by ifid|| 11 Mei 2026 || 52 kali
Gedung Societeit Militaire di kompleks Taman Budaya Yogyakarta kembali menjadi saksi bisu dari menggeliatnya tunas-tunas muda penjaga tradisi. Pada tanggal 8 hingga 9 Mei 2026, suasana di sekitar bangunan bersejarah bergaya indis tersebut dipenuhi oleh riuh rendah tawa anak-anak, paduan warna-warni kostum tradisional yang memesona, dan alunan gamelan yang bertalu-talu menggetarkan jiwa.
Udara pagi yang sejuk di bulan Mei seakan menyatu dengan semangat para peserta yang merupakan anak-anak usia Sekolah Dasar. Mereka bukan sembarang anak; mereka adalah duta kecil yang hadir mewakili empat kabupaten dan satu kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Membawa kebanggaan daerah masing-masing, mereka telah memenangkan seleksi di tingkat kabupaten/kota dan ditugaskan oleh pemerintah daerahnya untuk melangkah ke panggung agung Festival Langencarita Antar-Kabupaten/Kota se-DIY Tahun 2026. Ini adalah sebuah perhelatan kebudayaan yang tidak sekadar menjadi ajang unjuk kebolehan, melainkan medium kontemplasi bagi generasi penerus bangsa.
Tahun ini, wajah Festival Langencarita sedikit berbeda. Di balik riasan wajah panggung yang merona dan properti yang megah, tersimpan pesan agung yang ingin disuarakan kepada dunia. Festival kali ini berani mengambil sikap dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan tantangan zaman: "Cinta Alam dan Kesadaran Lingkungan".
Bukan tanpa alasan tema ekologis ini dipilih. Di tengah laju modernisasi dan bayang-bayang krisis iklim global, pendekatan kebudayaan dipandang sebagai salah satu langkah paling sublim dan efektif untuk menyemai kesadaran sejak dini. Seni tradisi anak yang berbasis tembang, tari, dan iringan gamelan yang selama ini identik dengan legenda masa lalu kini diubahsuaikan menjadi cermin untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Diharapkan, peserta mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya memanjakan mata secara artistik, tetapi juga menyuntikkan pesan moral bagi masyarakat luas.
Dalam pementasan ini, panggung menjelma menjadi ruang kelas yang paling membahagiakan. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., memberikan penekanan mendalam mengenai esensi Langencarita. Baginya, kehadiran anak-anak ini adalah wujud nyata nguri-uri kabudayan.
"Tema Festival Langencarita tahun ini mengajak kita semua untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini melalui pendekatan budaya dan seni pertunjukan. Nilai tersebut sejalan dengan filosofi luhur masyarakat Yogyakarta, yaitu Hamemayu Hayuning Bawana," tegas Dian.
Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana memperindah dan menjaga keselamatan dunia menjadi urat nadi pementasan. Anak-anak diajak menyelami gagasan pendidikan di mana seni menjadi sarana pembentukan budi pekerti, tata krama, dan kepekaan rasa.
Di balik gemerlapnya panggung, ada pilar-pilar administratif dan konseptual yang kokoh. Hal ini dijabarkan secara rinci dan elegan oleh Bapak Rully Andriadi, selaku PLT Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Atlas, dalam laporan pembukanya.
Beliau memaparkan bahwa festival ini adalah bagian integral dari Sub-Kegiatan Gelar Budaya Yogyakarta Tahun Anggaran 2026, yang berpijak teguh pada Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Nomor 3 Tahun 2026.
"Festival Langencarita merupakan ajang pembinaan, pengembangan, serta penguatan seni tradisi anak. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran budaya sekaligus media pembentukan karakter anak melalui seni pertunjukan yang edukatif, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai budaya Yogyakarta," tutur Rully.
Beliau juga merinci bahwa rangkaian acara ini telah dipersiapkan dengan matang, diawali dengan Gladi Resik dan orientasi panggung pada Kamis, 8 Mei 2026, sebelum mencapai puncaknya pada hari pementasan di Jumat, 9 Mei 2026.
Untuk menilai sebuah karya yang memadukan tarian, nyanyian, akting, dan instrumen secara live selama 20 hingga 25 menit tentu bukan perkara mudah. Oleh karena itu, Kundha Kabudayan DIY menghadirkan dewan juri dari kalangan pakar dan praktisi seni terkemuka. Formasi dewan juri tahun ini diisi oleh:
Para maestro ini tidak hanya melihat "siapa yang paling indah", melainkan membedah karya berdasarkan empat aspek krusial:
Kompetisi hanyalah salah satu instrumen kecil dari proses kebudayaan. Namun, apresiasi tetap diberikan sebagai pemantik semangat. Bapak Rully Andriadi dalam laporannya juga mengumumkan rincian apresiasi yang akan direbutkan oleh para duta cilik ini. Apresiasi ini bukan sekadar hadiah, melainkan "uang pembinaan" untuk memastikan ekosistem seni di daerah mereka terus berdenyut.
Kategori Kelompok:
Kategori Nominasi Khusus:
Seluruh hadiah uang pembinaan ini diberikan dengan ketentuan dipotong pajak sesuai regulasi pemerintah.
Di atas panggung, lima kontingen menyajikan magis dari lima penjuru DIY.
Kabupaten Sleman: "Njaga Bumi Lestari"
Sleman menghadirkan narasi heroik nan emosional. Cerita berpusat pada tokoh Kinasih yang tempat berteduhnya tersapu tanah longsor metafora kerasnya dampak perusakan alam. Melalui persatuan, anak-anak di panggung bahu-membahu mengusir hama dan menghijaukan kembali bumi.
Kabupaten Bantul: "Wohing Pakarti"
Bantul menyajikan pementasan tentang hukum sebab-akibat ekologis. Klimaksnya adalah tembang yang menyerukan pengelolaan sampah: "Yo Bebenah, Yo Gumregah, Uwuh kudu diolah, Amrih piguna sakehing titah" (Mari berbenah, mari bangkit, sampah harus diolah, agar berguna). Sebuah solusi nyata ditampilkan dengan pemanfaatan barang bekas menjadi properti panggung.
Kabupaten Kulon Progo: "Resik Agawe Becik"
Menyoroti aliran sungai Bendung Kahyangan, panggung disulap menjadi area air yang tercemar botol plastik akibat ulah tokoh Kuncung. Pengakuan jujurnya memicu semangat gotong royong membersihkan sungai. Hebatnya, Kulon Progo membuktikan konsep merawat lingkungan dengan menggunakan properti pementasan yang 100% didaur ulang dari galon dan botol air mineral bekas.
Kabupaten Gunungkidul: "Ngrumat"
Gunungkidul tampil membawakan pesan "Ngrumat" (merawat). Melalui harmoni gerak dan titi laras yang syahdu, mereka merepresentasikan hubungan resiprokal manusia dan bumi yang harus diseimbangkan. Penampilan mereka menyiratkan bahwa merawat alam membutuhkan kesabaran luar biasa, persis seperti merawat kebudayaan itu sendiri.
Kota Yogyakarta: "Ngunduh Wohing Pakarti"
Membawa angin segar melalui perspektif anak urban, kontingen Kota Yogyakarta memotret realitas kehidupan kota: polusi pekat, ruang terbuka hijau yang kian menyempit, dan tumpukan limbah gaya hidup modern.
Lewat kacamata kepolosan anak-anak, pertunjukan ini menjelma menjadi kritik sosial yang tajam namun tetap jenaka. Mereka menarasikan bahwa di tengah padatnya beton kota, tindakan sekecil apa pun untuk menyelamatkan lingkungan akan berbuah manis bagi kualitas udara dan masa depan mereka bernaung.
Keberhasilan Festival Langencarita terdengar riuh dari apresiasi yang mengalir deras, baik dari tim perumus maupun masyarakat umum yang memadati gedung.
Ndaru Murdopo, S.Pd. Naramumber /Tim Penyusun Festival LangenCarita 2026 mengatakan, "Kami mengucapkan terima kasih kepada semua penampil. Memang ini sejak dini kita dorongkan kepada anak-anak di bidang kreatif kesenian dan budaya, agar kelak menjadi kebiasaan yang baik."
Sorak sorai penonton juga menjadi bukti bahwa kesenian tradisional yang dikemas segar masih memiliki tempat istimewa di hati generasi kiwari. Sepeti halnya Penonton Generasi Muda Ari & Putri mengatakan, "Acara ini luar biasa banget! Sangat menggugah kebudayaan untuk anak-anak zaman sekarang. Apalagi isunya tentang kelestarian alam, menjaga bumi kita. Sangat penting!"
Sedangkan dari Abel & Angel juga mengatakan,"Seru banget! Kita udah lihat beberapa penampilan dari semua kontingen, bagus-bagus semua. Aku berharap di tahun-tahun berikutnya festival ini tetap ada dan generasinya terus berlanjut."
Sementara itu Salah satu dewan Juri Pardiman Djoyonegoro, S.Pd. memberikan apresisi kepada para peserta yang sudah ber festival, "Ada peningkatan pada pemahaman tema daripada tahun-tahun berikutnya. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan potensi anak itu. Sebenarnya ini bukan masalah kalah atau menang, tapi ini adalah sebuah pembelajaran, pembentukan karakter, dan kesadaran berbudi pekerti luhur. Festival ini adalah media... pencapaian sebuah kebudayaan."
Pesan beliau menjadi pengingat; sportivitas, rasa saling menghargai, dan sikap rendah hati adalah trofi sejati yang dibawa pulang oleh setiap peserta.
Saat malam semakin larut pada tanggal 9 Mei 2026, debar jantung memenuhi dada setiap peserta. Dewan juri bersiap mengumumkan penyaji terbaik. Dan tahun ini, dedikasi, harmonisasi tembang, kesesuaian tema ekologis, serta kedalaman narasi "Ngrumat" membawa Kontingen Kabupaten Gunungkidul meraih predikat Penyaji Terbaik I.
Diiringi isak tangis haru dan sorak gembira, anak-anak perbukitan karst tersebut mengangkat piala kemenangannya. Mewakili kontingen, mereka menyuarakan asa yang menggetarkan hati. Salah satu Pemenang Kontingen Kabupaten Gunungkidul, menyampaikan rasa yang Luar biasa sekali kami diberikan wadah, diberikan ruang, dan apresiasi yang setinggi-tingginya dari Dinas Kebudayaan DIY. Sehingga anak-anak kami, adik-adik kami yang masih berusia SD ini bisa terus nguri-uri kebudayaan khususnya di bidang Langencarita. Sukses terus untuk semuanya!"
Merawat Tunas Budaya, Menjaga Bumi
Siapapun yang membawa pulang trofi malam itu, pemenang sesungguhnya telah ditegaskan dalam asa Bapak Rully Andriadi di akhir laporannya: "Melalui kegiatan ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan artistik, tetapi juga memiliki karakter luhur, kepedulian sosial, serta kesadaran terhadap pelestarian alam."
Festival Langencarita tahun 2026 telah menancapkan tonggak sejarah baru dalam perjalanan kesenian di Yogyakarta. Ia berhasil mengawinkan kebijaksanaan leluhur dengan urgensi isu kontemporer. Pendekatan ini menegaskan satu hal penting: tradisi bukanlah gulungan perkamen usang yang disimpan di museum, melainkan napas yang adaptif, relevan, dan terus hidup untuk menjawab tantangan masa depan.
Ketika tirai panggung Societeit Militaire ditutup dan alunan gamelan perlahan mereda, ada harapan baru yang menyala. Benih-benih cinta alam yang ditaburkan lewat tembang dan tarian anak-anak ini diyakini akan tumbuh berakar kuat di sanubari mereka. Kelak, mereka tidak hanya akan tumbuh menjadi pewaris kebudayaan yang andal, tetapi juga menjadi benteng terdepan pelindung bumi yang tangguh. (Hasni G)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...