Magis, Reflektif, dan Hidup: Pertemuan Seni Kontemporer di Jantung Yogyakarta

by ifid|| 22 Mei 2026 || 466 kali

...

Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), udara terasa pekat oleh antisipasi dan energi kreatif yang beresonansi. Rabu malam, 20 Mei 2026, mencatatkan sebuah momentum krusial dalam lini masa perkembangan seni pertunjukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratusan pasang mata dari mahasiswa seni yang haus akan referensi, pekerja kreatif, pegiat budaya yang berdedikasi menjaga warisan, hingga keluarga muda memenuhi ruang pertunjukan sejak sore hari, menciptakan pemandangan antrean yang mengular panjang dan dinamis di area lobi.

Peristiwa kebudayaan yang bertajuk "Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi" ini bukan sekadar pementasan rutin yang terjadwal dalam kalender tahunan. Ia diposisikan sebagai sebuah manifesto visual, sebuah ruang hibrida tempat tradisi dan modernitas melebur tanpa kehilangan jati diri masing-masing. Di sinilah letak daya tarik utamanya: sebuah panggung tari yang mempertemukan tiga koreografer terkemuka dari latar belakang usia dan metodologi artistik yang sangat kontras Galih Puspita, Besar Widodo, dan Eka Lutfi. Tiket pertunjukan yang didistribusikan secara eksklusif melalui platform digital Turtix pun telah habis terpesan hanya dalam hitungan hari, menegaskan antusiasme publik yang begitu dahsyat terhadap ruang dialog estetika yang intim, reflektif, dan emosional ini.

Pementasan yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui UPT Taman Budaya Yogyakarta ini sengaja dirancang sebagai sebuah laboratorium hidup. TBY malam itu tidak bertindak sebagai wadah statis, melainkan menjadi saksi bisu bagaimana tubuh-tubuh penari dari berbagai usia mengeksplorasi batas kemampuan fisik dan kedalaman spiritual mereka. Ketiga koreografer membawa visi pencarian makna kehidupan manusia yang unik, menghadirkan sebuah narasi besar yang utuh mengenai siklus eksistensi, keteguhan, serta kepasrahan yang puitis di hadapan sang waktu.

Ketika Cahaya dan Gerak Menyatu: Pembukaan yang Menyihir

Begitu pintu Concert Hall ditutup rapat dan tanda pertunjukan dimulai berbunyi, kegelapan total menyelimuti seisi ruangan. Penonton seketika terdiam dalam keheningan yang magis. Keheningan itu pecah ketika seberkas cahaya temaram bersorot lembut ke tengah panggung, memotong siluet tiga figur tubuh yang mulai bergerak ritmis. Babak pembuka ini menyuguhkan penampilan kolaboratif dari ketiga koreografer utama, sebuah introduksi visual yang langsung menyihir emosi penonton sejak menit pertama.

Komposisi bunyi yang mengiringi gerak pembuka ini memadukan instrumen musik etnik Jawa yang dieksplorasi secara eksperimental dengan bebunyian elektronik kontemporer kontemplatif. Tubuh para penari bergerak dengan sangat cair, merepresentasikan kelenturan gerak khas generasi muda yang penuh vitalitas. Namun, di saat bersamaan, gerakan tersebut bertumbukan dengan kedalaman pengalaman artistik serta ketenangan intuitif yang dibawakan oleh koreografer senior. Sesekali gerak itu tampak patah, menghentak, menuntut perhatian penuh, sebelum akhirnya kembali mengalun lembut layaknya ritme nafas alam semesta.

Pertemuan estetika antargenerasi ini terasa begitu organik karena tidak ada satu pihak pun yang berusaha saling mendominasi. Generasi muda menghormati kedalaman rasa sang senior, sementara sang maestro menyambut hangat keberanian eksplorasi sang penerus. Setelah pembukaan yang sarat akan atmosfer magis tersebut selesai, panggung diambil alih oleh duo pembawa acara yang sudah tidak asing lagi di kancah seni Yogyakarta, Alit Jabangbayi dan Putri Manjo. Dengan gaya interaktif yang cerdas, tangkas, dan dipenuhi humor segar, mereka berhasil mencairkan suasana Concert Hall yang semula tegang dan khidmat menjadi ruang komunal yang hangat, akrab, dan penuh gelak tawa.

Seremoni Pembukaan: Estafet Budaya Lintas Generasi

Kemeriahan interaksi penonton kembali menemui titik khidmat saat seremoni pembukaan resmi dimulai. Prosesi ini ditandai dengan pemukulan gong pusaka secara megah, sebuah penanda simbolis bahwa rangkaian mahakarya kontemporer siap dilepas ke hadapan publik. Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, melangkah maju ke podium untuk menyampaikan sambutan resminya. Dalam pidatonya yang lugas dan penuh visi, beliau menegaskan posisi strategis TBY sebagai garda depan pelestarian dan pengembangan seni di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Melalui kegiatan ini, TBY berharap dapat terus menjadi ruang terbuka bagi proses regenerasi, pertukaran gagasan, dan penguatan jejaring seni pertunjukan."  Purwiati Kepala Taman Budaya Yogyakarta

Suasana di dalam gedung semakin emosional ketika panggung memberikan penghormatan khusus kepada seniman tradisional legendaris nusantara, Yati Pesek, yang turut hadir dan melangkah anggun ke atas panggung. Kehadirannya di tengah-tengah ruang kontemporer ini laksana jembatan emas yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh kemungkinan. Yati Pesek berdiri sebagai simbol abadi dari estafet budaya—sebuah pengingat autentik bahwa nilai-nilai keluhuran, ketekunan proses, dan api kreativitas harus terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa boleh terputus.

Manifesto kebudayaan malam itu semakin diperkuat oleh pidato dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. Dalam pemaparannya yang elegan dan penuh kedalaman teoretis, beliau menegaskan bahwa kebudayaan Yogyakarta bukanlah sebuah museum benda mati yang hanya bisa diratapi keindahannya dari balik kaca retorika sejarah.

"Malam ini kita memaknai bahwa tradisi bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sesuatu yang terus hidup, berkembang, dan berdialog dengan zamannya. Tari kontemporer bukan sekadar rangkaian gerak tubuh di atas panggung. Ia adalah bahasa batin. Ia adalah cara manusia membaca zamannya, mengolah kegelisahan, harapan, ingatan, dan masa depan menjadi energi artistik." Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A.  Kepala Dinas Kebudayaan DIY

Menurut Dian Lakshmi Pratiwi, tari kontemporer di tangan para koreografer lintas generasi ini menjelma sebagai sebuah medium kontemplasi yang sangat tajam untuk merekam realitas sosial, pergulatan batin, serta dinamika kemanusiaan hari ini. Kebudayaan yang besar, lanjut beliau, adalah kebudayaan yang berani melangkah maju mengeksplorasi ruang-ruang baru, menyalakan pelita masa depan, namun tetap berdiri kokoh di atas akar tradisinya sendiri yang luhur.

Ngluru Lurung: Menyusuri Lorong Kehidupan

Tirai pementasan utama akhirnya tersingkap, menampilkan karya pertama garapan koreografer muda Galih Puspita yang bertajuk Ngluru Lurung. Dalam bahasa Jawa, frasa ini memiliki arti harfiah menyusuri lorong atau jalan kecil. Namun, di atas panggung Concert Hall malam itu, Galih menerjemahkannya sebagai sebuah perjalanan eksistensial ke dalam lorong waktu, memori, dan perjuangan batin manusia yang teramat sunyi.

Karya ini berpusat pada narasi universal namun personal mengenai perjuangan seorang nenek buyut yang menjadi tulang punggung, berjuang melintasi kerasnya zaman demi menghidupi keluarganya hingga lintas generasi. Galih Puspita mengeksplorasi tubuh para penarinya secara intens, menuntut ketahanan fisik yang tinggi sekaligus penjiwaan emosional yang mendalam. Gerakan-gerakan dalam Ngluru Lurung didominasi oleh motif gerak yang repetitif: penari yang berlari kencang menerjang kegelapan, terjatuh dengan dentuman yang memilukan, namun selalu menemukan kekuatan misterius untuk kembali bangkit berdiri tegak.

Melalui tata cahaya yang dramatis memanfaatkan kontras antara bayangan gelap yang panjang dengan sorot lampu tunggal yang tajam—penonton seolah-olah diajak ikut melangkah masuk ke dalam labirin batin yang sunyi namun dipenuhi oleh keteguhan yang luar biasa. Tidak ada satu pun dialog verbal dalam karya ini, namun tubuh-tubuh penari di atas panggung bercerita dengan artikulasi yang sangat fasih, melampaui batas-batas bahasa kata. Galih sukses menjadikan panggung pertunjukan sebagai sebuah ruang memori kolektif yang menyentuh nurani setiap penonton.

