Jalma Kang Utama: Menanam Akar, Menumbuhkan Karakter di Bumi Mataram

by ifid|| 06 Mei 2026 || 562 kali

...

YOGYAKARTA – Di bawah naungan langit Yogyakarta yang teduh, sebuah komitmen besar untuk masa depan generasi muda kembali digaungkan. Senin (04/05/2026), SMA Negeri 6 Yogyakarta tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para pemangku kepentingan pendidikan, namun menjadi saksi sejarah lahirnya sebuah gerakan kebudayaan: Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Langkah ini bukan sekadar urusan administratif kurikulum. Ini adalah strategi besar untuk mencetak Jalma Kang Utama manusia unggul yang matang secara batiniah dan luhur dalam perilaku. Di tengah deru teknologi yang kian cepat, Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir dengan pesan mendalam: kepintaran akademik tanpa fondasi batin yang kuat hanya akan melahirkan manusia yang kehilangan arah.

Melampaui Angka dan Gelar

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini adalah membentuk manusia yang utuh. "Pendidikan tidak boleh dipahami hanya sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan," tegas beliau.

Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana menjadi ruh dari PKJ. Falsafah ini menuntun setiap insan untuk menjaga harmoni antara sesama manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Dari sinilah diharapkan lahir generasi yang memiliki jiwa Satriya: Sawiji (totalitas), Greget (semangat), Sengguh (percaya diri), dan Ora Mingkuh (tanggung jawab).

Suara dari Akar Budaya

Gerakan ini disambut hangat oleh para penggerak budaya di Yogyakarta. Kehadiran seni tradisi dalam peluncuran PKJ bukan sekadar seremoni, melainkan simbolisasi dari nilai estetika dan etika yang ingin ditanamkan.

Ali Nur Setyo Nugroho, Ketua Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, mengungkapkan rasa syukurnya:

"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Dinas Kebudayaan DIY yang telah memfasilitasi acara Launching Pendidikan Khas Kejogjaan... Dalam kesempatan kali ini, kami menampilkan Tari Golek Ayun-Ayun dan juga Karawitan yang mengiringi gending-gending pakurmatan. Sekali lagi terima kasih Kundha Kabudayan DIY."

Bagi para seniman, PKJ adalah pengakuan bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang harus masuk ke ruang-ruang kelas.

Bukan Sekadar Slogan, Tapi Gerakan Nyata

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., memberikan penekanan penting bahwa peluncuran ini adalah awal dari kerja panjang untuk menghidupkan nilai di kehidupan sehari-hari.

"Selamat untuk launching Pendidikan Khas Kejogjaan. Semoga ini tidak hanya menjadi bagian dari slogan semata, tetapi mampu menjiwai, mampu dibumikan, dan mampu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk anak-anak sekolah mulai dari usia PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi."

Harapan ini sejalan dengan laporan Plt. Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi. Ia menyebut bahwa indeks karakter peserta didik di DIY menunjukkan tren positif dengan skor 4,1 dari skala 5. Angka ini merupakan buah dari proses panjang sejak 2019, yang melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, hingga organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung

Keberhasilan PKJ tidak diletakkan di pundak guru semata. Sri Sultan menekankan pentingnya sinergi ekosistem antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Beliau menyebutnya sebagai kolaborasi antara Kraton, Kampus, dan Kampung.

PKJ juga didukung penuh oleh Dana Keistimewaan (Danais) untuk memastikan keberlanjutannya. Nilai-nilai luhur dari Karaton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman dipadukan dengan metode pendidikan modern untuk memastikan siswa tidak hanya cerdas di otak, tetapi juga karyenak tyasing sasama mampu menghadirkan ketenteraman bagi sesama.

Penutup: Ngèlmu Iku Kalakoné Kanthi Laku

Sebagai penutup pesannya, Sri Sultan mengingatkan bahwa "Ngèlmu iku kalakoné kanthi laku" ilmu sejati hanya akan bermakna jika diwujudkan dalam tindakan nyata.

Melalui PKJ, Yogyakarta sedang membangun benteng karakter. Saat dunia semakin terkoneksi secara digital, anak-anak Jogja diajarkan untuk tidak lupa pada tanah tempat mereka berpijak. Mereka dididik untuk menjadi manusia modern yang berwawasan global, namun tetap menyandang kehormatan sebagai Jalma Kang Utama.

Gerakan telah dimulai. Dari wacana menuju pembudayaan, Yogyakarta kembali membuktikan diri bahwa ia bukan sekadar Kota Pelajar, melainkan rahim bagi lahirnya generasi yang beradab dan bermartabat.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta