by ifid|| 08 Juni 2026 || 497 kali
YOGYAKARTA — Selasar Jalan Malioboro sore itu menjelma menjadi panggung kebudayaan raksasa yang sarat akan makna filosofis. Ribuan pasang mata, baik warga lokal maupun wisatawan mancanegara, memadati pedestrian ikonik Yogyakarta pada Sabtu, 6 Juni 2026. Di bawah langit kota yang beranjak temaram, gemuruh sorak-sorai bercampur dengan alunan magis musik tradisional mengiringi langkah para peserta Kirab Budaya Festival Tresna Pancasila. Sebuah perhelatan agung yang diselenggarakan tidak sekadar sebagai tontonan visual, melainkan sebuah tuntunan kebangsaan dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno 2026.
Melalui kirab ini, atmosfer Yogyakarta kian kental dengan desau semangat nasionalisme. Angin sore membawa pesan persatuan yang kuat seiring bergeraknya barisan demi barisan yang menyusuri poros imajiner menuju kawasan samping Taman Pintar Yogyakarta. Festival ini berhasil menyatukan keindahan seni koreografi modern dengan nilai-nilai luhur Pancasila, membuktikan bahwa dasar negara Indonesia tidak pernah usang dan justru kian bersinar terang di tangan generasi masa kini.
Tepat pukul 14.30 WIB, jalannya kirab resmi dibuka. Menjadi garda terdepan penanda dimulainya iring-iringan, Barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Daerah Istimewa Yogyakarta melangkah dengan tegap dan penuh wibawa. Kehadiran para pemuda terpilih ini seolah menjadi simbol hidup dari estafet kepemimpinan bangsa. Di pundak merekalah, nilai-nilai patriotisme dan karakter kepahlawanan dititipkan agar tetap kokoh di tengah terpaan arus zaman. Penonton yang berdiri di tepi jalan memberikan tepuk tangan riuh, mengapresiasi kerapian formasi yang disuguhkan.
Tepat di belakang barisan Paskibraka, atmosfer berganti rupa menjadi begitu magis dan sakral. Pasukan bregada tradisional berjalan dengan gagah berani, menyajikan langkah-langkah ritmis yang diiringi oleh alunan gamelan khas prajurit Keraton Yogyakarta. Irama musik tradisional yang keluar dari tabuhan kenong, gong, dan kendang tradisional tersebut menghadirkan nuansa budaya Jawa yang sangat kental. Kombinasi instrumen militer tradisional ke-Mataram-an ini tidak hanya memikat perhatian para penonton asing, tetapi juga membangkitkan memori kolektif masyarakat lokal akan kejayaan sejarah perjuangan masa lalu yang berakar kuat di tanah Yogyakarta.
Secara konseptual, Kirab Budaya Tresna Pancasila 2026 mengusung tema besar yang diambil dari bahasa Sanskerta, yakni "Nitya Baswara", yang berarti selamanya bersinar. Makna mendalam di balik tema ini adalah sebuah doa sekaligus tekad bersama agar Pancasila senantiasa dijaga sebagai dasar negara, diemban sebagai pedoman hidup, serta dilaksanakan dalam tindakan nyata. Dengan demikian, Pancasila akan tetap bersinar selamanya, memayungi seluruh tumpah darah Indonesia meskipun berdiri di atas fondasi perbedaan suku, budaya, agama, dan kekayaan alam yang luar biasa beragam. Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi sekadar semboyan, melainkan realitas yang dirayakan.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang didominasi oleh iring-iringan konvensional, pada tahun 2026 ini panitia mengemas kirab dalam bentuk karnaval yang dikoreografikan secara matang (moving choreography). Kolaborasi antara kemegahan kostum karnaval dengan keindahan gerak tari yang dinamis di sepanjang jalan membuat kirab ini menjadi ajang presentasi seni publik yang luar biasa interaktif. Tema "Nitya Baswara" tersebut kemudian dipecah ke dalam tiga subtema utama yang dipresentasikan secara apik oleh para peserta:
Karnaval ini diikuti oleh 15 kelompok peserta pilihan, di mana masing-masing kelompok berkekuatan 20 orang anggota yang solid. Manajemen barisan diatur secara detail dan ketat untuk memastikan kualitas performa tetap terjaga di sepanjang jalur kirab. Setiap kelompok membagi anggotanya ke dalam tiga struktur peran: 4 orang mengenakan kostum utama yang megah dan menjulang tinggi, 10 orang mengenakan kostum pengiring yang mendukung tema utama, serta 6 orang bertindak sebagai kostum pelengkap sekaligus kru musik pengiring. Untuk menjaga estetika visual, unit pemutar musik atau instrumen yang dibawa oleh setiap tim wajib dihias secara artistik agar menyatu dengan tema kostum yang dibawakan.
Setiap tim unjuk gigi menampilkan koreografi terbaik mereka di tiga titik performa utama dengan ketentuan sebagai berikut:
Salah satu penanda penting tingginya komitmen pemerintah daerah dalam mendukung acara ini adalah partisipasi aktif dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kirab tahun ini, Kundha Kabudayan DIY mempersembahkan sebuah mahakarya seni tari pertunjukan jalanan yang diberi judul "Sengsem Memetri Kagunan Rasa". Tarian ini memukau ribuan pasang mata dengan kelembutan gerak tradisional yang dipadukan dengan dinamisme penataan pola lantai yang ekspresif.
Secara harfiah, "Sengsem Memetri Kagunan Rasa" mengandung makna filosofis tentang rasa ketertarikan yang mendalam (sengsem) untuk merawat, menjaga, dan melestarikan (memetri) keindahan serta kearifan estetika seni yang bersumber dari ketajaman rasa manusia. Penampilan ini menjadi salah satu daya tarik utama yang memperkaya dimensi artistik Kirab Budaya Tresna Pancasila, membuktikan bahwa birokrasi kebudayaan di Yogyakarta mampu melahirkan karya-karya seni publik yang bermutu tinggi dan komunikatif bagi masyarakat luas.
Di antara puluhan penjiwaan karakter yang tampil, salah satu momentum yang paling menyita perhatian dan menghadirkan rasa haru adalah kemunculan sosok Bung Karno yang ditampilkan dalam barisan kirab. Tokoh yang diperankan oleh seorang aktor lokal tersebut mengenakan pakaian putih khas kepresidenan lengkap dengan peci hitam dan kacamata gelap, merepresentasikan penampilan ikonik Presiden pertama Republik Indonesia. Sepanjang rute perjalanan, sosok 'Bung Karno' ini tampak tersenyum hangat dan melambaikan tangan kepada masyarakat luas. Kehadirannya secara instan membangkitkan memori historis masyarakat akan perjuangan berat Sang Proklamator dalam merumuskan Pancasila, sekaligus menegaskan kembali makna mendalam dari Bulan Bung Karno yang diperingati setiap bulan Juni.
Selain berhasil menguatkan semangat kebangsaan dan membakar jiwa nasionalisme, penyelenggaraan Kirab Budaya Tresna Pancasila 2026 ini terbukti mampu memberikan stimulus positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi rakyat jelata. Ribuan pengunjung yang memadati kawasan Malioboro membawa berkah ekonomi yang luar biasa bagi para pelaku usaha kecil di kawasan tersebut. Mulai dari pedagang kaki lima (PKL), kusir andong, pengayuh becak, asongan, hingga sektor jasa perhotelan dan kuliner di sekitar pusat kota merasakan langsung lonjakan pendapatan yang signifikan akibat perputaran uang selama acara berlangsung.
Menutup kemeriahan acara, Eko Suwanto menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak muda, Dimas Diajeng Jogja, Paskibraka, tim drumband, serta seluruh komunitas seni yang terlibat langsung.
"Matur nuwun atas sambutan meriah dari masyarakat dan wisatawan. Insya Allah, kegiatan ini akan kembali digelar tahun depan dengan persiapan yang jauh lebih matang lagi, menjadi agenda tahunan yang menyenangkan sekaligus pilar utama pendukung pariwisata Yogyakarta yang berkarakter Pancasila," pungkas Eko dengan penuh optimisme. Melalui kirab ini, Pancasila tidak lagi berjarak dengan rakyat; ia hidup, menari, dan selamanya bersinar di sepanjang Jalan Malioboro.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...