by admin|| 30 April 2026 || 533 kali
KASIHAN, BANTUL – Di bawah naungan atap Pendapa Widiwidana, SMKN 1 Kasihan, suasana malam pada 29 April 2026 itu terasa magis. Udara Bantul yang biasanya tenang bergetar hebat oleh dentuman kendang dan gemerincing saron. Ratusan pasang mata tertuju pada satu titik: sebuah panggung yang menjadi saksi bisu kembalinya perayaan kolektif para seniman tari dalam tajuk "Jogja Joged #6: Memupuk Budaya Generasi".
Ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Ini adalah sebuah pernyataan sikap. Sebuah gerakan yang lahir dari rahim kegelisahan pandemi enam tahun silam, kini telah menjelma menjadi "Lebarannya" para penari di Yogyakarta.
Acara dibuka dengan megah melalui tarian ikonik Jogja Gumregah. Karya kolaborasi lima koreografer ini bukan hanya menyajikan estetika gerak, melainkan simbol persatuan yang nyata. Penari perwakilan dari empat kabupaten dan satu kota di DIY melebur menjadi satu, membawa pesan keragaman dan kearifan lokal yang diramu dalam koreografi kelompok yang dinamis.
Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, menyampaikan analogi mendalam mengenai peristiwa ini. Baginya, Jogja Joged telah mencapai derajat spiritualitas tertentu bagi masyarakat seni. "Jogja Joged ini adalah Lebaran-nya para seniman tari di Yogyakarta. Seluruh seniman dari berbagai penjuru berkumpul, mengapresiasi, dan melakukan pergelaran dari pagi hingga malam hari," ungkapnya dengan nada bangga.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Dr. Budi Husada, yang membacakan sambutan Kepala Dinas, menegaskan bahwa gerakan ini membuktikan denyut kebudayaan di Yogyakarta tidak pernah berhenti, bahkan dalam keterbatasan sekalipun. "Jogja Joged lahir dari kegelisahan, tumbuh dari solidaritas, dan berkembang melalui kebersamaan," tegasnya.
Satu hal yang paling unik dan menjadi nyawa dari Jogja Joged adalah tradisi Nyeket atau urunan sukarela. Sejak awal kemunculannya, para seniman tari di Jogja memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya pada sponsor besar. Mereka urunan mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000 sebagai simbol nyaket atau mempererat kebersamaan.
"Ini adalah bukti bahwa pelestarian budaya lahir dari ketulusan dan rasa memiliki," tambah Budi Husada. Semangat gotong royong ini menjadi pondasi kuat bagi keberlanjutan acara yang kini sudah memasuki tahun keenam dan telah berkeliling ke seluruh wilayah DIY, mulai dari Dalem Kaneman hingga ke Museum Gunung Merapi.
Uni Yutta, narasumber kawakan dunia seni, turut memberikan testimoni tentang keistimewaan ini. Baginya, konsistensi hingga tahun keenam adalah bukti bahwa seniman Yogyakarta tidak berpikir untuk kepentingan pribadi. "Semuanya mereka lakukan untuk masa depan seni tari di Yogyakarta agar terus tumbuh, berkembang, dan mendunia," tuturnya.
Sepanjang malam, penonton disuguhi spektrum tari yang luas. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menampilkan Pandawa Purdhaha, sebuah cuplikan kisah dari Serat Wirata Parwa tentang penyamaran Pandawa di hutan. Gerakan yang gagah dan iringan musik live gamelan membawa penonton kembali ke masa keemasan tradisi klasik.
Tak kalah memukau, Pura Pakualaman menyajikan Bedaya Renyep, tarian dari masa Sri Paduka Paku Alam VIII yang merepresentasikan ajaran Asta Brata—delapan sifat kepemimpinan. Keberlanjutan budaya juga terlihat dari partisipasi institusi pendidikan seperti SMKI Yogyakarta dengan Beksan Menak, hingga kreasi inovatif mahasiswa ISI Yogyakarta bertajuk Rimba Terakhir: Jeritan Alam yang menyuarakan kerusakan hutan melalui gerak teatrikal emosional.
Di sela pertunjukan, sebuah diskusi (talkshow) penting yang dipandu oleh Dr. Randa Daruni digelar. Para tokoh kunci seperti Bambang Paningron, Prof. Dr. RM. Pramutomo, M.Hum., dan KPH Indra Kusuma berdebat hangat mengenai arah masa depan gerakan ini.
Bambang Paningron menegaskan bahwa Jogja Joged harus menjadi ruang kreatif, bukan sekadar ruang selebrasi. "Harapannya, masyarakat seni tari memiliki kesempatan untuk memproduksi sesuatu yang baru, sehingga acara ini menjadi laboratorium eksperimentasi tari," jelasnya.
Gagasan ini diperkuat oleh Prof. Pramutomo yang menyoroti pentingnya otonomi budaya. Ia mengingatkan bahwa peringatan Hari Tari Sedunia setiap 29 April adalah produk global. "Kita perlu peta jalan (roadmap) yang jelas agar Jogja Joged menjadi gerakan kebudayaan yang punya karakter sendiri. Waktu enam tahun adalah durasi yang cukup untuk membangun sebuah lintasan (trajectory) masa depan," tegasnya.
Bagi para penggerak Jogja Joged, tari kini telah bertransformasi melampaui seni pertunjukan visual. Uni Yutta menambahkan dimensi filosofis yang menyentuh: "Tari sekarang tidak hanya untuk performing arts saja, tapi tari untuk kemanusiaan, kesejahteraan, dan perdamaian."
Prinsip inilah yang membuat Jogja Joged tetap relevan. Di saat dunia terkotak-kotak, panggung di SMKN 1 Kasihan membuktikan bahwa gerak tubuh yang selaras dengan nurani mampu menyatukan perbedaan.
Malam semakin larut, namun energi justru memuncak saat penampilan Sangito Projo dari AKN Seni Budaya membakar semangat penonton melalui elemen tari kerakyatan seperti Badui dan Jathilan. Acara ditutup dengan sesi Solah Bawa sebuah sesi jamming tari bebas yang diikuti para penari ikonik, disambung dengan kesenian Srandul khas Kota Gede yang telah direvitalisasi. Di bawah lampu pendapa, semua orang menari tanpa sekat.
Jogja Joged #6 telah usai, namun pesannya tetap bergema kuat. Sebagaimana pesan penutup dari Dian Lakshmi Pratiwi: "Kita tunggu karya-karya baru melalui Jogja Joged tahun depan. Salam Budaya, Lestari Budayaku!"
Yogyakarta telah kembali menyapa dunia. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan gemulai tangan dan hentakan kaki yang penuh martabat. Selama solidaritas dan semangat nyeket masih ada, denyut nadi budaya di tanah istimewa ini tidak akan pernah berhenti berdetak. (Supono)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...