by ifid|| 13 Mei 2026 || 591 kali
Yogyakarta-12 Mei 2026, Sore itu, langit Yogyakarta menggantungkan semburat jingga di atas Amphitheater Teras Malioboro 1. Di tengah hiruk-pikuk wisatawan yang mencari buah tangan, sebuah energi berbeda mulai terpancar dari panggung terbuka. Bukan sekadar hiburan pelepas penat, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang keteguhan menjaga jati diri.
Pentas Seni Kalurahan Budaya edisi Selasa Wagen kali ini bukan sekadar rutinitas kalender wisata. Mengusung tema besar “Nyawiji”, acara ini menjadi ruang di mana nilai-nilai luhur Yogyakarta menyatu ke dalam gerak, irama, dan rasa para pelakunya. Sebagaimana disampaikan dalam sambutan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, SS, MA, "Nyawiji" adalah upaya menjiwai nilai luhur untuk menumbuhkan kreativitas dan kesejahteraan masyarakat.
Sepuluh kalurahan dari berbagai penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul. Mereka membawa serta debu tanah kelahiran, doa-doa sesepuh, dan semangat muda yang membara untuk membuktikan bahwa tradisi tidak akan pernah usang ditelan zaman.
Jerukwudel dan Filosofi Cabai Rawit
Langkah pertama dimulai dari ujung timur, Kalurahan Jerukwudel, Kabupaten Gunungkidul. Mereka menghadirkan sebuah lakon berjudul “Rawit Kang Rinakit”. Sebuah judul yang puitis sekaligus penuh pesan mendalam.
Dalam sinopsisnya, Jerukwudel mengingatkan kita bahwa sesuatu yang kecil belum tentu tidak terlihat. Layaknya cabai rawit, yang kecil dan halus namun memberikan ledakan rasa pedas yang mengejutkan, begitupun seni tradisi di desa. Melalui balutan Reog Prajuritan, Jathilan, dan Tayub, para seniman Jerukwudel di bawah arahan koreografer Dwi Cahyono dan Fitra menyuguhkan pertunjukan yang dekat dengan denyut nadi masyarakat Gunungkidul. Mereka membuktikan bahwa kerumitan gerak bukanlah halangan, melainkan keindahan yang harus dirayakan.
Argomulyo – Kemurnian dalam Kesederhanaan
Bergeser ke Kabupaten Sleman, Kalurahan Mandiri Budaya Argomulyo membawa Jathilan Lancur. Istilah "Lancur" sendiri mengandung makna yang sangat fundamental: sederhana dan asli. Di tengah gempuran tren seni modern yang serba megah, Argomulyo justru memilih jalan sunyi dengan menampilkan gerak apa adanya, tanpa kerumitan yang dibuat-buat.
Iringan musiknya minimalis, namun di sanalah letak kekuatannya. Penonton diajak kembali ke esensi murni dari Jathilan—sebuah latihan perang atau gladhi para prajurit masa lampau. Keaslian tradisi ini bukan sekadar klaim, sebab Jathilan Lancur Krido Turonggo Jati Jiwosari telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2024 oleh Kemendikbudristek. Sebuah pengakuan atas konsistensi mereka merawat akar.
Karangrejek – Ketangkasan dalam Kreasi
Masih dengan semangat keprajuritan, Kalurahan Karangrejek dari Gunungkidul menampilkan Reog Kprajuritan dari kelompok Wahyu Budoyo. Jika Argomulyo menekankan pada keaslian klasik, Karangrejek mencoba menjembatani masa lalu dan masa kini melalui sentuhan kreasi modern pada gerakan-gerakan klasiknya.
Pertunjukan ini menggambarkan ksatria yang kuat dan berani dalam menghadapi tantangan perjuangan. Di bawah bimbingan pendamping budaya Lina Susanti, S.Sn, sajian ini berhasil menciptakan visual yang dinamis dan menarik. Ini adalah bukti bahwa semangat juang prajurit tetap relevan, baik di medan perang masa lalu maupun dalam perjuangan hidup masyarakat modern saat ini.
Sendangmulyo – Estafet Iman dan Budaya
Dari ujung barat Sleman, Kalurahan Sendangmulyo membawa narasi yang lebih religius melalui kesenian Kubro Mudo Siswo. Sendangmulyo, yang telah menyandang status Kalurahan Mandiri Budaya sejak 2023, menggunakan panggung Selasa Wagen sebagai ajang regenerasi.
