by ifid|| 10 Juni 2026 || 478 kali
YOGYAKARTA — Selasar Gedung Societeit Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Selasa pagi, 9 Juni 2026, tidak sekadar menjadi saksi bisu dari sebuah seremoni tahunan. Di bawah naungan langit Yogyakarta yang teduh, ruang tersebut bertransformasi menjadi sebuah saujana tempat bertemunya memori kolektif, rasa syukur yang mendalam, serta peneguhan komitmen kebudayaan. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar perayaan Hari Jadi ke-29 dengan suasana yang sarat akan nilai kekeluargaan, sebuah momentum yang secara harmonis dirangkaikan dengan Peringatan Peristiwa Bersejarah Jogja Kembali.
Bagi masyarakat Yogyakarta, kebudayaan bukanlah seonggok benda mati yang dipajang di etalase museum, melainkan hembusan napas kehidupan yang terus mengalir dalam denyut nadi sehari-hari. Perayaan kali ini menjadi begitu krusial karena tidak hanya melibatkan struktur internal dinas, melainkan turut menyatukan keluarga besar dari berbagai pilar kebudayaan di bawah naungan Pemda DIY, mulai dari para pegawai Museum Negeri Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, hingga Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi. Mereka berkumpul, meluruhkan sekat-sekat birokrasi, demi merayakan sebuah trah identitas yang telah melintasi rentang waktu hampir tiga dekade.
Suasana semarak dan penuh kehangatan sudah mulai terasa sejak pukul 08.00 WIB. Alunan musik dinamis dan progresif yang dibawakan oleh kelompok Extravagongso sukses memukau ratusan hadirin yang mulai memadati gedung drama legendaris tersebut. Harmonisasi nada yang mereka suguhkan seolah menjadi metafora sempurna bagi perjalanan Kundha Kabudayan DIY: berakar kuat pada tradisi, namun tetap lincah merespons perkembangan zaman. Sesaat setelah gemuruh tepuk tangan mereda, Master of Ceremony (MC) dengan khidmat membuka jalannya perayaan, mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala sejenak dalam doa bersama, memohon restu agar langkah kebudayaan Yogyakarta selalu mendapat keberkahan dan keteguhan.
Akar Sejarah dan Komitmen Keistimewaan
Sebuah bangsa atau institusi yang besar tidak akan pernah melupakan titik mula tempat kakinya pertama kali menapak. Momentum Hari Jadi ini sejatinya merupakan sebuah tonggak pengikat komitmen bagi seluruh jajaran aparatur sipil dalam mengemban amanah keistimewaan DIY. Melalui proses penelaahan yang mendalam, objektif, dan berbasis pada kajian regulasi serta implementasi kebijakan masa lalu, perayaan tahun ini menegaskan kembali sejarah otentik mengenai disepakatinya tanggal 5 Juni 1997 sebagai hari lahir resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., dalam sambutannya yang memikat, mengulas secara jernih bagaimana instansi yang dipimpinnya kini berdiri tegak di atas fondasi yang dibangun oleh para pendahulu. Kajian historis terhadap regulasi lokal menjadi dasar kuat pemilihan tanggal tersebut, sehingga perayaan ini tidak sekadar didasarkan pada euforia tanpa akar, melainkan memiliki legitimasi hukum dan kesejarahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
"Kami bersepakat untuk memilih tanggal 5 Juni tahun 1997 sebagai hari lahir Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peringatan tahun ini sengaja kami kemas dalam konsep kekeluargaan yang sarat nilai penghormatan kepada para perintis lembaga (founding fathers). Bagi kami, prinsip mikul dhuwur mendhem jero itu menjadi bagian yang sangat penting." Dian Lakshmi Pratiwi.
Filosofi Jawa mikul dhuwur mendhem jero yang diangkat oleh Dian Lakshmi Pratiwi menjabarkan sebuah kewajiban moral bagi generasi penerus untuk menjunjung tinggi kebaikan, jasa, dan prestasi para pendahulu, sembari mengevaluasi segala kekurangan masa lalu dengan bijaksana. Secara khusus, ia menyampaikan rasa takzim dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mantan pimpinan serta tokoh perintis kebudayaan yang bersedia hadir di tengah-tengah acara. Bagi Dian, apa yang dinikmati oleh jajaran Dinas Kebudayaan saat ini merupakan hasil dari "trah DNA" perjuangan para senior. Di akhir orasinya, ia menegaskan bahwa transparansi, akuntabilitas publik, kerendahan hati, serta keterbukaan terhadap kritik konstruktif akan tetap menjadi modal utama dalam menyempurnakan khidmah kebudayaan di tanah Mataram.
Kilas Balik Pejuang Kebudayaan: Menembus Batas Zaman
Perayaan ini menjelma menjadi ruang nostalgia yang berharga ketika Ir. Condroyono, mantan Kepala Dinas Kebudayaan DIY periode 2006–2008, naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan Purna Tugas. Dengan gaya bertutur yang tenang namun penuh wibawa, beliau mengajak hadirin melintasi lorong waktu, mengenang masa-masa awal ketika posisi kebudayaan belum mendapatkan tempat strategis dalam struktur birokrasi pemerintahan daerah seperti sekarang ini.
Condroyono mengisahkan bahwa pada masa awal perkembangannya, kebudayaan hanyalah sebuah urusan yang bernaung sebagai salah satu sub-bidang di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Posisi kelembagaan yang terbatas tersebut sering kali membuat ruang gerak para pelaku dan pemikir budaya menjadi sempit. Padahal, secara de facto, sejak dahulu kala Yogyakarta telah dengan gagah "ngerek bendera" alias menasbihkan dirinya di kancah nasional maupun internasional sebagai pusat pendidikan, ibu kota kebudayaan, dan daerah tujuan utama wisata Indonesia. Ketimpangan antara potensi kultural yang masif dan keterbatasan struktur kelembagaan itulah yang menjadi tantangan terbesar para perintis kala itu.
"Kalau bagi saya, momen ini bukan sekadar mengingat tanggal, tapi mengingatkan kita semua bahwa kita harus bagaimana menghadapi kebudayaan ini. Kebudayaan bukanlah urusan peninggalan masa lalu atau sekadar pentas seni belaka. Jaringan kebudayaan itu tidak ada batasnya. Apa saja bisa menjadi kebudayaan."Ir. Condroyono
Beliau menambahkan bahwa dengan perubahan zaman yang begitu cepat, kebudayaan dituntut untuk bersikap adaptif. Zaman senantiasa berubah, dan kebudayaan harus mengalami transformasi serta perkembangan agar tidak usang. Namun, Condroyono memberikan catatan normatif yang sangat mendasar: sekaya apa pun perkembangan dan modernisasi budaya yang diadopsi, jangan sampai kebudayaan Yogyakarta tercabut dari akar historisnya. Ia menyampaikan harapan besar agar dengan adanya dukungan fasilitas birokrasi yang mapan serta alokasi anggaran yang jauh lebih besar pada era Keistimewaan saat ini, Kundha Kabudayan DIY ke depan mampu bergerak lebih leluasa, taktis, dan berdampak nyata.
Menjaga Pakem dan Mengoptimalkan Khidmah Publik
Estafet pemikiran mengenai arah masa depan kebudayaan Yogyakarta dilanjutkan oleh pandangan dari Drs. GBPH Yudhaningrat, M.M., sosok budayawan sekaligus birokrat yang pernah menakhodai Dinas Kebudayaan DIY pada periode tahun 2010–2014. Pria yang akrab disapa Gusti Yudha ini memandang hari jadi instansi sebagai sebuah jembatan emas yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Menurutnya, esensi dari sebuah perayaan hari lahir adalah kemampuan mengevaluasi pengelolaan masa lalu demi mempersiapkan strategi pengelolaan masa depan yang jauh lebih kokoh.
Gusti Yudha menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal yang bersifat pakem. Dalam kosmos budaya Jawa, pakem adalah sebuah standar nilai, norma, dan struktur baku yang menjadi inti dari keaslian warisan leluhur. Di tengah gempuran arus globalisasi, fungsi Kundha Kabudayan sebagai benteng pelestari nilai-nilai baku tersebut tidak boleh goyah. Namun, beliau juga menggarisbawahi bahwa menjaga kelestarian tradisi harus beriringan dengan peningkatan mutu manajemen kelembagaan.
"Hari ini adalah suatu hari yang istimewa bagi Dinas Kebudayaan untuk melihat masa depan dan juga membangkitkan semangat untuk pengelolaan kebudayaan. Kami berharap, pokoknya hal-hal yang sifatnya pakem ya harus tetap dibiarkan pakem." GBPH Yudhaningrat
Nada optimisme serupa juga digaungkan oleh Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan DIY periode 2018–2020. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas inisiatif dinas yang tetap merangkul dan melibatkan para purnatugas. Aris menaruh harapan besar agar di usianya yang ke-29, Kundha Kabudayan DIY terbukti semakin matang, prima, dan inklusif dalam melayani kepentingan masyarakat luas. Pengembangan kebudayaan harus dilakukan secara optimal, terukur, dan berdampak langsung pada penguatan karakter serta kesejahteraan sosial ekonomi warga Yogyakarta.
Panggung Kebersamaan: Meluruhkan Sekat Birokrasi
Setelah serangkaian sambutan reflektif yang menguras emosi dan pemikiran, suasana gedung seketika berubah menjadi hangat, cair, dan penuh dengan aura kebersamaan melalui berbagai sajian seni yang ditampilkan langsung oleh jajaran staf internal. Kemeriahan panggung dimulai dengan penampilan line dance yang memukau dari jajaran staf Dinas Kebudayaan DIY. Dengan gerakan yang kompak, penampilan ini seolah meruntuhkan kesan kaku birokrasi pemerintahan.
Tepuk tangan riuh penonton kembali pecah ketika komika Udin Amstrong mengambil alih panggung. Lewat aksi stand-up comedy yang cerdas dan jenaka, Udin berhasil mengocok perut para hadirin melalui banyolan-banyolan segar yang memotret dinamika dunia kerja di lingkungan dinas. Sajian estetis kemudian berlanjut melalui penampilan apik dari kelompok paduan suara internal Dinas Kebudayaan DIY, sebelum akhirnya panggung dikuasai oleh pementasan Teater Drama Tradisional persembahan dari staf dinas yang mengangkat lakon berjudul Kungkum. Lakon ini tidak sekadar menyajikan hiburan visual, melainkan sarat akan muatan filosofis spiritual tentang ritual pembersihan diri demi menjaga integritas khidmah budaya.
Keterikatan emosional antara masa lalu dan masa kini juga diperkuat oleh benang merah Peringatan Peristiwa Bersejarah Jogja Kembali yang diintegrasikan dalam acara ini. Kembali digelorakannya semangat peristiwa 1949 tersebut seolah mengingatkan kembali peran vital Yogyakarta sebagai Kota Republik dan benteng terakhir kedaulatan bangsa.
Menatap Masa Depan: Penyerahan Estafet Warisan Abadi
Sebagai puncak dari rasa syukur atas perjalanan panjang selama 29 tahun, prosesi pemotongan tumpeng digelar secara khidmat di atas panggung Utama Gedung Societeit. Potongan tumpeng pertama diserahkan oleh Kepala Dinas kepada perwakilan tokoh senior budayawan, sebuah simbolis penyerahan rasa hormat yang mendalam dari generasi masa kini kepada generasi perintis. Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut menjulang ke atas menjadi lambang persatuan dalam merawat peradaban.
Langkah demi langkah acara terus bergulir dengan lancar hingga tiba pada salah satu momen paling krusial: penyerahan estafet penyelenggaraan Hari Jadi Dinas Kebudayaan DIY untuk tahun 2027 yang kini resmi diserahkan kepada pihak Museum Negeri Sonobudoyo. Penyerahan estafet ini bukan sekadar urusan teknis kepanitiaan, melainkan sebuah simbol bergulirnya tanggung jawab pelestarian budaya yang harus dipikul secara gotong royong oleh seluruh unit pelaksana teknis di bawah Kundha Kabudayan.
Seluruh rangkaian acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah yang hangat. Melalui perpaduan yang harmonis antara momen refleksi sejarah yang mendalam dan selebrasi budaya yang meriah, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY telah meneguhkan kembali langkah strategisnya ke depan. Perayaan ke-29 ini terbukti telah menjelma menjadi sebuah mesin penggerak spiritual yang menyuntikkan semangat baru bagi para aparatur muda untuk terus konsisten menjaga, merawat, dan menghidupkan khazanah budaya adiluhung Yogyakarta agar tetap berdiri kokoh memancarkan cahayanya melintasi zaman.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...