Pijar Rebon di Jantung Budaya

by admin|| 23 April 2026 || 5 kali

...

Angin malam Yogyakarta pada Rabu Wage, 22 April 2026, berhembus membawa kesegaran bagi penggemar Pentas Rebon. Di tengah denyut nadi kota yang tak pernah benar-benar tidur, sebuah perayaan seni yang magis kembali digelar. Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) yang megah dan sejuk malam itu menjadi saksi bisu dari sebuah kerinduan yang terbalaskan: Pembukaan Pentas Rebon 2026. Acara yang telah menjadi detak jantung kesenian Jawa ini kembali menyapa publik dengan wajah yang lebih segar, namun tetap berpijak teguh pada akar tradisi.

Bukan tanpa alasan jika Taman Budaya Yogyakarta memilih nama "Rebon". Secara filosofis, kata rebon yang merujuk pada udang kecil adalah simbol dari kumpulan elemen-elemen kecil yang, ketika bersatu, menghasilkan sebuah cita rasa yang luar biasa dan kekuatan kolektif yang tak tertandingi. Semangat komunal inilah yang terasa begitu kental saat kita melangkahkan kaki memasuki lobi Concert Hall. Ratusan pasang mata, dari seniman sepuh yang telah makan asam garam panggung ketoprak, hingga anak-anak muda Gen-Z dengan gaya busana padu padan etnik-modern, berbaur menjadi satu.

Sorot lampu kuning keemasan menerpa dinding-dinding TBY, memberikan kesan hangat yang merengkuh siapa saja yang hadir. Suara gamelan yang sayup-sayup terdengar dari dalam ruang pertunjukan seolah menjadi mantra pemanggil yang menghipnotis langkah kaki untuk segera memasuki arena. Di luar gedung, hiruk pikuk kota Yogyakarta perlahan memudar, tergantikan oleh atmosfer sakral nan intim dari sebuah ruang pertunjukan. Ini bukan sekadar tontonan gratis untuk mengisi waktu luang; ini adalah ziarah budaya, sebuah momen untuk kembali menemukan identitas diri di tengah gempuran arus modernisasi.

Pentas Rebon bukan sekadar program rutin bulanan; ia adalah etalase tertinggi dari dedikasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dalam merawat ekosistem seni pertunjukan. Dengan mempertahankan tiga pilar utamanya Teater, Kethoprak, dan Dagelan Pentas Rebon menawarkan spektrum emosi yang lengkap. Mulai dari perenungan mendalam, ketegangan drama sejarah, hingga tawa lepas yang menjadi katarsis dari kepenatan hidup sehari-hari. Malam ini, ekspektasi publik membumbung tinggi, menantikan kejutan apa yang akan disajikan oleh para seniman-seniman terbaik tanah Mataram.

Gegap gempita pembukaan ini juga disiarkan secara langsung melalui saluran YouTube Taman Budaya Yogyakarta, membuka sekat-sekat geografis dan memungkinkan para diaspora Jawa serta pecinta seni di seluruh penjuru dunia untuk turut merasakan euforianya. Kolom komentar di layar virtual bergerak cepat, dipenuhi oleh sapaan rindu dan doa-doa baik dari mereka yang fisiknya tak bisa hadir di Concert Hall. Konektivitas digital ini membuktikan bahwa seni tradisi tidak pernah anti terhadap kemajuan teknologi; sebaliknya, ia merangkulnya untuk memperluas daya jangkauannya.

Harmoni Temu Karya Taman Budaya

Ada yang istimewa dari gelaran Pentas Rebon edisi April 2026 ini. Malam itu, deretan kursi VIP di barisan terdepan tidak hanya diisi oleh para pejabat lokal, melainkan juga dipenuhi oleh wajah-wajah tokoh kebudayaan dari berbagai penjuru Nusantara. Rupanya, pembukaan Pentas Rebon kali ini bertepatan dengan momentum besar "Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia". Kehadiran para Kepala Taman Budaya dari Aceh hingga Papua memberikan suntikan energi yang luar biasa bagi para penampil.

Kehadiran para pemangku kebijakan budaya tingkat nasional ini mengubah suasana pementasan dari sekadar perayaan lokal menjadi sebuah manifestasi diplomasi budaya. Taman Budaya Yogyakarta, malam itu, bertindak bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan (melting pot) kebudayaan nusantara.

Dalam penyampaian laporan kegiatannya yang bernas, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menegaskan esensi dari perhelatan ini. Ia memaparkan bahwa Pentas Rebon bukan sekadar tontonan rutin untuk mengisi kalender acara, melainkan sebuah ruang pembinaan berkelanjutan dan laboratorium kreatif bagi para seniman lintas disiplin di DIY. Kehadiran delegasi Temu Karya Taman Budaya, menurut Purwiati, menjadi katalisator yang mempertemukan berbagai gagasan seni pertunjukan dalam satu wadah interaksi yang sangat produktif dan inspiratif.

Gema optimisme tersebut berpadu selaras dengan sambutan hangat yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Dengan tutur kata yang lugas nan anggun, beliau menggarisbawahi peran krusial institusi kebudayaan sebagai benteng pertahanan nilai-nilai Keistimewaan Yogyakarta. Dian menyoroti bagaimana seni tradisi seperti teater, kethoprak, dan dagelan yang disajikan pada malam Rebon harus terus direvitalisasi dan diberikan panggung yang layak agar tak berjarak dengan kehidupan generasi muda.

"Kehadiran delegasi dari seluruh penjuru negeri malam ini adalah bukti bahwa denyut nadi kebudayaan kita masih berdetak kuat. Pentas Rebon adalah persembahan dari Yogyakarta, untuk Indonesia. Mari kita jadikan panggung ini sebagai rahim lahirnya karya-karya adiluhung yang menjawab tantangan zaman," tutur Dian Lakshmi Pratiwi seraya membuka acara secara resmi.

Gong pun ditabuh, suaranya yang berat dan berwibawa menggema ke seluruh penjuru Concert Hall. Tabuhan gong itu bukan sekadar penanda dimulainya acara, melainkan sebuah proklamasi bahwa panggung kini sepenuhnya milik para seniman, dan penonton bersiap untuk dibawa mengarungi samudra emosi melalui tiga babak pertunjukan.

Para delegasi dari luar daerah tampak terkesima dengan kualitas tata panggung (scenography) dan tata cahaya (lighting) yang disajikan. Inilah kekuatan Yogyakarta; kemampuannya mengawinkan nilai adiluhung masa silam dengan kecanggihan teknologi panggung masa kini. Ketika tirai besar perlahan tersibak ke atas, menampakkan set panggung babak pertama, keheningan magis menyergap seluruh ruangan. Nafas tertahan, menanti keajaiban.

Menyelami Kedalaman Batin "Dandang Gula di Hutan Tambakbaya"

Panggung dibuka dengan sajian pertama dari Teater Rebon. Naskah yang diangkat malam itu berjudul "Dandang Gula di Hutan Tambakbaya". Pemilihan lakon ini sangat berani sekaligus puitis. Dandang Gula, salah satu metrum tembang macapat yang melambangkan kemanisan hidup, kebahagiaan, dan cita-cita, dibenturkan dengan latar "Hutan Tambakbaya", sebuah metafora untuk tempat yang penuh marabahaya, ujian, dan rintangan yang tak terduga.

Sinopsis Singkat: Kisah ini menceritakan tentang perjalanan sekelompok manusia yang terasing secara sosial, mencari ruang hidup baru di tengah Hutan Tambakbaya yang konon angker dan tak tertaklukkan. Di tengah kesulitan, mereka mencoba mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan merajut kembali harapan (Dandang Gula) yang sempat terkoyak oleh kerasnya realitas dunia luar.

Penataan cahaya (lighting) panggung patut mendapat pujian tersendiri. Lampu berwarna biru kelam dan hijau lumut mendominasi visual, menciptakan siluet pepohonan raksasa yang tampak seolah hidup dan mengawasi setiap gerak-gerik aktor di bawahnya. Asap buatan (fog) yang tipis merayap di lantai panggung, menambah kesan mistis Hutan Tambakbaya. Di tengah atmosfer surealis itu, para aktor bergerak dengan koreografi teaterikal yang ritmis, mengekspresikan ketakutan, keputusasaan, namun juga determinasi yang kuat.

Dialog-dialog yang dilontarkan terasa tajam, menyayat, dan penuh muatan filosofis. Naskah ini dengan cerdas menyinggung problematika ekologi dan keterasingan manusia modern. Hutan Tambakbaya bukan lagi sekadar hutan fisik, melainkan rimba beton perkotaan yang seringkali memangsa mereka yang lemah dan tak berdaya. Tokoh utamanya, seorang tetua yang bijak, terus melantunkan tembang Dandang Gula dengan suara yang parau namun menggetarkan sukma. Tembang itu menjadi benang merah yang mengikat kewarasan para tokoh lainnya di tengah situasi yang karut-marut.

