by ifid|| 11 Mei 2026 || 549 kali
Udara di Ruang Sadewa, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY pada saing itu, 11 Mei 2026, terasa lebih padat dari biasanya. Bukan karena penuhnya orang, melainkan oleh muatan ide, visi, dan sedikit kecemasan yang menggantung di wajah para sineas muda Yogyakarta. Setelah melewati tahap seleksi administrasi dan presentasi pitching yang sengit dari 20 proposal, kini tersisa lima kelompok yang harus berhadapan langsung dengan para kurator dalam fase paling krusial: One on One Meeting.
Ini bukan sekadar formalitas. Fase ini adalah jantung dari Kompetisi Pendanaan Film Tahun 2026 yang digagas oleh Dinas Kebudayaan DIY. Di sini, setiap proposal dibedah hingga ke akar-akarnya. Tidak ada lagi panggung besar dengan mikrofon yang berjarak; yang ada hanyalah meja kayu, deretan dokumen anggaran, dan tatapan tajam namun suportif dari tim kurator yang terdiri dari Budi Irawanto, DS. Nugraheni, Senoaji Julius, Viko Amanda, dan Dyna Herlina.
Satu per satu tim masuk ke dalam ruangan. Di sana ada tim dari judul "Jape Methe", "Kipas Angin di Ruang Tamu", "50+", "Melancong", hingga "Pagar Pensil". Di dalam ruangan, suasana diskusi mengalir dinamis. Kurator tidak hanya bertanya soal teknis sinematografi, tetapi mengejar filosofi di balik cerita. "Mengapa cerita ini penting bagi Yogyakarta?" atau "Bagaimana Anda akan merealisasikan anggaran ini dengan kualitas visual yang mumpuni?" menjadi pertanyaan-pertanyaan pembuka yang menguji ketahanan mental para sutradara dan produser.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa film merupakan industri dinamis yang memainkan peran penting dalam pengembangan kebudayaan. Oleh karena itu, dukungan dana sebesar Rp. 180.000.000,- yang dialokasikan pemerintah bukan sekadar bantuan hibah, melainkan investasi budaya untuk menjaga ekosistem perfilman di Daerah Istimewa Yogyakarta agar tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Selama proses bedah naskah, tim supervisi yang digawangi oleh Gregorius Arya Dhipayana, Mandella Majid Pracihara, Bambang Kuntara Murti, Triyanto Hapsoro, dan Siska Rahardiyanti turut memantau. Mereka adalah garda depan yang akan mengawal proses produksi dan tertib administrasi hingga film tersebut selesai sesuai dengan timeline yang telah ditetapkan.
Debat kecil sesekali terjadi. Seorang sutradara berusaha mempertahankan pilihan estetikanya yang unik, sementara kurator memberikan masukan dari sisi keterbacaan publik dan relevansi budaya. Inilah esensi dari One on One Meeting: sebuah ruang dialektika. Di ruangan ini, sebuah naskah yang awalnya tampak masih kasar, bisa berubah menjadi gagasan yang solid setelah menerima kritik konstruktif dan pendalaman materi.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus pendalaman konsep antara para pengusul film dengan tim penilai. Tujuannya jelas: memperkuat kualitas gagasan, aspek produksi, hingga potensi pengembangan karya yang akan dihasilkan agar mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Menjelang sore, suasana mulai mencair namun konsentrasi tetap terjaga. Dari lima proposal yang berhak mengikuti tahap ini yakni Jape Methe, Kipas Angin di Ruang Tamu, 50+, Melancong, dan Pagar Pensil akhirnya terpilihlah dua karya yang dianggap paling siap secara konsep dan teknis.
Keputusan akhir menetapkan dua judul proposal sebagai pemenang pendanaan tahun 2026: "Pagar Pensil" dan "Kipas Angin di Ruang Tamu".
Dua judul ini dianggap berhasil menangkap realitas dan kearifan lokal Yogyakarta dengan cara yang segar dan inovatif. Bagi mereka yang belum berhasil, pintu tidak tertutup rapat. Dinas Kebudayaan DIY tetap membuka ruang kolaborasi dan mendorong sineas muda untuk terus mencoba di tahun-tahun mendatang. Sebab, di Yogyakarta, film bukan sekadar industri; ia adalah perpanjangan tangan dari kebudayaan yang terus bergerak mengikuti jantra zaman. (Rozak)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...