by ifid|| 07 Mei 2026 || 530 kali
YOGYAKARTA – 7 Mei 2026, Di sebuah sudut kota yang kental dengan aroma gudeg dan gemerincing becak, sebuah revolusi sunyi sedang berlangsung. Bukan melalui senjata, melainkan melalui sorot lampu proyektor dan deretan skrip yang disusun dengan hati. Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai Kota Budaya, kini kian mengukuhkan posisinya sebagai episentrum sinema kreatif Indonesia melalui program unggulan Jogja Film Pitch and Fund.
Sejak tahun 2014, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY telah menjadi "penjaga nyala api" bagi para sineas muda. Melalui pendanaan yang bersumber dari Dana Keistimewaan, program ini bukan sekadar kompetisi proposal, melainkan ruang inkubasi di mana ide lokal dipoles menjadi karya yang mampu bersaing di panggung internasional.
Keberhasilan program ini bukan isapan jempol belaka. Salah satu "alumni" yang paling fenomenal adalah Agung Ravacana dengan film pendeknya, Tilik. Karakter "Bu Tejo" yang viral menjadi bukti sahih bahwa cerita yang berpijak pada keseharian masyarakat Jogja memiliki daya pikat universal.
Intan, salah satu peserta Jogja Film Pitch and Fund, memberikan testimoni yang menyentuh mengenai dampak nyata program ini bagi ekosistem lokal:
"Pendanaan ini menurut saya sangat-sangat bermanfaat dan sangat penting sekali, khususnya untuk perfilman Yogyakarta sendiri. Karena ya sejak tahun 2014 saya mengenal pendanaan ini, nampak ada sangat banyak sekali orang-orang yang berhasil terfasilitasi untuk menggunakan platform ini sebagai batu loncatan mereka menuju ke jenjang yang lebih besar lagi, ya mungkin bisa dibilang industri. Seperti contohnya ada Mas Tata, ada Mas Agung Ravacana dengan filmnya Tilik..."
Pernyataan Intan menggarisbawahi bahwa program ini adalah jembatan yang menghubungkan idealisme idealis komunitas film dengan realitas industri perfilman yang lebih luas.
Tahun ini, dinamika di ruang pitching terasa berbeda. Meskipun antusiasme tetap tinggi, tantangan yang dihadapi para sineas semakin besar seiring dengan standar kualitas yang terus meningkat. Dari puluhan proposal yang masuk, tahun ini menjadi salah satu tahun dengan seleksi paling ketat dalam sejarah program.
Senoaji Julius, Kurator Jogja Film Pitch and Fund, memaparkan kondisi kompetisi tahun ini dengan nada yang reflektif:
"Tahun ini sebenarnya agak-agak menyedihkan, karena apa? Karena film terpilih nantinya hanya dua. Karena hanya dua, kompetisinya sangat ketat sehingga proposal tahun ini adalah proposal yang kami terima yang paling sedikit sepanjang 12 tahun pitching ini, hanya 20 proposal. Dan nanti yang dipilih hanya dua film..."
Meski jumlah film yang didanai tahun ini terbatas, Senoaji menekankan bahwa hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan semangat para filmmaker Yogyakarta. Kualitas tetap menjadi panglima. Semangat untuk terus memproduksi karya terbaik dari Jogja tetap membara demi mewarnai wajah perfilman Indonesia dan dunia.
Dina Herdina Suharto, yang juga bertindak sebagai Kurator, menyampaikan rasa syukurnya atas keberlanjutan program ini. Baginya, melihat geliat anak muda Jogja yang beradu gagasan adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
"Saya sangat senang dilibatkan lagi dalam kegiatan ini dan saya berharap kegiatan ini dapat terus menumbuhkan semangat dan partisipasi teman-teman muda untuk memproduksi film-film yang berkualitas di Jogja ini. Saya sangat berharap program Pitch and Fund dapat kembali besar seperti tahun-tahun sebelumnya... harapannya tidak mengendorkan semangat teman-teman untuk berkompetisi dan dapat dihasilkan film-film yang berkualitas."
Harapan senada juga disampaikan oleh Intan. Baginya, keberlanjutan (sustainability) adalah kunci agar ekosistem ini tidak layu.
"Harapannya memang semoga pendanaannya bisa sustain, tetap ada, terus ada, dan mungkin bisa lebih luas lagi, mungkin jumlahnya nggak cuma dua aja seperti tahun ini. Ya, bermanfaat lagi lah buat perfilman Yogyakarta."
Wajah Budaya di Balik Lensa
Bagi Dinas Kebudayaan DIY, film bukan sekadar komoditas ekonomi kreatif. Film adalah manifestasi dari ekspresi budaya. Ia adalah "wajah" Yogyakarta yang menyapa penonton di festival-festival film mancanegara, membawa pesan tentang keramahan, kritik sosial, hingga nilai-nilai tradisi yang tetap relevan di era modern.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan para kreator, Yogyakarta membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk melahirkan karya besar. Dua film terbaik yang terpilih tahun ini kini memikul harapan besar untuk menjadi estafet berikutnya dari kejayaan sinema Jogja.
Dari Jogja, untuk dunia. Perjalanan ribuan mil selalu dimulai dari satu langkah kecil di ruang pitching. Dan di sini, di tanah istimewa ini, mimpi-mimpi itu terus dirajut, satu frame demi satu frame.(Rozak)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...