Kesenian ini bukan sekadar tarian, melainkan sejarah yang menari. Berasal dari Dusun Cerbonan, kesenian ini berakar dari kisah Kyai Cerbon—prajurit Kraton Cirebon yang membantu peperangan di Yogyakarta sekaligus menyebarkan agama Islam. Makna "Kubro" (besar) dan "Siswo" (murid) mencerminkan pengabdian besar kepada Tuhan. Menariknya, penampil kali ini adalah anak-anak muda yang baru pertama kali naik panggung, sebuah langkah konkret dalam melestarikan warisan Kyai Cerbon agar tak lekang oleh waktu.
Kricak – Melesat Bak Anak Panah
Suasana Amphitheater semakin memanas saat Kelurahan Kricak dari Kota Yogyakarta menampilkan “Tari Kridha Abhinanda”. Narasi yang mereka usung sangat puitis: “Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, menerjang terjang tak terhalang”.
Tarian ini menonjolkan ketangkasan prajurit gendewa yang tampil terampil dan dinamis. Di bawah arahan penata tari Aya Sakura dan penata iringan Zoel Studio, Kricak berhasil menunjukkan karakter masyarakat kota yang adaptif namun tetap memegang teguh disiplin dan ketangkasan layaknya pusaka yang tajam.
Srigading – Pergulatan Melawan Nafsu
Kabupaten Bantul diwakili oleh Kalurahan Srigading yang menyajikan Reog Wayang berjudul “Begalan Satria Tama”. Mengambil fragmen Perang Kembang dari dunia pewayangan, mereka menampilkan pertarungan antara Arjuna melawan Buto Cakil.
Namun, pertunjukan ini bukan sekadar aksi laga. Buto Cakil adalah simbol dari nafsu murka dan kejahatan yang ada di dalam diri manusia. Kemenangan Arjuna dalam pertunjukan ini menjadi pengingat bagi setiap penonton tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu batiniah. Srigading berhasil mengemas filosofi tinggi ini ke dalam seni tradisi kerakyatan yang mudah dicerna namun tetap membekas.
Sentolo – Benteng Negara Generasi Muda
Kembali ke Kulon Progo, Kalurahan Sentolo menghadirkan Jathilan Putri Anom Budaya. Kehadiran penari-penari putri ini memberikan warna berbeda pada tema keprajuritan. Mereka menggambarkan prajurit sebagai benteng negara yang tangguh.
Produksi dari Kalurahan Budaya Sentolo ini menekankan pada kreativitas generasi muda. Dengan perpaduan musik dan tari yang digarap apik, mereka membuktikan bahwa peran perempuan dalam menjaga kedaulatan budaya sangatlah vital. Sentolo menunjukkan sisi lembut namun perkasa dari sebuah pertunjukan Jathilan.
Warungboto – Harmoni Lintas Zaman
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian adalah dari Kelurahan Warungboto, Kota Yogyakarta, dengan tajuk “Newsoundtoro”. Ini adalah "wajah baru" pertunjukan musik etnik. Di tangan anak-anak muda Warungboto, gamelan tidak lagi berdiri sendiri; ia dipadukan dengan instrumen band modern.
Mereka membawakan lagu-lagu dolanan anak yang penuh keceriaan, lalu menyambungnya dengan lagu kekinian Nusantara. Aransemennya enerjik dan komunikatif, menjadikan gerak tari sebagai visualisasi irama yang ekspresif. “Newsoundtoro” adalah bukti otentik bahwa tradisi bisa tetap relevan, segar, dan "keren" di mata generasi masa kini tanpa kehilangan ruh etniknya.
Tayuban & Margoagung – Syukur dan Keberagaman
Menutup rangkaian narasi ini, Kalurahan Tayuban dari Kulon Progo membawa kesenian Kentongan Pekbung yang dipadukan dengan Tari Tani. Pertunjukan ini adalah potret syukur para petani atas limpahan padi. Menggunakan alat musik sederhana dari bambu dan tembikar (klenting), Tayuban memperlihatkan kebahagiaan yang lahir dari kesederhanaan desa.
Sementara itu, Kalurahan Margoagung dari Sleman merangkum semuanya dalam “Tari Gumregah Bumi Sembada”. Tarian ini adalah mosaik keberagaman, menampilkan berbagai unsur seni mulai dari Badui hingga Jathilan dalam satu panggung. Ia mencerminkan identitas budaya yang berbeda-beda namun tetap saling melengkapi—sebuah manifestasi nyata dari semangat Nyawiji.
Malam semakin larut di Malioboro, namun semangat sepuluh kalurahan ini tetap membara. Pentas Selasa Wagen 12 Mei 2026 telah usai, namun pesan yang dibawa pulang oleh para penonton tetap sama: Bahwa di tangan masyarakat yang peduli, budaya Yogyakarta tidak hanya akan bertahan, tetapi terus tumbuh dan menyatukan kita semua. (dwi agus w)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...