by ifid|| 08 Juni 2026 || 479 kali
KULON PROGO — Pagi itu, semilir angin di Taman Jamu Naturindo, Sendangsari, Kulon Progo, membawa serta aroma khas yang begitu akrab di hidung masyarakat Nusantara. Perpaduan wangi rimpang, pekatnya cengkeh, dan segarnya dedaunan seolah menyatu dengan sejuknya udara perbukitan Menoreh pada Kamis, 7 Mei 2026. Di tempat yang asri ini, sebuah perayaan atas warisan leluhur digelar dengan khidmat dan semarak: Peringatan Hari Jamu Nasional 2026.
Mengusung tema besar "Jamu Jogja Istimewa — Jamu Indonesia Mendunia", momentum ini bukan sekadar seremoni kalender tahunan. Ini adalah manifestasi dari denyut nadi kebudayaan yang terus hidup, bernapas, dan menyatu dalam keseharian masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di atas panggung yang dihiasi elemen kultural yang kental, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., tampil anggun. Kehadirannya hari itu membawa amanat penting, membacakan sambutan resmi dari Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X.
Dalam balutan busana bernuansa wastra Nusantara, suara Dian mengalun tegas nan teduh, menembus rimbunnya pepohonan Sendangsari, menyapa para hadirin yang terdiri dari Ketua Dewan Jamu Indonesia Wilayah DIY Prof. Dr. Nyoman Kertia, jajaran PT Naturindo Fresh, para peracik jamu, akademisi, hingga anak-anak pewaris masa depan.
"Jamu bukan sekadar minuman tradisional. Jamu adalah pengetahuan hidup. Di dalamnya tersimpan hubungan yang akrab antara manusia, alam, dan kebudayaan," ucap Dian Lakshmi Pratiwi, menggemakan pesan Sri Paduka Paku Alam X.
Pesan tersebut menjadi fondasi filosofis dari seluruh rangkaian acara. Setiap tetes jamu yang diracik dari rimpang, daun, akar, dan rempah, sesungguhnya membawa jejak panjang kearifan masyarakat Nusantara. Ini adalah cara leluhur kita mengajarkan keseimbangan—menyelaraskan makrokosmos (alam semesta) dengan mikrokosmos (tubuh manusia).
Dunia saat ini bergerak dalam ritme yang serba cepat. Namun, di tengah modernisasi yang berlari kencang, narasi yang dibawakan oleh Kundha Kabudayan DIY mengingatkan kita untuk sejenak merenung.
Tahun 2023 menjadi tonggak sejarah yang tak terbantahkan, ketika UNESCO secara resmi menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage). Sebagaimana ditegaskan dalam sambutan Wakil Gubernur, pengakuan ini membuktikan bahwa jamu memiliki nilai universal yang melampaui batas geografis.
Dunia sedang mencari kembali cara hidup yang lebih selaras. Konsep penyembuhan masa kini tidak lagi sekadar mengobati saat sakit, tetapi bergeser pada upaya preventif—merawat tubuh sebelum rapuh. Di sinilah letak superioritas jamu. Jamu tidak menjanjikan kesembuhan instan, melainkan menawarkan harmoni dan keseimbangan yang berkelanjutan.
Sebagai orang Jogja, kebanggaan terhadap jamu memiliki akar historis yang sangat dalam. Tradisi jamu di DIY bukanlah artefak mati yang hanya bisa dilihat di museum. Ia adalah budaya yang denyutnya bisa dirasakan di pasar-pasar tradisional, di sudut-sudut keraton, hingga di kedai-kedai modern.
Sambutan Wakil Gubernur secara khusus memberikan penekanan pada satu monumen hidup dalam sejarah jamu di Yogyakarta: Jamu Ginggang.
Keberadaan Jamu Ginggang yang lekat dengan kawasan Kadipaten Pakualaman adalah bukti empiris bagaimana sebuah resep, rasa, ketekunan, dan—yang paling utama—kepercayaan masyarakat, dapat bertahan melintasi berbagai pergantian zaman. Kisah ini mengajarkan bahwa jamu hidup dan dihidupi oleh masyarakatnya. Ia diwariskan bukan melalui paksaan, melainkan melalui kebiasaan dan cinta dari generasi ke generasi.
Kemeriahan Festival Hari Jamu Nasional di Taman Jamu Naturindo ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya membutuhkan sinergi komprehensif. Rangkaian acara yang bergulir sukses memadukan unsur edukasi, ekonomi, dan hiburan kultural.
Tarian tradisional yang enerjik membuka acara dengan penuh semangat. Sementara itu, di sudut lain, anak-anak dengan antusias mengikuti lomba menggambar, menorehkan imajinasi mereka tentang kekayaan alam Indonesia. Keterlibatan generasi muda ini sangat krusial. Seperti yang terlihat saat penyerahan piala dan penghargaan, senyum anak-anak yang memegang piala tersebut adalah representasi dari pewaris sah kebudayaan bangsa.
Selain itu, festival ini menjadi ruang temu (melting pot) bagi seluruh stakeholder. Momen minum jamu bersama bukan sekadar gimmick seremonial, melainkan simbol persatuan. Pemerintah, akademisi (khususnya Dewan Jamu DIY), pelaku industri, peracik tradisional, hingga masyarakat umum, duduk bersama, merayakan anugerah alam yang sama.
Ruang tumbuh bagi warisan leluhur ini kini semakin luas. Jamu telah bertransformasi; ia hadir dalam tradisi keluarga, menjadi tumpuan praktik usaha kecil (UMKM), daya tarik wisata kesehatan (wellness tourism), hingga menjelma menjadi peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan.
Namun, mengutip visi tajam dari Wagub Paku Alam X, kebanggaan terhadap warisan masa lalu harus disertai dengan keberanian untuk memperkuat masa depan.
Agar Jamu Jogja Istimewa ini benar-benar mampu Mendunia, pengembangan harus dilakukan secara holistik:
Penjagaan Nilai Budaya: Memastikan akar filosofis tidak hilang ditelan komersialisasi.
Peningkatan Mutu dan Standar Keamanan: Memastikan setiap produk jamu aman dikonsumsi dan higienis.
Riset Ilmiah: Membangun fondasi sains untuk membuktikan khasiat jamu secara klinis.
Inovasi Kemasan dan Literasi Konsumen: Menjadikan jamu relevan bagi gaya hidup modern.
Acara Puncak Hari Jamu Nasional 2026 di Sendangsari hari itu ditutup dengan sebuah optimisme yang membumbung tinggi di langit Kulon Progo. Dian Lakshmi Pratiwi, mewakili Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, menutup narasinya dengan sebuah afirmasi kuat yang menggetarkan.
Dengan cara pandang yang visioner, tradisi tidak akan berhenti sekadar menjadi kenangan romantis atau catatan sejarah di masa lampau. Jamu akan terus bergerak, bertransformasi menjadi kekuatan yang relevan, bermartabat, dan memiliki daya saing di tingkat global.
Peringatan Hari Jamu Nasional ini adalah sebuah panggilan, sebuah gerakan bersama. Gerakan untuk menyehatkan masyarakat, menguatkan urat nadi ekonomi rakyat, dan pada akhirnya, membawa mahakarya budaya Indonesia tegak berdiri di panggung dunia.
Salam Budaya, Lestari Budayaku.
Lestari terus Jamuku.
*** (Naskah feature ini dirancang untuk dicetak dalam format laporan buletin/majalah budaya formal sebanyak 6 halaman folio dengan penyertaan ruang untuk tata letak foto jurnalistik resolusi tinggi dari lokasi acara).
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...