman di setiap daerah.
  2. Pembibitan Talenta: Menciptakan ekosistem pembinaan seni budaya yang berkelanjutan sejak usia dini sebagai inisiatif publik.
  3. Pengembangan Talenta: Memfasilitasi peningkatan kapasitas yang relevan dengan kondisi zaman, seperti pengiriman talenta ke ajang bergengsi Venice Biennale di Italia.

Lebih jauh, Syukur membeberkan empat langkah strategis Kementerian Kebudayaan yang menjadikan kebudayaan sebagai tulang punggung bangsa. Pertama, kebudayaan sebagai power binding (pemersatu) di tengah keberagaman suku dan agama. Kedua, kebudayaan sebagai internalisasi dalam pendidikan karakter. Ketiga, kebudayaan sebagai motor penggerak ekonomi kreatif melalui festival dan workshop. Keempat, kebudayaan sebagai pilar diplomasi bangsa di mata dunia. "Indonesia mungkin masih berjuang di bidang teknologi industri, tapi DNA sejati orang Indonesia adalah kebudayaan," tegasnya, menempatkan Taman Budaya di garis depan perjuangan bangsa.

Pesan Sakral dari Pemerintah Daerah

Menjelang akhir rangkaian protokoler,  Dian Laksmi Pratiwi akhirnya tampil ke depan untuk membacakan sambutan pembukaan resmi dari Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang berhalangan hadir karena tengah mempersiapkan layanan asrama haji.

Melalui suara Dian, pesan dari Pemerintah Daerah DIY terdengar sangat sakral dan reflektif. "Bagi Yogyakarta, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sebagai napas hidup yang terus tumbuh, bergerak, dan memberi arah bagi kehidupan masyarakatnya," ucapnya.

Kehadiran para kepala Taman Budaya dari seluruh Indonesia di tanah Mataram ini dimaknai sebagai penanda bahwa semangat merawat kebudayaan masih menyala terang. Di tengah pusaran perubahan zaman dan disrupsi teknologi, Taman Budaya tidak boleh tenggelam menjadi institusi kuno yang hanya berurusan dengan masa lalu. Ia harus menjadi benteng pelestarian sekaligus laboratorium inovasi.

"Pemajuan kebudayaan menuntut kerja yang tidak berhenti pada pelestarian semata. Kebudayaan perlu terus dihadirkan sebagai kekuatan yang mencerdaskan, merekatkan, dan menghidupkan masyarakat," lanjutnya.

Sambutan ini diakhiri dengan doa dan harapan agar forum ini dapat melahirkan jejaring kebudayaan yang kuat. Sebuah jejaring yang menjaga keberagaman sebagai kekuatan, mempertemukan perbedaan sebagai kekayaan, dan meneguhkan keyakinan bahwa kebudayaan Indonesia hanya akan mekar paripurna apabila dirawat dengan tangan-tangan yang bersatu. Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, Rapat Koordinasi TKTB ke-25 tahun 2026 pun resmi dibuka.

Gianing Roso, Mantraning Nusantoro

Puncak dari keindahan malam tersebut adalah prosesi seremoni peresmian Logo dan Tema Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25. Seluruh pejabat teras dari pusat dan daerah Purwiati, Ari Herianto, Ike Rofiqoh, Syukur Asih Suprojo, Budi Husada, dan Dian Laksmi Pratiwi berkumpul di atas panggung. Bersama hitungan mundur yang dipandu seluruh hadirin, logo megah itu akhirnya terpampang di layar.

Logo TKTB ke-25 bukan sekadar desain grafis, ia adalah manuskrip visual yang kaya akan makna. Menampilkan elemen Naga yang melambangkan keberanian, kekuatan, dan kebijaksanaan sebagai penjaga nilai budaya. Di dalamnya terpatri Sumbu Imajiner Yogyakartamgaris lurus yang membentang dari Laut Selatan, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Golong Gilik, hingga Gunung Merapi. Ia mempresentasikan keselarasan kosmologis; harmoni antara alam, manusia, dan Sang Pencipta.

Sebuah tayangan video teaser yang puitis melengkapi peresmian tersebut. Suara narator bergema memenuhi ruangan: "Yogyakarta adalah denyut budaya Nusantara. Di sini, rasa dan mantra bertemu, menyulam keberagaman menjadi harmoni... Gianing Roso, Mantraning Nusantoro. Sirunyo kulo budoyo."

Acara malam itu ditutup dengan momen hangat pengenalan para Liaison Officer (LO) bagi masing-masing delegasi daerah, memastikan bahwa pelayanan tuan rumah Jogja akan mengukir senyum di hati setiap tamu. Kemudian, seluruh kepala Taman Budaya naik ke atas panggung untuk sesi foto bersama, mengepalkan tangan, menyatukan semangat, meneriakkan kembali yel-yel kebanggaan mereka.

Tatkala Simfoni Keroncong Muda kembali mengalunkan nada, mengajak para pejabat dan seniman menari bersama di akhir acara, satu hal menjadi sangat jelas: Rapat Koordinasi di Yogyakarta ini telah berhasil melampaui sekat birokrasi administratif. Ia telah menjelma menjadi sebuah perayaan kebudayaan yang utuh. Dari jantung Mataram, roh pelestarian itu kembali ditiupkan, membawa harapan bahwa kebudayaan Indonesia tidak sekadar lestari, melainkan terus hidup, menyejahterakan, dan merajut Nusantara dalam satu keindahan abadi. (ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta