by ifid|| 23 April 2026 || 486 kali
Di tengah deru mesin dan hiruk-pikuk modernisasi yang kian kencang menyapu sudut-sudut kota, sebuah keheningan yang sarat makna menyeruak di Pendopo Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, kamis, 23 April 2026, udara Yogyakarta seolah membawa aroma kemenyan dan bunga setaman yang tak kasat mata, namun jiwanya terasa nyata. Tradisi bukan lagi dipandang sebagai fosil masa lalu, melainkan sebagai kompas moral bagi masa depan.
Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY mengambil peran krusial dengan menyelenggarakan helatan penting: Workshop bertema "Daur Hidup Upacara Mitoni dan Brokohan". Acara ini merupakan implementasi nyata dari amanat undang-undang untuk memajukan kebudayaan melalui objek upacara adat.
Mitoni: Labuhan Doa dalam Tujuh Purnama
Rangkaian kehidupan manusia Jawa adalah sebuah siklus yang dipenuhi dengan simbol dan pitutur bisu. Salah satu titik balik yang paling sakral adalah saat seorang ibu mengandung buah hati pertamanya. Ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, dilaksanakanlah upacara Mitoni, atau yang sering juga disebut Tingkeban.
Faizal Noor Singgih, Ketua DPP PPY DIY, menjelaskan dalam testimoninya bahwa upacara ini adalah bentuk selamatan yang sangat dalam maknanya.
"Upacara Mitoni atau Tingkepan ini adalah upacara selamatan ketika kehamilan selama 7 bulan. Di dalamnya banyak sekali piwulang, piweling, maupun doa teruntuk bagi ibu dan juga bayi yang dikandungnya," ungkap Faizal.
Beliau menekankan bahwa setiap detail dalam rangkaian upacara, mulai dari ubarampe hingga sesajinya, harus tersampaikan maknanya kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar esensi doa tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Brokohan: Sambutan Hangat untuk Kehidupan Baru
Jika Mitoni adalah doa panjang dalam penantian, maka Brokohan adalah sorak-sorai syukur dalam kehadiran. Nama "Brokohan" diambil dari kata barokah (berkah), sebuah wujud rasa syukur atas karunia kehidupan.
Salah satu tradisi paling esensial dalam Brokohan adalah perlakuan terhadap ari-ari atau plasenta. Masyarakat Jawa sangat menghormati ari-ari sebagai "saudara tua" (kakang kawah adi ari-ari). Suwarna Dwijonagoro, seorang praktisi kebudayaan, menyebutkan bahwa simulasi upacara ini merupakan ekspresi kebudayaan yang sangat bagus. Langkah ini sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan yang dicanangkan pemerintah daerah.
Menanamkan Cinta Budaya pada Generasi Muda
Tantangan terbesar pelestarian budaya adalah keterlibatan generasi penerus. Hj. Dwi Irit Tyas, Ketua DPD HARPI Melati DIY, memberikan pesan yang sangat menyentuh mengenai pentingnya acara ini bagi kaum muda.
"Tentunya harapan kami, semoga acara hari ini bisa mempertebal cinta kita terhadap budaya kita, khususnya pada generasi muda pecinta budaya. Mari kita lestarikan budaya kita, jangan sampai terkikis oleh budaya dari luar sehingga budaya kita akan hilang," tegasnya.
Senada dengan itu, Isna Elvianti, S.H., selaku Kepala Seksi Adat dan Istiadat Dinas Kebudayaan DIY, berharap workshop ini memberikan wawasan dan edukasi nyata bagi perwakilan Kalurahan Budaya. Tujuannya jelas: agar peserta yang hadir mampu meneruskan dan melestarikan tradisi luhur Yogyakarta di lingkungan masing-masing.
Estafet Budaya yang Tak Boleh Terputus
Workshop ini menjadi alarm pengingat bahwa pelestarian adat adalah tanggung jawab kolektif. Melalui kolaborasi antara Kundha Kabudayan DIY, HARPI Melati DIY, dan PPY DIY, tradisi Mitoni dan Brokohan diposisikan bukan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai fondasi etika yang kuat.
Dengan menjaga ritus-ritus ini, masyarakat Yogyakarta tidak hanya merayakan siklus hidup fisik, tetapi juga merawat identitas spiritual. Nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur akan terus menyala, menjadi warisan adiluhung yang menerangi jalan hidup generasi-generasi mendatang di tanah Mataram. (Hasni G)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...