by ifid|| 03 Juni 2026 || 464 kali
Menatap Nilai Luhur Bangsa sebagai Jangkar Moral dan Instrumen Diplomasi Global di Bumi Mataram- Di Lapangan Monumen Pahlawan Pancasila, Kentungan, Sleman, sebuah momentum bersejarah kembali ditegaskan. Senin, 1 Juni 2026, bukan sekadar tanggal merah dalam kalender nasional, melainkan hari di mana ingatan kolektif bangsa disegarkan kembali mengenai arti penting sebuah ideologi pemersatu.
Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kali ini hadir dengan resonansi yang lebih luas, membawa pesan mendalam yang melintasi batas-batas teritorial Nusantara melalui tema sentral: 'Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia'.
Hadir di tengah-tengah upacara yang berlangsung khidmat tersebut, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menyaksikan bagaimana nilai-nilai yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa delapan dekade silam kembali disuarakan dengan lantang. Peringatan tahun ini terasa begitu kontekstual, mengingat dunia hari ini tengah didera berbagai krisis geopolitik, perpecahan regional, dan ancaman disintegrasi global. Dari Yogyakarta, kota yang kerap dijuluki sebagai miniatur Indonesia karena keberagamannya, sebuah manifesto perdamaian dunia dideklarasikan berdasarkan falsafah luhur bangsa.
Amanat luhur tersebut disampaikan secara komprehensif oleh Inspektur Upacara, Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono. Saat membacakan sambutan tertulis dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, ia menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen historis yang statis, melainkan sebuah instrumen dinamis yang mampu menjawab tantangan zaman, baik di tingkat domestik maupun internasional. Nilai-nilai luhur Pancasila dinilai menjadi jawaban konkret atas kerinduan umat manusia akan terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
"Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik," ungkap Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono dengan penuh penekanan, meneruskan pesan Kepala BPIP di hadapan ratusan peserta upacara.
Pernyataan tegas tersebut menggarisbawahi posisi geopolitik Indonesia yang strategis. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia di bawah payung ideologi Pancasila berkomitmen untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif dalam konstelasi politik global yang kerap kali memanas. Sesuai dengan amanat konstitusional yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bangsa ini memikul tanggung jawab moral untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Kepemimpinan nyata Indonesia di kancah global bukanlah sebuah klaim tanpa bukti. Sejarah mencatat, dan realitas hari ini mengonfirmasi, bagaimana prinsip-prinsip Pancasila ditransformasikan menjadi aksi nyata dalam hubungan internasional. Eksistensi Kontingen Garuda sebagai pasukan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan bukti konkret betapa darah diplomasi Indonesia adalah darah perdamaian. Indonesia secara konsisten mengirimkan putra-putri terbaiknya ke berbagai wilayah konflik di belahan dunia, membawa misi kemanusiaan yang berakar pada Sila Kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Lebih jauh lagi, peran aktif Indonesia sebagai mediator dalam konflik-konflik regional, baik di kawasan Asia Tenggara maupun di belahan dunia lainnya, mencerminkan kekuatan diplomasi yang berbasis pada dialog, musyawarah, dan mufakat. Ketika dunia luar kerap memaksakan kehendak melalui kekuatan militer atau sanksi ekonomi sepihak, Indonesia justru menawarkan pendekatan kultural yang inklusif. Pendekatan ini meletakkan semua pihak dalam kesetaraan, sebuah metode yang bersumber langsung dari sila keempat Pancasila, yang mengutamakan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan.
"Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera PBB, peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia."
Di era modern yang ditandai oleh arus disrupsi teknologi yang masif dan dinamika geopolitik yang tidak menentu, ketangguhan Pancasila kembali diuji. Jalannya upacara yang dikomandani oleh Mayor Inf Rajiko ini seolah mengukuhkan kembali posisi Pancasila sebagai 'bintang penuntun' (leitstar) bagi perjalanan bangsa. Ketika banyak negara di dunia mengalami fragmentasi sosial akibat polarisasi politik dan perbedaan etnis, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar persatuan.
Menyatukan lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, serta beragam bahasa dan agama bukanlah perkara mudah. Namun, Pancasila telah membuktikan kapasitasnya sebagai pengikat emosional dan rasional yang kuat. Di tengah badai globalisasi yang membawa serta ideologi-ideologi alternatif yang individualistik maupun ekstrem, Pancasila bertindak sebagai 'jangkar moral' yang menjaga agar kapal besar Republik Indonesia tidak terombang-ambing atau karam dalam turbulensi global.
Pidato yang dibacakan Danrem 072/Pamungkas juga memberikan peringatan keras mengenai arah pembangunan bangsa ke depan. Kemajuan ekonomi dan penguasaan teknologi yang diadopsi oleh Indonesia tidak boleh dilepaskan dari akar nilai moralitas luhur. Tanpa adanya arah moral yang jelas, kemajuan materiil hanya akan melahirkan masyarakat yang pragmatis, individualis, dan kehilangan empati sosial. Oleh karena itu, investasi pada pembangunan karakter bangsa berbasis Pancasila menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Panggilan khusus pun ditujukan kepada generasi muda Indonesia, yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan bangsa. Generasi muda diharapkan tidak terjebak dalam romantisme sejarah belaka, melainkan mampu membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan perdamaian, serta menjadi agen persatuan di ruang digital maupun nyata.
"Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan. Karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup. Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah."
Upacara yang berlangsung di monumen bersejarah Kentungan ini dihadiri pula oleh jajaran tokoh penting DIY, di antaranya Ketua DPRD DIY Nuryadi, Asisten Bidang Administrasi Umum Setda DIY Srie Nurkyatsiwi, perwakilan dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemda DIY, serta para tamu undangan. Kehadiran berbagai elemen masyarakat mulai dari perwakilan siswa, mahasiswa, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga jajaran personel TNI dan Polri menunjukkan kesatuan tekad lintas generasi dan instansi untuk terus mengawal tegaknya Pancasila.
Nuansa peringatan Hari Lahir Pancasila kali ini semakin kaya dan menyentuh hati berkat kontribusi impresif dari Dinas Kebudayaan DIY. Melalui sebuah presentasi seni yang megah, mereka menampilkan sebuah tarian teatrikal kontemporer yang sarat akan makna mendalam berjudul 'BANGKIT BERSAMA GARUDA'. Pertunjukan seni ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah refleksi filosofis mengenai perjalanan batin spiritual bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai cobaan, yang disatukan oleh spirit gotong royong.
Melalui tarian 'Bangkit Bersama Garuda', Dinas Kebudayaan DIY berhasil menyampaikan pesan kuat bahwa Pancasila bukan sekadar teori politik, melainkan sebuah daya hidup (lifeforce) yang bersemayam di dalam relung jiwa setiap manusia Indonesia. Ketika bencana, krisis, maupun tantangan global datang menerpa, nilai gotong royong dan kemanusiaan dalam Pancasila secara otomatis aktif menjadi "bahan bakar sosial" untuk memulihkan keadaan.
Selesainya rangkaian upacara dan pementasan seni di Lapangan Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan ini meninggalkan perenungan mendalam bagi seluruh hadirin. Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan segala kekayaan budaya dan kearifan lokalnya, kembali membuktikan komitmennya untuk terus menjadi benteng pertahanan ideologi bangsa. Dari tanah Mataram, pesan perdamaian dan persatuan itu digaungkan ke seluruh penjuru Nusantara, dan melangkah mantap menjadi fondasi bagi terciptanya ketertiban di kancah dunia.( Isti Nur R)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...