Dari karya saya yang berjudul Ngluru Lurung, di mana karya ini adalah ekspresi yang saya tampilkan dalam acara Lintas Generasi. Dan kesan saya dalam acara ini, saya merasa saya diberikan wadah untuk saya berekspresi, mengembangkan ide saya, gagasan saya. Dan pada karya ini, saya bercerita tentang kehidupan, bahwasanya hidup tidak hanya sekadar berjalan, namun dalam sebuah hidup kita harus terus melakukan liku-liku dan menghidupi."  Galih Puspita Kartini  Koreografer Karya I

Di Atas Irama Dua: Penerimaan yang Jujur dan Puitis

Atmosfer pertunjukan di dalam gedung Concert Hall mengalami pergeseran yang sangat kontras ketika karya kedua dimulai. Koreografer senior Besar Widodo menghadirkan karyanya yang berjudul Di Atas Irama Dua. Jika Galih Puspita sebelumnya meledak dalam intensitas gerak perjuangan fisik, Besar Widodo justru membawa penonton masuk ke dalam ruang kontemplasi yang teramat tenang, jujur, membumi, dan dipenuhi kepasrahan yang puitis.

Besar Widodo memilih fokus yang sangat spesifik dan jarang diangkat dalam panggung seni kontemporer mainstream: memotret realitas fase kehidupan perempuan yang telah memasuki usia emas, yakni antara 50 hingga 60 tahun. Pendekatan yang digunakan Besar terasa sangat personal dan tanpa kepalsuan. Tubuh para penari dalam karya ini bergerak dengan ritme yang sengaja diperlambat, kadang-kadang dipatahkan di tengah jalan, merepresentasikan keterbatasan fisik yang datang seiring dengan bertambahnya usia manusia.

Kejeniusan artistik Besar Widodo terlihat jelas ketika ia memasukkan unsur sensorik penciuman ke dalam ruang pertunjukan. Aroma minyak angin sebuah simbol yang sangat lekat dengan keseharian, keintiman, dan kerentanan tubuh para perempuan lansia di masyarakat Jawa dihadirkan secara nyata di atas panggung hingga aromanya menguar lembut memenuhi barisan kursi penonton. Sentuhan taktil dan olfaktori ini seketika meruntuhkan jarak estetika, membuat penonton merasa sangat dekat dengan figur-figur yang menari di depan mereka.

Di Atas Irama Dua sama sekali tidak bermaksud meratapi proses penuaan sebagai sebuah tragedi kemunduran eksistensi. Sebaliknya, karya ini adalah sebuah perayaan agung mengenai penerimaan tubuh yang tulus atas berjalannya sang waktu. Besar Widodo mengajak penonton untuk melihat keriput, langkah kaki yang mulai goyah, dan napas yang memendek bukan dengan rasa takut atau penolakan, melainkan dengan rasa syukur, keanggunan, dan kelembutan rasa—dua nilai spiritualitas tertinggi dalam tatanan kebudayaan Jawa.

Koreografer yang tampil pada acara Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi. Dan saya sangat senang sekali, bangga bisa hadir di dalam acara ini di Taman Budaya Yogyakarta. Saya berharap acara ini tetap terus bisa berlangsung, bisa mewadahi semua koreografer dari lintas generasi untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik bagi perkembangan tari kontemporer di Yogyakarta. Jaya selalu tari kontemporer." Besar Widodo  Koreografer Karya II

Sangkar Sunyi yang Bernyawa: Puncak Spiritual Malam Itu

Malam puncak kebudayaan itu mencapai katarsis emosional dan spiritual tertingginya melalui karya penutup yang dipersembahkan oleh koreografer Eka Lutfi yang bertajuk Sangkar Sunyi yang Bernyawa. Pertunjukan pamungkas ini menggali kedalaman kosmologi Jawa melalui interpretasi ulang terhadap filosofi tradisi mitoni sebuah ritual sakral tujuh bulanan yang digelar untuk merayakan, mendoakan, dan menyambut kehadiran awal kehidupan seorang janin manusia di dalam kandungan ibunya.

Eka Lutfi, atau yang akrab disapa Aceng di kalangan seniman, merancang panggung pertunjukan laksana sebuah kanvas visual yang bernyawa sekaligus meditatif. Tata cahaya diatur sedemikian rupa, didominasi oleh warna-warna hangat yang redup, menciptakan ilusi visual rahim yang aman, sunyi, namun berdenyut penuh kehidupan. Komposisi musiknya bergerak lambat, mengandalkan bebunyian lirih dari instrumen tradisional yang dimainkan secara minimalis, berpadu dengan keheningan di antara jeda nada yang justru terasa sangat mencekam sekaligus menenangkan.

Para penari bergerak dengan presisi tubuh yang luar biasa halus. Setiap jengkal gerakan lengan, lekuk jemari, hingga hembusan napas mereka merefleksikan kesucian, kemurnian, dan harapan yang tumbuh di dalam ruang isolasi yang murni bernama rahim. Ratusan penonton di dalam Concert Hall tampak terpaku sepenuhnya, terhipnotis oleh keindahan visual puitis yang disajikan di depan mata mereka. Beberapa penonton bahkan tak berkedip, menahan napas menyaksikan transisi adegan demi adegan yang mengalir syahdu seperti untaian doa spiritual yang tak putus-putus dikumandangkan.

Dalam Sangkar Sunyi yang Bernyawa, tradisi mitoni berhasil dilepaskan dari belenggu bentuk ritual formal yang kaku. Eka Lutfi berhasil merekonstruksinya menjadi sebuah puisi gerak kontemporer yang bersifat universal. Ini adalah sebuah perayaan universal mengenai awal mula eksistensi manusia, sebuah harapan murni yang lahir dari kedalaman keheningan batin. Di sinilah tari kontemporer menunjukkan taji dan kedaulatan tertingginya: mengambil sesuatu yang kuno dan berdebu, mengolahnya dengan metodologi ekspresi baru, lalu mengembalikannya kepada publik dalam wujud karya seni yang jauh lebih hidup, relevan, dan menggetarkan sukma.

" Perasaan setelah perform hari ini tentunya setelah adrenalin yang memuncak dalam satu proses yang panjang sekitar 3 bulan, akhirnya sekarang bisa bernafas lega. Karena memang banyak sekali disiplin-disiplin yang memang masuk di dalam karya Sangkar Sunyi yang Bernyawa. Tentunya di dalam karya ini memang secara buah pikir memang dari saya, tapi secara pengembangan, secara gagasan untuk membuat satu simbol-simbol yang muncul di dalam karya ini saya tentunya banyak sekali diskusi dengan teman-teman kreatif saya yang ada di belakang saya, ada Astra-sutradara saya, ada direktur kreatif saya juga, dan akhirnya karya ini bisa pentas secara lancar. Dan terima kasih sekali kepada Taman Budaya dan terima kasih sekali kepada para penonton sudah ikut merayakan perayaan Sangkar Sunyi yang Bernyawa, terima kasih." Eka Lutfi Febriantono (Aceng) Koreografer Karya III

Dari Kebumen ke Concert Hall: Suara Para Saksi Malam

Gemuruh tepuk tangan yang membahana selama beberapa menit tanpa henti menjadi penanda mutlak keberhasilan pementasan malam itu. Ratusan pasang mata tampak terpaku menyaksikan setiap detail gerakan penutup hingga lampu hall dinyalakan kembali, riak kepuasan batin terpancar jelas dari wajah para penonton yang mulai beranjak meninggalkan area tempat duduk. Di antara kerumunan penonton, Akbar Nugraha Pratama menjadi salah satu suara yang merangkum apa yang dirasakan banyak orang malam itu.

"Unik, dan bagian akhir itu benar-benar menyuguhkan pemandangan yang spektakuler. Saya seperti dibawa ke surga, ini masterpiece banget! Mereka membawakan sesuatu yang luar biasa dan benar-benar segar. Cuma latihan satu bulan itu menurut saya wow." Akbar Nugraha Pratama Penonton dari Kebumen

Kekaguman serupa datang dari Pardiman, seniman kawakan yang turut hadir malam itu. Ungkapan yang ia pilih bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan seorang seniman berpengalaman terhadap keberanian tiga koreografer yang berani mengeksplorasi batas-batas seni pertunjukan.

"Saya begitu menikmati malam ini. Malam ini berbeda sekali. Kami diajak bertamasya untuk menikmati imajinasi-imajinasi yang liar."  Pardiman  Seniman Kebudayaan Yogyakarta

Pujian Pardiman mengenai "imajinasi yang liar" tersebut merupakan sebuah pengakuan jujur dari seorang begawan seni terhadap keberanian para koreografer dalam mendobrak pakem-pakem konvensional, memperluas batas eksplorasi tubuh, namun tetap mampu menjaga keintiman rasa yang lekat dengan akar kebudayaan masyarakat tempat mereka berpijak.

Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan DIY: Sebuah Manifesto Kebudayaan

Di luar gemerlapnya pertunjukan, malam itu juga ditandai oleh sebuah pidato kebudayaan yang kuat dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A. Pidatonya bukan sekadar sambutan formal ia adalah manifesto tentang bagaimana Yogyakarta memandang masa depan kebudayaannya.

Dian membuka sambutannya dengan mengingatkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta sejak dahulu bukan hanya dikenal sebagai pusat budaya, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi gagasan, perjumpaan, dan pencarian makna. Di tempat inilah tradisi tidak berdiri sebagai benda mati dalam sejarah, melainkan hidup, bergerak, dan berdialog dengan zaman.

Dian menekankan pentingnya lintas generasi bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai pertemuan. Ada pengalaman yang diwariskan oleh para maestro, ada keberanian eksplorasi yang dibawa generasi muda, dan ada semangat segar dari anak-anak muda kreatif yang terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam berkesenian.

Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini melahirkan karya-karya yang tidak hanya memukau secara kasat mata, tetapi juga mampu menyentuh kesadaran, membangun empati, dan memperkuat identitas kebudayaan di tengah arus globalisasi. Pidato Dian ditutup dengan sebuah kalimat yang menjadi semangat keseluruhan malam itu: “Sebab kebudayaan yang besar bukan budaya yang berhenti pada nostalgia, tetapi budaya yang mampu menyalakan masa depan tanpa kehilangan akar.”

Komitmen TBY: Ruang Terbuka untuk Regenerasi

Sebagai penutup rangkaian acara, Dian Lakshmi Pratiwi bersama Kepala TBY Purwiati menyerahkan buket mawar berdesain elegan kepada ketiga koreografer sebagai bentuk apresiasi tertinggi dan terima kasih negara atas karya maha agung yang dipersembahkan. Prosesi tersebut turut didampingi para narasumber ahli kebudayaan yang setia mengawal jalannya laboratorium kreatif TBY selama ini: Anter Asmoro Tedjo, Bimo Wiwohatmo, dan Setiastuti.

TBY, melalui program berkala seperti ini, menegaskan kembali peran strategisnya di garis depan. Ia bukan hanya sebuah gedung pertunjukan atau wadah statis, melainkan laboratorium hidup tempat gagasan, tradisi, dan masa depan seni bertemu, bergolak, bersentuhan, hingga akhirnya lahir menjadi karya baru yang bernyawa.

Tubuh yang Berbicara, Generasi yang Berlanjut

Di atas panggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta malam itu, tubuh tidak lagi dipandang sekadar sebagai tumpukan daging dan tulang yang bergerak tanpa arah. Tubuh telah menjelma menjadi sebuah teks kebudayaan yang berbicara dengan sangat lantang. Ia mengingat sejarah masa lalunya yang agung, merekam kegelisahan realitas hari ini, dan dengan penuh keberanian memproyeksikan harapan masa depan peradaban manusia melintasi batas generasi.

Galih Puspita mengajak kita menyusuri lorong-lorong perjuangan seorang nenek buyut yang tangguh. Besar Widodo mempersilahkan kita duduk bersama perempuan-perempuan yang telah melampaui separuh usia, merasakan ritme tubuh mereka yang penuh keanggunan dan kepasrahan yang tulus. Dan Eka Lutfi membawa kita kembali ke awal mula eksistensi—ke keheningan rahim, ke kesucian kehidupan dan harapan yang belum tergores oleh waktu.

Ketiga karya agung malam itu, dalam kesatuannya yang utuh, telah memberikan sebuah jawaban yang sangat telak, benderang, dan tidak terbantahkan atas pertanyaan eksistensial yang selalu menghantui jagat kebudayaan kita: Apakah tradisi lokal masih memiliki ruang relevansi yang nyata di tengah laju dunia modern yang bergerak melesat cepat?

Malam 20 Mei 2026 di TBY menjawab dengan pembuktian visual yang megah: Ya. Justru karena dunia luar berubah dengan begitu cepat dan acapkali mencerabut kemanusiaan kita, tradisi lokal semakin mutlak dibutuhkan oleh manusia modern. Tradisi hadir bukan sebagai belenggu masa lalu yang merantai kebebasan berpikir, melainkan ia bertindak sebagai akar tunggang yang menjaga kekokohan jiwa dari badai globalisasi, sebagai cermin jernih untuk mematut nurani, serta sebagai kompas spiritual yang menunjukkan arah ke mana peradaban ini harus melangkah tanpa kehilangan arah pulang.

Sebab kebudayaan yang besar tidak pernah sudi berhenti sekadar menjadi nostalgia tua yang berdebu. Kebudayaan yang besar adalah budaya yang mampu menyalakan terang lentera masa depan, tanpa sedikit pun mencerabut akar historis dari bumi mulia tempat ia dilahirkan. (dwi a)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta