by ifid|| 11 Juni 2026 || 26 kali
Di bawah rimbunnya laju modernisasi dan deru kehidupan masyarakat urban di perbatasan Yogyakarta, sejarah diam-diam tertidur pulas dalam pelukan tanah. Di Jalan Karangsari Wetan Gg. Mijil No.1, Padukuhan Pringgolayan, Kalurahan Banguntapan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, sebuah narasi masa lalu perlahan mulai disibak. Gumpalan tanah liat dan debu yang diangkat oleh para arkeolog tidak sekadar menampakkan susunan bata merah, melainkan membuka lembaran baru dari buku sejarah Mataram Islam yang belum selesai ditulis.
Inilah Situs Gedong Pusaka, sebuah nama yang sarat akan daya magis dan teka-teki. Selama sembilan hari, terhitung sejak 2 hingga 12 Juni 2026 lalu, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menerjunkan tim ahli untuk melakukan ekskavasi tahap pertama di lokasi ini. Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah misi luhur untuk mengidentifikasi keberadaan struktur bangunan, menyelamatkan artefak, serta merekam jejak aktivitas masa lalu yang masih tersimpan rapi di bawah permukaan tanah.
Tujuan akhirnya jelas: mengungkap tinggalan arkeologi, memperkuat data sejarah, melindungi cagar budaya, dan meletakkan dasar pijakan bagi penataan serta pemanfaatan situs sebagai ruang edukasi sekaligus pelestarian budaya yang berkesinambungan.
Ekskavasi tahap pertama ini diwarnai oleh semangat pembuktian. Di lokasi penggalian, tim arkeologi bekerja dengan ketelitian tingkat tinggi, membuka sebanyak 22 kotak galian. Fokus utama mereka pada tahap awal ini adalah menyusuri jejak struktur yang sudah mulai menampakkan diri, khususnya di area dinding bangunan.
Langkah para peneliti tidak dimulai dari ruang kosong. Mereka berbekal petunjuk dari masa kolonial. Salma Fitri Kusumastuti, Tenaga Ahli Ekskavasi yang juga tergabung dalam Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda DIY-Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa keberadaan awal situs ini terlacak dari dokumentasi lawas.
“Karena situs ini kan kita pertama kali tahu itu adalah denahnya dari peta zaman Belanda. Denah yang berbentuk persegi panjang itu di sebelah utara, selatan, barat, dan timur itu masih ada dinding-dinding," ujar Salma saat ditemui di sela-sela debu penggalian pada Kamis (11/06) lalu.
Penelusuran kotak demi kotak mulai membuahkan hasil. Tim berhasil mengidentifikasi bentuk fondasi bangunan yang terdiri dari lapisan bata merah kokoh. Yang menarik, struktur bata ini direkatkan dengan teknologi masa lalu yang menunjukkan kemajuan sipil pada zamannya. "Kami sudah mendapatkan (fondasinya), yaitu berupa lapisan bata yang juga ada perkuatan berupa lepo kami menyebutnya, atau kalau zaman sekarang itu semen,” tambah Salma menjelaskan.
Bagi orang awam, tumpukan bata berselimut lepo mungkin hanya tampak seperti sisa reruntuhan biasa. Namun bagi para arkeolog, itu adalah cetak biru (blueprint) yang menceritakan seberapa megah, seberapa kuat, dan seberapa penting bangunan ini di masa kejayaannya.
Setiap ekskavasi adalah dialog antara manusia modern dengan kebisuan masa lalu. Di Situs Gedong Pusaka, dialog itu menghasilkan penemuan yang memancing rasa penasaran lebih dalam. Selain menampakkan bagian fondasi dinding, tim ekskavasi menemukan indikasi kuat adanya akses masuk menuju bangunan utama.
Di sebelah barat, tim menemukan sebuah struktur yang diyakini sebagai tangga masuk utama. Tidak tanggung-tanggung, terdapat enam undakan tangga dari bawah ke atas, memberikan petunjuk bahwa bangunan ini kemungkinan memiliki elevasi atau dibangun di atas batur (ketinggian) tertentu yang menuntut pengunjungnya untuk melangkah naik. Sementara itu, di sebelah selatan, ditemukan pula sebuah pintu berukuran lebih kecil. Pintu ini diperkirakan berfungsi sebagai akses keluar atau pintu belakang, mengingat tidak ditemukannya undakan tangga seperti yang terlihat pada pintu barat.
Untuk memastikan temuan ini dicatat secara presisi, kerja ekskavasi dilakukan dengan metode ilmiah yang ketat. “Dalam ekskavasi ini kami dibantu oleh 4 orang koordinator kotak galian yang selama ekskavasi bertugas menulis dari kotak-kotak itu mendapatkan apa. Kemudian kami juga didampingi dengan juru ukur dan juru gambar, juga juru foto dari Balai Pelestarian Kebudayaan,” jelas Salma. Tim ini mendokumentasikan setiap inci kedalaman, menggambar struktur, dan memetakan letak temuan. Data-data mentah ini kelak akan diolah menjadi interpretasi akademis yang komprehensif.
Namun, arkeologi tidak selalu tentang apa yang ditemukan. Seringkali, apa yang tidak ditemukan justru melahirkan pertanyaan yang lebih besar. Pada penggalian di bagian tengah bangunan, tim berusaha mencari sisa-sisa lantai untuk memahami material dan fungsi ruang dalam. Penggalian dilakukan dengan hati-hati hingga mencapai kedalaman sekitar 3 meter. Hasilnya? Nihil. Tidak ditemukan sama sekali tanda-tanda adanya lantai bangunan di titik tersebut. Apakah lantai tersebut telah lama hancur, terbuat dari material organik yang telah melapuk, ataukah bangunan ini dulunya merupakan ruang terbuka di bagian tengahnya? Pertanyaan ini masih menggantung di udara.
Hal ini diperparah dengan minimnya temuan artefak. Jika dibandingkan dengan ekskavasi di situs-situs bekas keraton Mataram lainnya, seperti Situs Pleret atau Kerta yang begitu kaya akan serpihan keramik asing maupun gerabah lokal, Situs Gedong Pusaka tergolong 'sunyi'. Tim hanya menemukan sejumlah kecil fragmen gerabah dan sebuah tapal kuda. Menariknya, semua benda tersebut ditemukan pada lapisan urukan tanah, bukan pada konteks lantai aktivitas, yang berarti benda-benda tersebut kemungkinan besar terbawa bersama tanah timbunan di masa setelahnya, bukan barang yang sengaja ditinggalkan oleh penghuni aslinya.
Keheningan artefak membuat para peneliti harus memutar otak dan beralih pada analisis gaya arsitektur bangunan. Aditya Revianur, Tenaga Ahli Ekskavasi sekaligus Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, mengambil pendekatan komparatif untuk membaca usia dan asal-usul situs ini.
Aditya menegaskan bahwa ekskavasi tahap pertama ini memang sengaja difokuskan untuk menampakkan struktur batas bangunan dan aksesibilitasnya. "Seperti yang di bagian barat, itu kan temboknya sudah banyak hilang, tetapi struktur rollag-nya kan masih ada, fondasinya. Nah, kita ingin menampakkan itu. Dari situ kan nanti dapat diketahui fondasinya apakah sama semua atau ternyata beda," papar Aditya.
Dari penampakan struktur fondasi, susunan rollag (susunan bata yang dipasang miring atau berdiri untuk menahan beban di atasnya), serta bentuk tangga dan pintu masuk, Aditya menemukan sebuah benang merah yang mengarah pada satu periode penting dalam sejarah Yogyakarta.
“Kalau untuk perbandingan bangunannya, Situs Gedong Pusaka ini sebenarnya lebih mirip dengan yang ada di Warungboto," terang Aditya dengan antusias. Situs Warungboto (Pesanggrahan Rejawinangun) adalah salah satu mahakarya arsitektur air dan peristirahatan yang ikonik di Yogyakarta.
"Dari struktur tangganya, terus kemudian pintu masuknya juga itu memiliki kemiripan dengan yang ada di Warungboto. Termasuk juga, dengan susunan rollag-nya itu, fondasinya itu dia mirip. Dari perbandingan itu, bisa dilihat bahwa situs Gedong Pusaka ini kurang lebih dibangun waktu zaman Sri Sultan Hamengku Buwono II,” tegasnya.
Kesimpulan awal ini sangat masuk akal dalam konteks sejarah. Sri Sultan Hamengku Buwono II (bertahta 1792-1810, 1811-1812, dan 1826-1828) memang dikenal dalam sejarah sebagai "Sultan Pembangun". Pada masa pemerintahannya, keraton mendirikan banyak pesanggrahan megah yang dilengkapi taman, kolam, dan benteng pertahanan. Jika Gedong Pusaka memang berasal dari era ini, maka ia adalah kepingan puzzle penting dari konstelasi tata ruang Yogyakarta abad ke-18 dan 19.
Nama adalah doa, tetapi dalam arkeologi, nama dari masyarakat (toponimi) bisa jadi adalah petunjuk sekaligus bias. Masyarakat setempat secara turun-temurun menyebut lokasi ini sebagai "Situs Gedong Pusaka". Logika awam langsung mengaitkannya dengan tempat penyimpanan benda-benda pusaka keraton yang sakti mandraguna. Namun, apakah sains sepakat dengan ingatan kolektif ini?
Dengan sikap berimbang layaknya seorang ilmuwan sejati, Aditya dan Salma belum berani mengamini klaim tersebut. “Meskipun wawancara dengan masyarakat mengatakan ini Gedong Pusaka, tetapi sejauh ini kami belum menemukan pusaka di situs ini," ujar Aditya dengan nada hati-hati.
Ia memberikan catatan kritis. Secara tradisi keraton, gedung penyimpanan pusaka (seperti keris, tombak, hingga payung kebesaran) selalu berada di zona inti dalam keraton, dijaga ketat oleh abdi dalem khusus. Sementara lokasi Situs Gedong Pusaka berada cukup jauh di luar area benteng keraton (njeron beteng).
"Apakah pada masa lalu, kan pusaka itu kan termasuk payung juga, apakah ini tempat jamasan (pencucian pusaka) atau apa, kami belum bisa membuktikannya. Karena ini baru pertama kali, fokus kami sekarang ingin menampakkan struktur yang ada di sini itu untuk menjawab apakah ini benar Gedong Pusaka atau dulu itu ada fungsi lainnya,” tutur Aditya.
Peta Belanda yang menjadi rujukan awal pun tidak banyak membantu berbicara. Di peta kuno tersebut, lokasi ini hanya digambar sebagai kotak persegi tanpa anotasi atau keterangan nama bangunan. Ia hadir bak titik bisu di tengah lanskap.
Di sisi lain, mengacu pada tren arsitektur era Hamengku Buwono II, Aditya melontarkan hipotesis alternatif yang menarik. Masa itu adalah masa yang penuh gejolak politik, baik dengan pemerintah kolonial maupun dinamika internal. "Sejauh ini, tempat ini memang sebenarnya bukan pesanggrahan. Tetapi pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II dulu, pesanggrahan itu kan tidak hanya difungsikan sebagai tempat istirahat, tetapi juga sebagai pertahanan," sebut Aditya.
Secara geografis, Situs Gedong Pusaka berdiri di lokasi yang strategis. Ia berada di tengah-tengah dua pesanggrahan besar era HB II, yakni Pesanggrahan Rejawinangun (Warungboto) dan Pesanggrahan Purwareja.
“Pesanggrahan Purwareja letaknya itu di dekat JEC (Jogja Expo Center), bukan di tempat ini. Jadi ini masih misterius sebenarnya tempat ini," kata Aditya sambil menganalisis tata ruang wilayah. "Berhubung kemarin saya melihat petanya, ini ternyata di tengah-tengah... Nah apakah situs ini dulu itu sebagai tempat bertemu untuk ke pesanggrahan Purwareja atau Rejawinangun? Kami masih belum tahu. Tetapi ini memang tempatnya itu ada di antara (keduanya)."
Ada probabilitas bahwa bangunan ini merupakan pos peristirahatan sementara (transit), pos jaga, atau gardu pertahanan yang menghubungkan kompleks-kompleks pesanggrahan besar peninggalan Sultan.
Sembilan hari penggalian di bulan Juni 2026 belumlah cukup untuk mengurai seluruh misteri yang dipendam tanah Pringgolayan selama lebih dari dua abad. Tahap pertama ini sukses membuktikan eksistensi fisik bangunan, namun ruh dan fungsi sejatinya masih harus dicari.
Tim arkeolog menyadari bahwa kerja ekskavasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan rujukan filologis dan sastra kuno. “Kalau di Serat Rerenggan Kraton itu kan disebutkan bahwa pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II itu dibangun beberapa pesanggrahan. Nah itu mungkin bisa menjadi titik awal dalam menginterpretasikan juga," pungkas Aditya dengan penuh harap. Naskah-naskah kuno ini, yang mencatat detail pembangunan era raja, diharapkan memuat satu atau dua kalimat yang merujuk pada bangunan berbentuk persegi diantara Purwareja dan Rejawinangun ini.
Kini, kotak-kotak galian itu menjadi saksi bisu dedikasi para penjaga ingatan. Ke depannya, Aditya, Salma, dan seluruh tim Dinas Kebudayaan DIY menaruh harapan besar pada ekskavasi tahap-tahap berikutnya. Mereka menargetkan pelebaran area penggalian untuk menelusuri lantai yang hilang dan mencari sudut-sudut fondasi lainnya.
Situs Gedong Pusaka adalah pengingat yang elegan bagi kita hari ini. Bahwa di bawah jalanan yang kita lewati, di balik rumah-rumah padat penduduk masa kini, ada jaring-jaring sejarah peradaban yang pernah berjaya. Menggali Situs Gedong Pusaka bukan sekadar menyelamatkan tumpukan bata merah berbalut lepo, melainkan merawat memori, menyatukan kepingan identitas, dan memastikan bahwa cerita para pendahulu kita tidak selamanya terkubur dalam sunyi. (Dwi Agus W)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...