Puncak emosional terjadi pada adegan klimaks ketika para tokoh harus memilih antara menyerah pada buasnya "hutan" atau mengorbankan ego masing-masing demi bertahan hidup bersama. Permainan emosi yang disajikan para aktor Teater Rebon malam itu sangat prima. Tidak ada akting yang berlebihan (overacting), semuanya pas takarannya. Mereka berhasil mentransformasikan panggung yang sunyi menjadi sebuah ruang renungan yang membentur kesadaran terdalam penonton. Saat lampu perlahan padam (fade out) di akhir pementasan, tepuk tangan riuh tak terbendung pecah, memberikan apresiasi tertinggi untuk sebuah karya teater yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga memanusiakan manusia.

Ketegangan Epik dalam Kethoprak Rebon "Kalinyamat Gugat"

Setelah jeda sejenak, suasana panggung dirombak total. Mistisitas hutan berganti dengan kemegahan pendopo keraton keraton Jawa masa lampau. Babak kedua menjadi milik Kethoprak Rebon, yang malam itu mempersembahkan lakon sejarah nan epik bertajuk "Kalinyamat Gugat". Kethoprak, sebagai salah satu identitas terkuat kesenian Jawa, kembali membuktikan tajinya sebagai medium penceritaan sejarah (historical storytelling) yang tak lekang oleh waktu.

Lakon "Kalinyamat Gugat" mengangkat kisah heroik nan tragis dari Ratu Kalinyamat, sosok perempuan penguasa Jepara yang terkenal karena kegigihan dan ketegasannya. Sejarah mencatat bagaimana Ratu Kalinyamat melakukan tapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) di Gunung Danaraja sebagai bentuk protes dan tuntutan keadilan atas pembunuhan suaminya, Sultan Hadiri, oleh Arya Penangsang. Sebuah narasi feminisme nusantara yang jauh mendahului zamannya, kini dihidupkan kembali dengan balutan estetika kethoprak yang memesona.

Iringan gamelan kethoprak menghentak dinamis, membimbing alur emosi penonton dari satu adegan ke adegan lain. Kemunculan tokoh Ratu Kalinyamat di atas panggung disambut dengan hening. Sang aktris, dengan kostum kebesaran yang elegan namun memancarkan aura kedukaan yang mendalam, membawakan perannya dengan intensitas tinggi. Vokal (cengkok) yang ia gunakan saat mengucapkan dialog-dialog berisi gugatan dan sumpah serapah merindingkan bulu roma. Kata-katanya bukan sekadar ratapan seorang janda, melainkan auman seorang pemimpin yang teritorinya diusik dan kehormatannya diinjak-injak.

Adegan peperangan dan intrik politik di lingkungan kerajaan digarap dengan koreografi pertarungan (pencak silat) yang tertata apik, namun tetap mempertahankan gaya klasik kethoprak. Tokoh Arya Penangsang yang digambarkan beringas, berwatak keras, dan ambisius menjadi antagonis yang sempurna, memancing gemas para penonton. Namun, sang sutradara kethoprak cukup cerdas untuk tidak menjadikan karakter ini hitam-putih semata; ada kerumitan motif politik perebutan tahta Demak yang diselipkan dalam narasinya.

Pertunjukan Kethoprak Rebon malam itu menepis anggapan bahwa kethoprak adalah kesenian kuno yang membosankan. Melalui "Kalinyamat Gugat", Kethoprak Rebon menyuguhkan tontonan yang memiliki tempo cepat, dialog yang padat makna, dan visualisasi yang memanjakan mata. Nilai kesetiaan, keberanian seorang perempuan, dan pencarian akan keadilan absolut menjadi pesan moral yang dibawa pulang oleh para penonton. Sorak sorai penonton kembali bergemuruh saat kelir (layar) kethoprak ditutup, menandakan kepuasan yang paripurna dari publik.

Gelak Tawa Tanpa Tepi bersama Dagelan Rebon "Bablas"

Jika Teater Rebon menguras emosi dan Kethoprak Rebon membakar semangat kepahlawanan, maka sajian penutup malam itu bertugas untuk melemaskan urat syaraf yang tegang. Dagelan Rebon hadir dengan lakon berjudul "Bablas" (yang dalam bahasa Jawa berarti kebablasan, atau terlewat batas). Format dagelan Mataraman telah lama menjadi oase hiburan bagi masyarakat Yogyakarta. Malam itu, formula komedi cerdas yang mengkritik tanpa menyakiti kembali disajikan dengan sangat cemerlang.

Lakon "Bablas" menceritakan tentang dinamika kehidupan bertetangga di sebuah kampung perkotaan yang sedang dilanda demam 'viral'. Tokoh-tokohnya adalah potret karikatur dari masyarakat kita sehari-hari: ada pak RT yang sok sibuk tapi gaptek, pemuda pengangguran yang berobsesi menjadi influencer TikTok, hingga ibu-ibu penjual sayur yang selalu menjadi pusat gosip (lambe turah) kampung. Konflik bermula ketika sebuah kesalahpahaman kecil tentang pembagian bansos atau bantuan bergulir tak terkendali karena informasi yang "bablas" di grup WhatsApp RT.

Ledakan tawa di Concert Hall TBY adalah bukti bahwa Dagelan Mataram memiliki frekuensi yang langsung terhubung dengan alam bawah sadar penontonnya. Kelucuannya bukan berasal dari slapstick murahan, melainkan dari kedekatan realitas (relatability) yang dialami penonton setiap hari.

Para komedian Dagelan Rebon berimprovisasi dengan sangat liar namun tetap berada dalam koridor tema. Sentilan-sentilan (satire) terhadap isu-isu sosial politik masa kini, gaya hidup konsumtif, hingga perilaku elit pejabat disisipkan melalui celetukan-celetukan spontan yang langsung disambut tawa berderai dari bangku penonton, termasuk para kepala Taman Budaya se-Indonesia yang tak kuasa menahan tawa. Istilah-istilah kekinian disandingkan dengan bahasa Jawa krama inggil, menciptakan paradoks linguistik yang sangat jenaka.

Kemampuan membaca situasi (reading the room) dari para pelakon dagelan ini luar biasa. Ketika penonton mulai reda tawanya, mereka memancing dengan gestur tubuh, mimik wajah, atau gaya berjalan yang komikal. "Bablas" benar-benar menjadi pertunjukan yang kebablasan dalam mengocok perut penonton. Namun, di balik semua kelucuan itu, ada pesan subliminal yang kuat tentang bahaya hoaks, pentingnya tabayyun (kroscek informasi), dan bagaimana kerukunan warga (guyub rukun) seringkali terkoyak oleh hal-hal sepele yang dibesar-besarkan oleh media sosial.

Penempatan Dagelan Rebon sebagai sajian pamungkas adalah strategi kuratorial yang sangat brilian. Setelah dibawa mengarungi samudra emosi yang berat di dua pertunjukan sebelumnya, penonton dipulangkan dengan senyum lebar di wajah dan hati yang ringan. Malam di TBY ditutup dengan katarsis komedi yang menyegarkan dahaga jiwa.

Sinergi Keamanan dan Ekosistem Budaya yang Solid

Kesuksesan pagelaran sebesar Pentas Rebon tentu tidak hanya bergantung pada apa yang terjadi di atas panggung. Ada sebuah mesin raksasa yang bekerja dalam senyap di belakang layar, memastikan bahwa ratusan hingga ribuan penonton dapat menikmati sajian budaya dengan aman dan nyaman. Salah satu pilar penting kesuksesan malam itu adalah sinergi yang apik antara pihak penyelenggara dengan aparat kepolisian, khususnya Polsek Gondomanan.

Mengingat acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai provinsi dalam rangkaian Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia, standar keamanan tentu ditingkatkan. Namun, pendekatan pengamanan yang dilakukan oleh Polsek Gondomanan sangatlah elegan. Tidak ada kesan barikade kaku yang mengintimidasi; sebaliknya, aparat keamanan membaur secara humanis. Mereka mengatur lalu lintas di sekitar area TBY yang padat, membantu penonton menemukan arah ke Concert Hall, dan berjaga di titik-titik krusial dengan senyum ramah khas Yogyakarta.

Langkah preventif ini terbukti efektif. Hingga akhir pertunjukan pada larut malam, seluruh rangkaian acara berjalan dengan sangat lancar, kondusif, dan tanpa insiden yang berarti. Kehadiran personel kepolisian memberikan rasa aman yang memungkinkan masyarakat, termasuk keluarga yang membawa anak-anak kecil, untuk larut sepenuhnya dalam keindahan seni pertunjukan. Sinergi ini menegaskan bahwa kebudayaan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bukanlah dua entitas yang terpisah, melainkan elemen yang saling mendukung. Seni melembutkan hati, dan keamanan memastikan ruang berekspresi tetap terjaga.

Selain aspek keamanan, kita juga harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kru di balik panggung (backstage crew). Tim artistik, penata cahaya, penata suara, penata rias (make-up artist), hingga pembuat kostum (wardrobe) bekerja dengan presisi tinggi. Transisi antar pertunjukan dari Teater ke Kethoprak, dan dari Kethoprak ke Dagelan berlangsung dengan sangat mulus (seamless), tanpa jeda yang membosankan. Ini menunjukkan profesionalisme kelas wahid dari manajemen Taman Budaya Yogyakarta.

Publik pun memberikan respons yang luar biasa. Antusiasme penonton tercermin dari tidak adanya kursi kosong di Concert Hall. Bahkan, mereka yang tidak kebagian tiket rela menonton melalui layar proyektor yang disediakan di area selasar, atau menikmati siaran langsung (live streaming) via YouTube TBY. Ini adalah bukti sahih bahwa di tengah gempuran hiburan digital yang instan dan budaya pop mancanegara, masyarakat Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya masih memiliki ikatan batin yang kuat dengan seni tradisinya. Seni tradisi belum mati, ia hanya sedang menanti wadah yang tepat untuk kembali mekar, dan Pentas Rebon adalah wadah paripurna tersebut.

Menjaga Nyala Api Seni Tradisi di Era Modern

Saat lampu Concert Hall akhirnya kembali benderang secara penuh dan penonton mulai beranjak meninggalkan kursi mereka dengan wajah sumringah, ada sebuah renungan yang tersisa di benak. Pembukaan Pentas Rebon 2026 malam itu bukan sekadar perayaan euforia sesaat. Ia adalah sebuah pernyataan sikap; sebuah manifesto kebudayaan bahwa seni pertunjukan tradisional Jawa memiliki daya tahan (resiliensi) yang luar biasa untuk terus bertahan melintasi pergantian zaman.

Melalui Teater Rebon, kita diajak untuk terus berpikir kritis dan merefleksikan posisi kita di tengah semesta. Melalui Kethoprak Rebon, kita diingatkan bahwa sejarah bukanlah catatan masa lalu yang usang, melainkan cermin untuk memandu langkah kita di masa depan. Dan melalui Dagelan Rebon, kita diajarkan untuk tidak terlalu kaku menjalani hidup, bahwa menertawakan diri sendiri adalah bentuk kearifan tingkat tinggi yang membebaskan jiwa dari belenggu kesombongan.

Kolaborasi antara Taman Budaya Yogyakarta dengan seluruh elemen seniman dan masyarakat membuktikan bahwa kebudayaan tidak bisa dihidupi secara eksklusif. Kebudayaan membutuhkan panggung komunal, pendanaan yang berpihak, manajemen yang profesional, serta publik yang apresiatif. Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia yang disisipkan dalam momen pembukaan ini diharapkan mampu menularkan virus positif ini ke seluruh penjuru Nusantara. Jika Yogyakarta bisa menghidupkan ekosistem seninya dengan sebegitu megahnya melalui Pentas Rebon, maka daerah lain pun niscaya bisa melakukan hal yang sama dengan kekayaan lokal mereka masing-masing.

Seni tidak pernah usang, ia hanya berganti rupa. Selama masih ada panggung yang disiapkan, lampu yang dinyalakan, dan hati yang terbuka untuk menikmati, nyala api tradisi tidak akan pernah padam.

Akhir kata, ketika langkah kaki membawa kita menjauh dari area Taman Budaya Yogyakarta, menembus dinginnya malam kota pelajar, ada rasa syukur yang hangat di dada. Syukur karena masih ada pihak-pihak yang dengan keras kepala dalam arti yang paling positif mempertahankan panggung ini. Syukur karena anak-anak muda kita masih mau duduk diam selama berjam-jam untuk menikmati kethoprak dan dagelan, tertawa, dan merenung bersama. Pentas Rebon 2026 telah dibuka dengan sangat gemilang. Dan bagi kita semua, ini adalah janji akan malam-malam magis lainnya yang masih menanti di bulan-bulan mendatang. Sampai jumpa di Pentas Rebon selanjutnya; mari kita terus merayakan keindonesiaan melalui jalan kebudayaan. (ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta